• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Sistem Intelijen Atom

Atom iStock/zoom-zoom

Oleh : Servas Pandur (Risk Consulting Group, Jakarta, 2017)

Apakah ada formula atau resep jitu, tepat, terarah dan terukur guna meraih ‘suatu masyarakat adil, beradab dan makmur sesuai amanat nilai-nilai Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 bagi rakyat, lingkungan/alam, pemerintahan dan negara Indonesia? Para ahli ekonomi, baik yang menerima Hadiah Nobel bidang ilmu ekonomi maupun yang belum menerima Hadiah Nobel bisa saja menjawab bahwa belum ada formula ilmu ekonomi satu-satunya untuk meraih sasaran masyarakat dan negara adil, damai, beradab, stabil dan makmur.
 
Sedangkan ahli fisika keuangan bisa saja menjawab bahwa ada formula fisika-ekonomi untuk dapat meraih sasaran itu. Sebab ilmu ekonomi dan statistik umumnya hanya memiliki data, tetapi sulit menyusun formula yang obyektif, dapat diuji secara empiris dan membuat prediksi. Sebagai salah satu contoh, tentu bukan kebetulan, bahwa selama era 1967-1998 khususnya, belum ada paradigma dan teori ekonomi yang ‘sukses’ diterapkan di Indonesia guna mengentaskan kemiskinan.
 
Padahal, selama era tersebut, di Indonesia sekurang-kurangnya terdapat 63 model program pengentasan kemiskinan yang melibatkan sedikitnya 20 lembaga pemerintah departemen, non-departemen, lembaga keuangan dari pemerintah Indonesia dan bekerjasama dengan yayasan-yayasan, swasta, konglomerat, Koperari Unit Desa (KUD), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), lembaga internasional seperti Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB), program pembangunan PBB (UNDP) dan UNHCR dari PBB.
 
Laporan riset dan pers memasuki tahun 2005, menyebutkan hampir 10 juta dari 228.437.870 (2001) penduduk Indonesia dilaporkan belum memiliki pekerjaan  (out of work), sekitar 35 juta penduduk bekerja kira-kira 35 jam per pekan, korupsi merajalela,  kekerasan berdarah masih sering terjadi,  sekitar 60 persen dari total penduduk hanya berpendidikan sekolah dasar, sektor kesehatan dan pendidikan dilaporkan paling buruk di antara negara-negara ASEAN, lebih dari separuh total penduduk  hidup dengan kurang dari dua dollar AS per hari, infrastruktur sangat minim.  

Kualitas SDM Indonesia paling rendah di antara 10 negara ASEAN.  Sekitar 1,5 juta ha areal hutan di Indonesia rusak, punah, dibabat setiap tahun. Laporan Polri tahun 2003, sekitar 8.761 orang tewas dan 13.941 lainnya luka-luka karena kecelakaan lalulintas. Perkiraan ADB, bahwa sekitar 30.464 orang tewas dan 2,55 juta lainnya luka-luka.   
 
Pertanyaannya, apakah fisika-ekonomi (baca: intelijen ekonomi) dapat  memberikan solusi dari sebagian masalah tersebut di atas? Tulisan ini hendak mengulas sekilas asal-usul fisika-keuangan (ekonomi) yakni intelijen atom dan aplikasinya selama ini pada berbagai bidang, seperti ekonomi, keuangan, pasar, teknologi dan ilmu pengetahuan. Fisika ekonomi atau fisika keuangan mula-mula lahir dan berkembang dari salah satu tradisi sistem intelijen tertua dunia di Yunani pada abad 3-5 Sebelum Masehi (SM).
 
Orang-orang Yunani sejak lama mengembangkan dan mempelajari rumus-rumus epistemologi seperti ‘tQ’ yang merupakan pengetahuan penentu bagi manusia—menentukan benar atau salah (logika), baik atau jahat (etika), indah atau jelek (estetika). Pelajaran ‘tQ’ ini melibatkan kemampuan mental seseorang di bidang penaralan (reason), membuat perencanaan (plan), memecahkan masalah (problem-solving), berpikir abstrak, memahami gagasan dan bahasa, serta kemampuan belajar. Hal-hal ini sangat mendasar bagi kemampuan intelijen seseorang.
 
 Intelijen Atom Epicurus cs
 
Filsuf Yunani seperti Plato dan Epicurus ratusan tahun Sebelum Masehi (SM) sama-sama mengakui suatu fakta di alam semesta : “Everything in the universe is moving”. Bahwa segala sesuatu di alam semesta ini senantiasa bergerak dan berubah. Keduanya juga meyakini adanya ‘hodos’—kata Yunani untuk melukiskan arah, gerakan dan perubahan segala sesuatu.
 
