• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Cara Otak Memilih Bunyi Melalui Telinga

Gambar peta korteks otak yang menyeleksi frekuensi dan perhatian suara atau bunyi (Carnegie Mellon University, 2017)

Bagaimana cara otak menyeleksi bunyi yang masuk melalui telinga? Tim ahli dari Carnegie Mellon University dan Birkbeck University of London, Inggris, menemukan cara otak memilih bunyi apa yang harus didengar oleh telinga dan bunyi atau suara-suara apa yang mesti ditolak. Para ahli menggunakan eksperimen khusus mengetahui, cara otak menyeleksi bunyi atau suara apa yang harus didengar oleh telinga. Sehingga meskipun di suatu cafe atau pentas musik, misalnya, banyak suara riuh, namun otak dapat memilah bunyi atau suara apa yang harus didengar oleh telinga. Hasil riset ini dirilis oleh jurnal Journal of Neuroscience edisi Desember 2017.

Hasil riset ini menawarkan banyak manfaat seperti riset tentang kemerosotan pendengaran, penuaan, penyakit atau trauma otak, dan sejenisnya melalui intervensi klinis, seperti pelatihan-pelatihan tertentu untuk memulihkan perhatian pendengaran pasien. Para ahli meneliti 8 otak orang dewasa yang merespons pendengaran serangkaian ton melodi pendek dan mengabaikan bunyi nada lainnya (Carnegie Mellon University, 11/12/2017).

Perhatian kepada rangkaian nada melodi mengubah aktivasi otak. Peneliti menempatkan informasi bunyi pada permukaan (cortex) otak. Cortex berisi banyak peta “tonotopic” gelombang bunyi. Masing-masing peta mewakili gelombang seperti displei radio tua dari gelombang rendah hingga gelombang tinggi. Peta ini ditempatkan bersama-sama pada puncak lobus temporal otak. Jika seseorang dalam pemindai MRI mendengar melodi-melodi itu pada frekwensi-frekwensi berbeda, bagian pemetaan gelombang otak menjadi aktif. Hasilnya, perhatian pada gelombang-gelombang itu mengaktifkan kerja cortex otak, tempat suara tiba dan diproses oleh otak manusia (Science Newsline, 11/12/2017).

“Deficits in auditory selective attention can happen for many reasons--concussion, stroke, autism or even healthy aging. They are also associated with social isolation, depression, cognitive dysfunction and lower work force participation. Now, we have a clearer understanding of the cognitive and neural mechanisms responsible for how the brain can select what to listen to," papar Lori Holt, profesor psikologi pada Dietrich College of Humanities and Social Sciences (Carnegie Mellon University/CMU) dan anggota Center for the Neural Basis of Cognition (CNBC).

(Staging-Point.com/2017/12/14)

 

Oleh Servas Pandur

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita