• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


9.500 Tahun, Kucing Hidup Bersama Manusia.

       Kucing liar belajar hidup dan jinak di habitat manusia sejak manusia menanam dan merawat biji-bijian yang menarik bagi tikus dan kucing di zona Tigris dan Efrat (Laut Mediterania) sekitar 10 ribu tahun silam. Spesimen kucing ditemukan pada kuburan manusia sekitar 9.500 tahun silam di Siprus. Begitu hasil penelitian Claudio Ottoni, Wim Van Neer, dan Eva Maria Geigl yang dirilis oleh jurnal Nature Ecology & Evolution edisi Juni 2017.

      Claudio Ottoni et al (2017) meneliti dan analisis DNA sekitar 209 kucing purba era 9 ribu tahun silam di Eropa, Afrika, dan Asia, termasuk mumi kucing Mesir kuno. “Kucing adalah saksi langsung situasi masa lalu manusia,” kata Eva-Maria Geigl dari Jacques Monod Institute di Paris, Perancis. Sekitar 3.500 tahun silam, kucing hidup di rumah-rumah orang Mesir kuno. Dia dan rekannya juga meneliti persebaran penanda DNA 28 kucing liar modern dari Bulgaria dan Afrika timur.

       Sebagian besar penelitian itu meriset penyebaran kucing purba periode Mesolitik sampai abad ke-20 Masehi. Satu tanda gen sampel DNA ditemukan pertamakali di Asia (Turki) kira-kira dari era 6.000 tahun silam, 5.000 tahun lalu di Rumania, dan sekitar 3.000 tahun lalu di Yunani. Tanda genetik ke-2, pertama kali terlihat di Mesir, telah mencapai Eropa (Bulgaria) antara abad pertama dan ke-5 serta sampel abad ke-7 dari pelabuhan dagang Viking di Eropa utara, dan sampel abad ke-8 dari Iran. Penyebaran kucing di Mediterania mungkin karena kucing memangsa hewan pengerat dan hama lainnya di kapal-kapal. Semua kucing jinak dewasa ini diduga berasal-usul dari kucing liar Afrika, Felis silvestris lybica asal Afrika Utara dan Timur Tengah (Ian Sample/The Guardian, 27/6/2017). (The Guardian, Nature Ecology & Evolution/SP).

Penerbit


ECO-DEMOKRASI

Demokrasi yang terpimpin oleh hikmat kebijaksanaan dapat mengelola alam-alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa secara arif untuk kesejahteraan Rakyat dan sehat lestarinya ekosistem Negara, kecerdasan Bangsa, perlindungan segenap Bangsa dan seluruh tumpah darah dan ketertiban dunia berdasarkan keadilan, kemerdekaan, dan perdamaian. Rakyat tidak hanya berpartisipasi dalam Pemilu, tetapi juga berpartisipasi dalam antisipasi krisis dan tantangan masa datang. Dalam hal ini, upaya-upaya membangun Negara adalah setiap keputusan dan program kerja yang berkaitan dengan sesuatu yang benyawa yakni Rakyat, bumi, air, dan kekayaan alam. Maka sehat atau tidaknya suatu praktek demokrasi dapat diukur dari jejak-ekologisnya (ecological footprint) pada ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. ... Baca selanjutnya

img

Jurnal IPTEK

Berita