Tetapi, kedua filsuf itu belum sepakat untuk menjawab satu pertanyaan kunci. Yaitu apa atau siapa pemicu gerakan alam semesta, yang tidak digerakkan oleh apa-apa dan siapa-siapa. Apa atau siapapun itu tentulah: ‘prime mover’. Menurut Plato, ‘prime mover’ adalah ‘idea’. Sedangkan Epicurus dan rekan sealirannya menyebut ‘atom’. Yakni bahwa ‘matter’, sebagai entitas paling kecil dan sangat fundamental dari alam semesta atau fisika, terdiri dari partikel-partikel elementer dan mikroskopis yaitu ‘atom’. Sejak itulah, lahir konsep dan istilah ?τομον (atom). Sejak itu doktrin Atomisme dipelajari oleh filsuf Yunani Leucippus, Democritus, dan Epicurus.  Kata atom dari atomos = indivisible atau sesuatu yang tidak dapat dipecah lagi (paling kecil),  a = not atau negasi atau bukan, nomos = a cut atau pecahan, pembagian.

Leuccippus, Democritus, dan Epicurus begitu tergila-gila dengan gagasan dan temuannya tentang atom. Hampir segala hal hendak dipahami dan dijelaskan oleh kedua filsuf ini melalui teori pengetahuan atom. Sebagai contoh, eksistensi ‘evil’—sesuatu yang secara moral jahat. Dalam hirarki etika, ‘evil’ adalah sesuatu yang paling rendah, ‘fruitless’ (sia-sia dan fana), ‘death’ (mematikan). Menurut Plato, hanya ada satu cara manusia berbuat baik, dan sangat banyak cara manusia melakukan kejahatan (evil). Sedangkan Epicurus berpendapat bahwa eksistensi ‘evil’ bertentangan dengan eksistensi dari para dewa. Keduanya tidak dapat didamaikan karena lahir dari dua eksistensi berbeda. Paradoks Epicurus ini kemudian dikenal sebagai ‘riddle of Epicurus’ atau teka-teki Epicurus.   

Karena setiap partikel sekecil apapun memiliki nilai, bahkan sampai pada partikel mikroskopis seperti atom juga memiliki nilai bagi alam semesta, maka tentunya gagasan ini juga dapat diterapkan dalam pola hubungan kekuasaan antara manusia. Maka bagi Epicurus dan rekan-rekannya, tidak perlu dipertahankan pola hubungan kekuasaan seperti tuan dan hamba, raja dan rakyat, kaisar dan mereka yang diperintah (rakyat). Setiap orang memiliki nilai---kedudukan, hak, dan kewajiban yang setara. Itulah sebabnya, Epicurus menghapus perbudakan pada saat itu di lingkungan keluarga dan sosialnya di Yunani. Sebab menurut prinsip dan teori atom, setiap partikel memiliki kesetaraan (equality).

Babak berikutnya, teori pengetahuan dan paradgima atom ala Epicurus dan rekan-rekannya itu tidak hanya melahirkan ilham tentang kesetaraan sesama manusia, tetapi ilham dan rohnya berdampak lebih jauh dari itu hingga hari ini di seluruh dunia dan termasuk di Tanah Air. Misalnya, konsep dan paham demokrasi adalah anak kandung pertama dari teori atom di bidang pola hubungan kekuasaan manusia sejak abad ke-5 SM di Yunani.

Epicurus (Epikouros atau “'Eπ?κουρος dalam eja Yunani), lahir pada tahun 341 SM, dan meninggal tahun 270 SM di Athena. Hingga kini Epicurus diakui sebagai filsuf Yunani kuno dan pendiri aliran Epicureanisme, aliran filsafat sangat popular dalam filsafat Helenistik. Epicurus yang pernah menjalani latihan militer kala usianya 18 tahun, mendirikan sekolah ketika  berusia 32 tahun dan dapat mengumpulkan banyak murid. Epicurus mendirikan sekolahnya The Garden, nama taman miliknya yang merupakan paduan dari Stoa dan Academia dalam satu sekolah.

Aliran dan sekolah Epicurus meski kecil, namun diabdikan oleh Epicurus sepanjang hidupnya. Murid-muridnya pertama termasuk Hemarchus, ahli keuangan Idomeneus, Leonteus, dan isterinya Themista, dan satiris Colotes, matematikus Polyaenus, dan sangat terkenal dan popular yaitu Metrodorus.  

