• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Daya Tahan Hutan Terus Merosot Akibat Kebakaran & Pemanasan Global

(Sumber:www.bio.brandeis.edu, 2005) (Camile Stevens –Rumann, 2017),

       Dari hasil riset sekitar 1.500 lokasi hutan negara bagian Colorado, Wyoming, Washington, Idaho, dan Montana di Amerika Serikat, para peneliti asal Colorado State University (Amerika Serikat) menemukan bahwa daya tahan hutan merosot ketika mengadapi kebakaran hutan dan perubahan iklim awal abad 21. Para ahli itu juga meneliti lebih dari 63.000 bibit pohon usai kebakaran hutan melanda hutan Rocky Mountain, Amerika Serikat. Regenerasi pohon terus merosot pasca kebakaran hutan. Ini merupakan indikator utama ketahanan hutan selama periode iklim sangat panas dan musim kemarau ekstrim akhir abad 20 dan awal abad 21. Akibat iklim panas, daya tahan hutan sangat merosot pasca kebakaran.  
“We often talk about climate change and how it will affect us in the future, but the truth is we are already seeing those changes. Disturbances like wildfires are a catalyst for change. In many places, forests are not coming back after fires. What we've found is dramatic, even in the relatively short 23-year study period,” papar  Camille Stevens-Rumann, asisten profesor pada Department of Forest and Rangeland Stewardship, Colorado State University (Colorado State University, 2017).  

       Selama ini, hutan memang terus tumbuh dan berubah dari waktu ke waktu. Namun, tim peneliti asal Colorado State University menemukan bahwa pasca kebakaran hutan, hutan hutan situs itu sangat sulit untuk regenerasi. Misalnya, pada sepertiga wilayah yang diteliti, peneliti tidak menemukan bibit pohon tumbuh dan terjadi defisit air. Situs yang paling parah terkena adalah hutan terkena dampak paling hangat dan paling kering, dan kebakaran yang sangat hebat. Riset ini melibatkan ahli kehutanan seperti Camile S. Stevens-Rumann, Kerry B. Kemp, Philip E. Higuera, Brian J. Harvey, Monica T. Rother, Daniel C. Donato, Penelope Morgan, dan Thomas T. Veblen dari berbagai lembaga seperti  University of Idaho, The Nature Conservancy, University of Montana, University of Washington, University of Colorado-Boulder, Tall Timbers Research Station and Land Conservancy, dan Washington State Department of Natural Resources (Ecology Letters, 12/12/2017/SP). 

Oleh Servas Pandur

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita