• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Nilai Budaya, Religius dan Lingkungan Dari Hutan

European Pressphoto Agency/EPA, 19/602017 Lise Aserud

        Menurut riset Food and Agriculture Organiation(FAO) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sekitar 12.700 mil persegi hutan menyusut per tahun periode tahun 2010-2015. Untuk melindungi, menyehatkan dan melestarikan hutan dari risiko ancaman penebangan, kebakaran, pertambangan, dan pembukaan lahan pertanian, organisasi Oslo Interfaith Rainforest Initiative mengorganisir pertemuan perdana para wakil organisasi keagamaan seperti Katolik, Kristen, Muslim, Yahudi, Hindu, Budha, Tao, dan tokoh-tokoh adat dari berbagai negara pada 19-21 Juni 2017 di Oslo, Norwegia. Pertemuan ini juga antara lain dihadiri oleh Vicky Tauli-Corpuz, Special Rapporteur PBB untuk the Rights of Indigenous Peoples, Nanditha Krishna dari C. P. Ramaswami Aiyar Foundation dan Din Samsyudin dari forum lintas agama di Negara RI (CSM, 19/6/2017).

       Para peserta pertemuan ini menyerukan perlindungan hutan tropis khususnya sepanjang Amazon (Brazil), Indonesia, hingga lembah Kongo (Afrika). Kerusakan hutan tropis dilukiskan sebagai “bunuh diri kolektif umat manusia”. Karena hutan memiliki nilai dan manfaat lingkungan, budaya, ekonomi, dan religi. “Jika kita terus melakukan penggundulan hutan ini seperti bunuh diri,” kata Uskup Marcelo Sanchez Sorondo, Kepala Akademi Kepausan Vatikan (Alister Doyle/Reuters, 19/6/2017).

       Menteri lingkungan hidup Norwegia, Vidar Helgesen, mengatakan bahwa hutan adalah rumah dan sumber pendapatan bagi jutaan orang, serta habitat makhluk hidup dari harimau hingga burung Cendrawasih di Negara RI. Hutan hujan (rain forest) juga merupakan tempat penyimpanan karbon dioksida raksasa, gas rumah kaca utama dari pembakaran bahan bakar fosil (Christian Science Monitor, 19/6/2017). Pohon melepaskan gas saat membusuk atau dibakar untuk dijadikan lahan pertanian, seperti peternakan sapi atau kelapa sawit. (CSM, Reuters, EPA/SP).

Oleh Servas Pandur