Ajaran Epicurus mewakili awal dari revolusi pemikiran kebanyakan filsuf abad itu di Yunani. Misalnya Epicurus menerima perempuan dan para hamba ke dalam sekolahnya dan menekankan pemahaman tentang epistomologi. Epicurus adalah orang pertama dari Yunani ‘mengakhiri’ ketakutan pada dewa dan tradisi menyembah dewa yang sangat umum pada masa itu di Yunani.

Epicurus sangat menekankan spirit pencarian, riset dan epistomologi bagi murid-muridnya. Epicurus membahas hak alamiah dari ‘human being’ (keberadaan manusia) terhadap “kehidupan, kebebasan, dan keselamatan—life, liberty, dan safety.” Gagasannya ini antara lain diambil oleh para pemikir demokrasi pada revolusi Perancis abad 17-18, antara lain oleh John Locke, yang menulis bahwa rakyat memiliki hak “life, liberty, dan property”. Tiga ajaran politik ini mengilhami gerakan kebebasan di AS dan Declaration of Independence, khususnya satu pendekar kebebasan AS, Thomas Jefferson tentang “life, liberty, dan the pursuit of happines.” Itulah warisan dari temuan awal teori dan paham atom Epicurus cs.

Sejarah kemudian mencatat meskipun teori dan paham atom dan demokrasi telah ditemukan di Yunani sekitar 500 tahun SM, tetapi kedua konsep ini praktis tenggelam dan seakan ‘lenyap’ sepanjang abad 5 SM sampai abad 18 M. Alasannya, pertama, ada kecemasan khususnya pada filsuf Plato dan muridnya Aristoteles, apakah demokrasi--δημοκρατ?α (demokratia), sebagai suatu pilihan dari rakyat atau δημος (demos), dan κρατειν (kratein)---memerintah, menguasai (to rule), dan sufiks ?α (ia), dapat melindungi dan mempromosi nilai-nilai dasar kemanusiaan, seperti perdamaian, keadilan, stabilitas (order), dan kejujuran?

Kedua, teori atom dicurigai dapat menjurus pada bidaah-intelektual yang menegasi eksistensi dan ‘kemahakuasaan’ para dewa. Misalnya ketika kaisar Konstantinus akhirnya menguasai Yunani, teori atom, olimpiade, dan sejenisnya dilarang dikembangkan. Olimpiade misalnya menerapkan teori dan konsep siklus waktu sekitar empat tahun. Hal ini dinilai bertentangan dengan kalender kekaisaran Konstantinus pada masa itu.   

Setelah Konstantinus menerima ajaran Kristen secara resmi, Epicureanisme mengalami kemerosotan sangat signifikan. Misalnya, teori Epicurus tentang dewa-dewa dinilai sangat bertentangan dengan paham ketuhanan dari Yahudi. Praktis ratusan tahun kemudian pemikiran Epicurus dan murid-muridnya diabaikan dan sulit bangkit dari kemerosotannya. Namun sejak akhir abad 17 – abad 19, atomisme kembali berkembang di kalangan ilmuwan Eropa Barat.

Misalnya Isaac Newton pada abad 17 mengakui bahwa entitas paling kecil dalam alam semesta (fisika) adalah partikel-partikel atom. Kemudian pada tahun 1802, John Dalton memastikan bahwa ‘Everything is made up of tiny atom’. Di sisi lain, dinamika atom sejak lama diyakini oleh segelintir orang dapat menjelaskan dinamika dan perubahan di alam semesta, termasuk ‘human system’ dapat dan bahkan sangat dipengaruhi oleh perilaku ‘matter’ dan ‘energy’.

Intelijen Titik, Angka, Dan Huruf (Konsonan)

Satu warisan penting dari intelijen atom Epicurus cs ialah intelijen titik, angka, dan konsonan. Dalam hal ini, murid Epicurus, Leucipus, dan Democritus seperti Polyaenus dan Metrodorus, telah menemukan tahap pemecahan zat berupa atom-atom. Yakni atom yang dibagi lagi, diurai dan kemudian diberi nilai—berupa huruf dan angka. Penguraian zat atau pemecahan atom ini kemudian diajarkan di sekolah-sekolah di seluruh dunia hingga hari ini, antara lain misalnya mengurai kimia air dalam angka dan huruf menjadi H2O.

