• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Pilihan Regasifikasi Di Darat

         Produk-produk industri dari Negara RI, khususnya industri keramik, tekstil, petrokimia (pemasok bahan baku bagi manufaktur hilir seperti industri plastik, tekstil, cat, kosmetika dan farmasi), pupuk, baja, dan sektor lain yang banyak menggunakan gas, berisiko kalah bersaing karena mahalnya harga gas. Harga gas di Negara RI mencapai level tertinggi sekitar 9,5 dollar AS/mmbtu (Million British Thermal Units/BTU) – 11 atau 12 dollar AS/mmbtu. Harga gas di Vietnam hanya 7 dollar AS, Malaysia 4 dollar AS, dan Singapura 4 dollar AS.

        Solusinya, menurut Presiden RI Joko Widodo, ialah penyederhanaan dan pemangkasan mata-rantai pasokan gas agar lebih efisien dengan target harga gas 5-6 dollar AS/ mmbtu. Arah kebijakan ini dirilis oleh Presiden RI Joko Widodo pada Rapat Terbatas Kebijakan Penetapan Harga Gas Untuk Industri, di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa siang  4 Oktober 2016 (Setkab RI, 4/10/2016).

       Untuk melayani pasokan gas dalam negeri seperti Perusahan Listrik Negara (PLN) di Jawa Barat, sejak Mei 2012, pertamakali di Indonesia, PT Nusantara Regas mengoperasikan regasifikasi dan terminal LNG terapung (Floating Storage and Regasification Unit/FSRU) (Nusantara Regas, 4/12/2012). Pada September 2017, PT Nusantara Regas  (patungan 60% saham milik PT Pertamina dan 40% milik PT Perusahaan Gas Negara, Tbk) membangun fasilitas penyaluran gas kapasitas 135 juta kaki kubik per hari (MMscfd).

        FSRU dipionir oleh El Paso dan Excelerate Energy yang membangun FSRU vessel proyek Gulf Gateway tahun 2001. Hasil riset Brian Songhurst dari The Oxford Institute for Energy Study (2017) dan Teddy Kott & Akos Losz dari The Center on Global Policy Energy (2017) menemukan bahwa selama 16 tahun terakhir, lonjakan FSRU terjadi karena investasi murah, skedul lebih cepat, komersil fleksibel, dan penggunaan-ulang aset, jika dibanding dengan terminal darat, yang sulit direlokasi dan berisiko terhadap lingkungan.

  

Bagan Aliran FSRU (Brian Songhurst, 2017)

      Namun, menurut Dr. Hanggono Tjahjo Nugroho bahwa Singapura, Australia, dan Jepang, membangun terminal regasifikasi permanen di darat. “Pilihan floating, jika penggunaan gas hanya 1-5 tahun. Untuk jangka panjang, FSRU mahal, karena menyewa kapal tanker menyimpan tanki regas. Storage pindah, jika pembangkit listriknya pindah. Maka untuk kebutuhan permanen, fasilitas regasifikasi perlu dibangun di darat untuk pasokan gas PLN Jawa Barat,” papar Hanggono, alumus S3 IPB dengan disertasi Kebijakan BBM Subsidi dan Penetapan Harga Gas, kepada Staging Point. Com Rabu (22/11/2017) di Jakarta.

         Pembangunan fasilitas regasifikasi di darat dapat menciptakan manfaat sosial dan ekonomi bagi Rakyat dengan tetap beroperasi ramah-lingkungan. Untuk melayani kebutuhan gas jangka panjang, misalnya, Argentina membangun fasilitas regasifikasi di darat (A.A. D’alessandro et al / Science Direct, 29/4/2016), selain regasifikasi melalui STS (ship-to-ship operation) jangka pendek (Iribarren et al, 2010). (EBR).

 

 

 

 

 

 

Oleh Eko Budi Raharto

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita