• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Perempuan : Perekat Cinta dan Tanggung Jawab Antar-Keluarga

Presiden Jokowi saat menerima kunjungan Ibu Negara Afghanistan di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa (2017/12/5). (Setkab RI/Agung)

       Presiden RI Joko Widodo menerima kunjungan Ibu Negara (First Lady) Afghanistan, Rula Ghani, di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa sore 5 Desember 2017. Ibu Negara Rula Ghani menyampaikan kepada Presiden RI Joko Widodo bahwa kelompok-kelompok organisasi perempuan banyak membantu perempuan di Negara RI dan ingin mempelajari program pemberdayaan (sosial-ekonomi) perempuan di dalam rumah dan luar rumah hingga tingkat desa di Negara RI serta Pancasila sebagai perekat Bangsa Indonesia yang terdiri dari 1.340 suku yang tersebar pada 34 provinsi Negara RI (Humas Setkab RI, 2017). Ibu Negara Rula Ghani hendak membangun masyarakat damai berbasis pemberdayaan perempuan.

       Selama ini, pada tingkat desa di 17.000 lebih pulau Negara RI, program-program dan upaya pemberdayaan perempuan dan partisipasi perempuan dalam pembangunan masyarakat di bidang sosial-ekonomi, termasuk menciptakan masyarakat adil, damai, dan sejahtera, dan pemulihan ekosistem, mungkin terkendala praktek adat-istiadat. Misalnya, belis (mahar)  “mahal” sebelum pernikahan berupa gading atau duit ratusan juta untuk keluarga perempuan di sejumlah daerah miskin, dapat memicu risiko sosial-ekonomi. 

      Praktek belis mahal tersebut dapat berisiko merendahkan harkat dan martabat perempuan. Karena perempuan seakan-akan dijadikan “komoditi ekonomi” dalam pola hubungan sosial-masyarakat. Untuk mencegah risiko sosial-ekonomi dari praktek nilai belis tinggi atau mahal semacam ini, menurut Dr. Domi Saku, tokoh adat dan tokoh agama perlu melakukan pendidikan hidup sederhana bagi masyarakat. Tokoh-tokoh adat, tokoh agama, lembaga adat, dan pemerintah perlu memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa belis merupakan tradisi simbol dan ungkapan tanggung jawab dan hubungan cinta antara keluarga-keluarga di dalam masyarakat, bukan peluang ekonomi untuk meraup untung. Belis mesti dipahami dan dipraktekkan sebagai social-capital berupa rekatan perdamaian, kasih, dan tanggung jawab dalam keluarga-keluarga di masyarakat. 

    

Oleh Alfens Alwino