Rumus dan persamaan pemecahan zat tersebut masih dikembangkan bahkan hingga hari ini. Misalnya, menelusuri muatan-muatan atom dan kemudian memecah atom untuk dapat menemukan jenis muatannya yang dapat saling bersenyawa atau saling menolak sesuai yang diinginkan. Jika senyawa akan menghasilkan apa? Jika saling-tolak akan menghasilkan apa?

Sebetulnya, bukan tulisan huruf pemecahan atomnya yang terpenting, tetapi bunyi hurufnya.  Sebab bunyi itu atau konsonannya yang dinilai. Bunyi pemecahan atom itu, misalnya, jika diucapkan secara sempurna, dapat menembus sampai pembelahan atom pada manusia atau alam. Hasilnya ialah reaksi alam dan manusia itu senyawa atau menolak. Karena itu, fisika atom berupa angka dan konsonan (bunyi) semacam ini antara lain dapat diaplikasikan dalam bidang fisika komunikasi, PR, kampanye politik, propaganda, dan sejenisnya.

Rumus angka dan konsonan (bunyi) semacam itu misalnya pernah diterapkan oleh Adolf Hitler, pemimpin Jerman, pada Perang Dunia II. Arsiteknya ialah Joseph Goebbels. Rumusnya ialah QO disilang ‘P’. Tujuannya, libido manusia yang lebih dieksploitasi untuk kebutuhan mobilisasi selama perang. Hasilnya, memang Jerman mencatat kemajuan ekonomi sangat pesat, zero pengangguran, Jerman unggul di bidang teknologi, militer, sains, dan mencatat disiplin nasional sangat tinggi. Berikutnya, Jerman masa itu juga mampu ‘mendikte’ sejumlah negara. Namun dampak negatif dan risikonya, sifat berutal, kekejian, sadis dari manusia lebih menonjol daripada akal sehat dan etika (tQ). Jerman terseret pada Perang Dunia II dan akhirnya kalah. Rumusnya ‘QO’ disilang “P” dihancurkan sampai hari ini.

Kembali ke topik warisan dari murid-murid Epicurus dan Leucipus Democritus. Salah satu istilah yang disebut-sebut untuk fase pemecahan atom masa itu ialah ‘crruus’. Istilah ini sama maknanya dengan satu istilah yang pernah berkembang di Timur Tengah yaitu ‘fayz nahu’. Yakni atom dipecah atau dibelah. Hasilnya berupa persamaan seperti akar 7 (tujuh) dibagi 2 (dua). Konon rumus ini ‘belum’ dirinci dan diaplikasikan oleh Polynaeus khususnya, karena pria anak satu ini keburu terserang kanker paru-paru dan kemudian meninggal.

Jika rumus ‘crruus’ dapat diaplikasi melalui teknologi, hasilnya ialah mengatasi dimensi ruang dan waktu. Atau kurang lebih, satu aplikasinya ialah teknologi yang menjawab sekaligus massa, zat dan second (waktu). Sekurang-kurangnya rumus ini juga dapat menjawab ‘misteri’ waktu, yang merupakan salah satu dimensi yang paling sulit dalam pembuatan suatu sistem.

Temuan persamaan dan rumus ‘crruus’ antara lain dimaksudkan untuk dapat menghitung siklus waktu secara tepat. Misalnya untuk aplikasinya di bidang teknologi luar angkasa, menghitung ketepatan waktu adalah yang paling sulit, kecuali jika telah menguasai massa, zat dan second. Dalam pembuatan sistem, dasar perhitungan waktu ialah waktu alam (pemecahan atom atau ‘crruus’), bukan waktu manusia yang ‘dapat” diputar mundur atau maju.

Contoh lain, begitu besarnya pengaruh waktu pada gerakan setiap partikel di alam semesta, termasuk pergerakan seseorang, arus uang palsu, maling sampai zat mikroskopis dan sejenisnya, sampai ada pengakuan dan keyakinan perihal ‘determinisme waktu’. Seperti Isaac Newton percaya pada determinisme waktu. Bahwa tanpa kita bekerja, bergerak, berpikir atau kegiatan apa saja, kita terus ‘diubah’ oleh waktu. Determinisme waktu ini kemudian dibantah oleh penerima Nobel bidang Fisika seperti Albert Einstein. Sebab manusia memiliki ‘kehendak bebas’ atau ‘free-will’ untuk membuat pilihan. Manusia tidak harus mengikuti saja dan tunduk saja pada siklus alam atau ‘hodos’ seperti keyakinan sejumlah filsuf Yunani Kuno. Karena itu, muncul konsep ‘spacetime’. Satu contoh rumus persamaan “crruus” ialah aplikasinya dalam pembuatan suatu sistem (ekonomi, politik) manusia—human system.  

Berdasarkan rumus ‘crruus’, suatu sistem manusia terdiri dari empat kompenen utama yakni waktu (1), zat (2), medan (3) dan manusia (4). Jika sistem itu melibatkan interaksi dengan manusia, maka komponen antaranya ialah informasi. Proses pemadatan energi akan mengikat ion. Kemudian tercipta interaksi kosmos, magnet, listrik yang menghasilkan aliran informasi bagi manusia. Manusia adalah penyaring (filter) dan pembagi (sharing) karena manusia memiliki ‘tQ’—pengetahuan penentu (benar atau salah/logika, baik atau buruk/etika, indah atau tidak indah/estetika), dan kehendak bebas seperti dikemukakan oleh Albert Einstein.

Selanjutnya, dalam pembuatan suatu sistem sesuai rumus ‘crruus’, zat-zat dipilah lagi menjadi zat yang ‘lebih sempurna’ berupa zat-zat atom tumbuhan dan kayu.  Mengapa kayu? Karena kayu tidak menimbulkan gelombang ke lingkungan sekitarnya (listrik dan magnetis atau isolasi sempurna) seperti halnya jenis zat besi. Kemudian ‘power’ masing-masing unsur alam dihubungkan melalui suatu sumbu horizontal dan vertikal untuk melacak dan menentukan arah dan kecepatan perubahan (hodos) dari setiap zat di alam semesta. Sumbunya merupakan ‘Q’ yang tidak lain dari patokan perhitungan arah, perubahan, waktu, kecepatan, future map, risk scenarios dan early warning system. Metode ini membantu manusia memetakan future-map sebelum mengenal teknologi seperti sekarang.

Dasar-dasar dari rumus intelijen angka, waktu, konsonan dan pemecahan zat seperti diuraikan di atas memasuki wilayah Nusantara—kini Republik Indonesia, sekitar paruhan abad 16 melalui Madagaskar. Namun dasar-dasar rumus tersebut lebih diterapkan untuk tujuan ‘spiritual exercise’. Sebab keteraturan dan disiplin hidup di biara-biara serta tuntutan untuk hidup selibat dan menjunjung tinggi kesucian lebih merupakan atmosfer dan lingkungan yang banyak mendukung setiap orang yang dapat menekuni rumus-rumus tersebut.  

Intelijen Sebagai Sistem

SISTEM (berasal dari kata Yunani sust?ma) terbentuk dari hasil pemadatan energi  yang mengikat ion-ion (berupa titik) yang menghasilkan senyawa dan saling-tolak sehingga terbentuk ruang dan waktu (time and space) dan adanya aliran inputs dan ouputs secara terbuka (opened-system) atau tertutup (closed-system). Sistem terbuka antara lain partai politik, organisasi, tata-negara, tata-ekonomi, proses politik, korporasi.

Filsafat (tQ = Pengetahuan Penentu) . Tahap awal pemahaman dan pengetahuan tentang sistem dirintis oleh sejumlah filsuf Yunani kuno seperti Socrates, Plato, Leucippus, Democritus, Epicurus, Aristoteles dan Zeno. Para filsuf ini, tanpa pembuktian empiris, umumnya meyakini bahwa “Everything in the universe is moving.” Namun, mereka berbeda dalam dua pemikiran tentang apa atau siapa penggerak awal dan arah dari semua perubahan dan pembentukan alam semesta. Plato, murid Socrates, dan Aristoteles (murid Plato) berbeda pandangan dengan Leucippus, Democritus dan Epicurus.

Plato (428/427 SM – 348/347 SM) adalah matematikus, filsuf klasik, penulis filsafat, logika, retorika, matematika   dan pendiri Academy di Athena. Bersama dengan mentornya, Socrates, dan muridnya, Aristoteles, Plato meletakkan dasar-dasar filsafat Barat sampai hari ini.   Plato melahirkan Theory of  Forms   bahwa dunia material (the material world) seperti yang tampak pada kita sebetulnya tidak nyata, tetapi hanya merupakan satu bayangan dunia nyata (a shadow of the real world). Plato menyebut ‘the forms’ adalah representasi abstrak atau achetypes dari banyak bentuk dan properti segala hal yang kita lihat di sekitar kita.

Intelijen Atom Filsuf Epicurus meyakini bahwa atom adalah kekuatan awal yang menimbulkan gerakan dan perubahan. Menurut  Epicurus (?π?κουρος, Epikouros, 341 - 270 SM),  peristiwa-peristiwa (events) di dunia ini bersumber pada gerakan-gerakan (the motions) dan interaksi-interaksi dari atom-atom yang sedang bergerak dalam ruang hampa (empty space).   Murid Epicirus ialah Hermarchus, ahi keuangan Idomeneus, Leonteus dan isterinya Themista, satiris Colotes, ahli matematika Polyaenus dan Metrodorus dari Lampsacus. 

Epicurus menganut aliran pemikiran Democritus. Bahwa konstituen fundamental alam semesta adalah atom, bit-bit yang kecil dan tidak dapat dipecah lagi yang bergerak melalui ruang kosong (khaos). Kata atom dari atomos = indivisible atau sesuatu yang tidak dapat dipecah lagi, sangat kecil dan sangat fundamental dari alam semesta serta terdiri dari partikel-partikel elementer,  a = negasi atau bukan, nomos =  pecahan dan pembagian.  

Bidang Strategi Hankam.  Salah satu turunan pengetahuan tentang pemecahan zat dari Epicurus, Polyaenus, dan Democritus ialah sistem cincin di bidang strategi. Sistem ini dimanfaatkan untuk mengelompokan rencana strategis agar memiliki : (a) dasar kuat, (b) tidak bias, (c) tidak tercampur dengan unsur-unsur lain, (d) terkontrol, dan (e) terarah atau terukur. Dalam pakteknya, sistem cincin ini berintikan sistem pertahanan guna membendung ekspansi negara-negara besar terhadap negara-negara kecil di Yunani pada era Sebelum Masehi dan era Masehi kerajaan-kerajaan di Timur Tengah.

Sains dan Sistem Politik Di bidang sains, teori fisika modern yang dikembangkan oleh ahli fisika quantum Albert Einstein abad 20 seperti halnya Epicurus mempostulatkan gerakan random non-determinis partikel-partikel fundamental (atom). Pengetahuan tentang sistem tersebut mulai diterapkan di bidang ilmu sosial melalui General System Theory yang dipionir oleh biolog asal Austria, Karl Ludwig von Bertalanffy (1902-1971). Komponen pokoknya ialah (1) Goal, (2) Input, (3) Process, (4) Output, (5) feed-back, (6) boundary, (7) Control, dan (8) ecology. Menurut Bertalanffy, teori sistem dapat diterapkan untuk memahami fakta-fakta dan perubahan sosial, politik, dan ekonomi. (Bertalanffy, General System Theory 1969, hal. 196). Pionir penerapan teori sistem di bidang politik dan pemerintahan antara lain dimulai oleh David Easton asal Kanada. (David Easton, The Political System, 1953).

Intelijen Keuangan

Prinsip, rule, dan teori fisika atom juga banyak dipakai di pasar uang, saham, komoditi, capital market, dan strategi moneter suatu negara. Contoh paling spektakuler ialah keberhasilan dari otoritas moneter AS sejak tahun 1987 hingga membawa kemenangan dan keunggulan AS di bidang moneter. Isu utamanya, seperti halnya tantangan Indonesia di bidang sosial-ekonomi, yakni pengangguran, krisis ekonomi, persaingan bisnis global, inflasi dan lemahnya pertumbuhan ekonomi.
 
Paradgima, strategi, pilihan taktis dan kebijakan otoritas moneter AS di bawah bank sentral, Federal Reserve (Fed), tidak hanya mengandalkan teori-teori ekonomi. Arsiteknya ialah Alan Greenspan, Gubernur Fed.   Secara ekonomi, arah kebijakan Fed ialah (1) stabilitas tata-keuangan AS, (2) memerangi inflasi, (3) mencapai ‘oasis of prosperity’ (pertumbuhan berkelanjutan untuk AS), (4) pasar harus taat azas (rule of law), (5) pasar bebas (kapitalisme global), (6) mencapai keseimbangan finansial domestik dan global, inflasi dan pertumbuhan. Keenam poin ini adalah panduan dasar Greenspan menaikkan atau menurunkan suku bunga Fed sejak tahun 1987.   
 
Alan Greenspan mempelajari dan menggunakan metode  fisika, matematika, filsafat, intelijen data, dan charts. Mata pelajaran itu sangat dikuasai oleh Alan Greenspan sejak tahun 1952. Ketika usianya masih 26 tahun, Greenspan fasih matematika. Apalagi, selama memimpin Fed sejak tahun 1987, Greenspan menggunakan metode matematika, fisika, intelijen data, dan charts untuk mengembangkan model dan skenario perekonomian AS dan global.

Setiap skenario dan model fisika dan matematika, mesti didukung oleh intelijen data. Misalnya, aliran pinjaman uang yang mencerminkan mobilitas penjualan rumah, tingkat suku bunga,  inventaris, komoditi seperti komputer, metal, minyak dan makanan. Untuk membuat suatu formula kebijakan, Alan Greenspan mengadopsi teknik ahli fisika seperti Albert Einstein. Yakni metode  ‘hunting for discrepancies’—melacak berbagai ketidaksesuaian sebagai kunci menemukan teori-teori ekonomi yang paling mendasar.

Manfaatnya, antara lain dialami oleh Greenspan, yaitu mendeduksi tambahan-tambahan produktivitas yang mungkin telah dilupakan oleh statistikus pemerintah selama bertahun-tahun. (Bod Woodward, 2000). Metode fisika keuangan memberi gambaran bagi Alan Greenspan bahwa banyak faktor penggerak perekonomian dunia selama ini. Bukan hanya kekuatan-kekuatan klasik, seperti konsumsi, pengeluaran pemerintah, investasi, keuntungan bisnis, tingkat suku bunga, pertumbuhan ekonomi, savings, angka pengangguran, dan inflasi. Kekuatan non-klasik penggerak perekonomian ialah waktu (spacetime), kehendak dan pilihan bebas (free-will) setiap orang, sifat masyarakat (nature of society), dan kekuasaan negara (the power of state).

Sedangkan dari sudut filsafat positivisme-logis, setiap kebijakan moneter hanya bermakna jika dapat diuji (verifiable). Secara filosofis, setiap pernyataan kebijakan dapat diverifikasi hanya (1) pernyataan-pernyataan empiris, seperti teori-teori ilmiah yang diverfikasi melalui eksperimen dan evidensi; (2) kebenaran analitis yakni pernyataan yang benar atau salah menurut definisi, sehingga bermakna.

Epistemologi fisika versi Leibnitz dan Isaac Newton sangat membangu tim Alan Greenspan mengembangkan kalkulus modern. Gottfried Wilhem von Leibnitz asal Jerman menyandang banyak pengakuan dan gelar, seperti filsuf, ilmuwan, ahli matematik, diplomat, lawyer, dan librarian. Namanya melambung karena menemukan konsep ‘fungsi’ pada tahun 1694. Teori pengetahuan Leibnitz dan Newton sangat diperlukan oleh otoritas moneter untuk mendeskripsikan jumlah, membuat kurva, slope kurva, kalkulus, integral, dan product rule.

Kemudian dari ilmu fisika, tim Alan Greenspan mengadopsi dasar-dasar mekanika matriks  yang dikembangkan oleh  Weiner Heisenberg asal Jerman pada tahun 1927. Heisenberg memformulasikan prinsip ketidakpastian (uncertainty principle). Dalam bidang ekonomi, prinsip ini menjamin fleksibilitas peraturan (rule of law) dan pasar, kontinuitas bisnis, dan predikabilitas tata-ekonomi. Prinsip ketidakpastian dari fisika quantum ini pula dipakai oleh spekulator pasar uang seperti George Soros untuk memperkirakan gerakan pasar uang, saham dan komoditi.

Substansi fisika quantum adalah pengakuan atas prinsip ketidakpastian atau indeterminasi. Bahwa perubahan bersifat konstan. Maka peraturan perudangan tidak bisa tetap (fixed) untuk selamanya. Karena masyarakat dan perekonomian terus berubah, maka rincian hukum bisnis, meski secara umum bukan prinsip-prinsip dasarnya (fundamental principles), perlu diubah.   

Penataan hal-hal tersebut di atas memberikan para pelaku ekonomi suatu ‘healthy balance’ antara kontinuitas dan predikabilitas serta fleksibilitas dalam merespons lingkungan masyarakat dan ekonomi yang terus berubah. Refleksi atas fleksibilitas, arah dan tekanan dari revisi legislatif selama beberapa generasi telah menjadi cermin dari perubahan struktur perekonomian dunia. Dalam beberapa dekade terakhir, misalnya, fraksi dari total output  perekonomian AS yang terlihat dalam GDP memperlihatkan tren, bahwa produk konseptual telah meningkat dibanding produk fisik.

Karena kebutuhan, tren itu telah menggeser tekanan dalam valuasi aset dari properti fisik menjadi properti intelektual dan hak-hak legalnya. Pergeseran itu mungkin saja tampaknya hanya glasial, dampaknya terhadap risiko ekonomi dan risiko hukum hanya pada awal saja dirasakan. Pergeseran valuasi aset dari materi-materi fisik ke ‘ideas’ (cipta) sebagai pencipta ‘the core of value’ tampaknya akan mengalami akselerasi pada dekade-dekade mendatang.

Berkali-kali Greenspan juga menyatakan bahwa masa datang sulit diketahui dan diidentifikasi. Hasil dan kemungkinan masa datang merupakan hal-hal yang perlu diragukan. Jika prinsip ketidakpastian itu diterapkan dalam pemahaman tentang pasar uang dan pasar saham. Artinya, teori atau pemikiran dapat mengubah situasi pasar dan atom pasar. Pasar adalah ‘a game of perception’ yang dinamis dan mengikuti harapan penjual dan pembeli.

Jika teori refleksitas pasar ini benar, maka sukses menghimpun kapital dengan meraih keuntungan dari selisih harga-harga komoditi, nilai tukar, saham di pasar, tidak harus identik dengan kebenaran. Dari sudut padang fisika quantum, seorang investor di pasar uang dan pasar saham diharapkan memakai prinsip ketidakpastian, bukan hanya lebih memperhatikan titik-titik keseimbangan harga-harga.

Fisika atom keuangan juga memiliki pemahaman khusus tentang siklus ekonomi. Misalnya, pada rapat FOMC tanggal 22 September tahun 1987 di Fed, Greenspan merumuskan arah siklus naik-turunnya bisnis sebagai teka-teki (puzzle). “Selalu ada hal yang berbeda. Sesuatu yang tidak sepenuhnya tampak seperti masa lalu. Tidak pernah ada hal yang identik. Setiap siklus naik-turun ekonomi itu selalu merupakan teka-teki,” kata Greenspan.  

Tentu tidak mudah menilai seberapa jauh ‘uncertainty principle’ mempengaruhi paradigma kebijakan Alan Greenspan. Hal ini bisa saja tersembunyi di balik retorika frasa, kata-kata, pidato, kutipan dan pernyataan Alan Greenspan. Misalnya, satu prinsip Greenspanology ialah suku bunga. Singkatnya, ‘It’s always about interest rate!” Namun Alan Greenspan disebut ‘hardly ever talks about interest rate’—hampir tidak pernah membicarakan suku bunga!   

Apa yang bisa kita saksikan ialah pengakuan Sicilia, sejarawan bisnis dan Cruikshank, konsultan komunikasi, telah meneliti strategi Alan Greenspan dan timnya, dengan memperhatikan gerakan-gerakan dari Dow Jones Industrial Average (DJIA) di hari-hari pidato-dipato Greenspan disampaikan.   Bahwa pidato dan kata-kata Alan Greenspan dapat menggerakan pasar di seluruh dunia.

Ketika terjadi krisis pasar tahun 1987, Greenspan menelpon jaringan keuangan AS. Misalnya jaringan bank regular seperti Citibank, bank investasi seperti Goldman Sachs, dan prusahaan broker saham seperti Merrill Lynch. Pembayaran dan kredit secara rutin terjadi di antara mereka. Hanya Bank Sentral AS cabang New York saja, mentransfer dana sekitar 1 (satu) triliun dollar per hari. Jika salah satu pihak dari mata rantai ini macet, maka seluruh sistem keuangan AS menjadi beku. Maka struktur keputusan Fed sangat bergantung pada model-model dan data Greenspan.    

Melihat cuplikan sisi keunggulan formula intelijen atom tersebut di atas, sudah tiba saatnya Indonesia menerapkan teori dan formula intelijen atom untuk mempercepat tercapainya pertumbuhan ekonomi, mengatasi pengangguran, menekan inflasi, dan menciptakan rakyat adil, makmur, sejahtera dan negara stabil. Saat ini, ada beberapa pakar Indonesia yang sangat menguasai bidang ini, meskipun penerapannya lebih difokuskan pada ‘spiritual exercise’. Tetapi, model dan formulanya dapat diterapkan guna meraih keunggulan teknologi, pemulihan dan keselamatan lingkungan, stabilitas, keadilan, dan rakyat makmur. ***

Risk Consulting Group, Jakarta

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita