• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


‘Kango’ Bayi, Bantu Selaraskan Gelombang Otak Bayi-Ibu

Lucy Kivlin dan bayinya, Ginny, di Baby-LINC Lab (University of Cambridge, 2017/SP). (University of Cambridge, 2017/SP).

        Kontak mata dan dialog dengan bayi Anda (kango), membantu penyelarasan otak Anda dengan otak sang bayi. Begitu hasil riset ahli di Baby-LINC Lab, Cambridge University, Inggris, yang dirilis oleh jurnal Proceedings of National Academy of Sciences (PNAS) awal Desember 2017. Para ahli Baby-LINC Lab meneliti pengaruh kontak mata bayi dan ibunya terhadap penyelarasan gelombang otak keduanya.

        Ahli di Baby-LINC Lab meneliti pola gelombang otak 36 bayi—17 bayi uji-coba awal dan 19 bayi uji-coba kedua) dengan electroencephalography (EEG), alat pengukur pola kegiatan listrik otak (brain electrical activity) melalui elektroda-elektroda dalam sebuah “topi helm” yang dikenakan oleh peserta penelitian. Para ahli membandingkan kegiatan gelombang otak bayi dengan gelombang otak ibunya yang melantunkan sajak-sajak lagu dan kontak mata dengan sang bayi (kango).

       Pada eksperimen awal, bayinya memperhatikan sebuah video sang ibu saat melantunkan sajak lagu. Hasilnya, sang ibu yang pola gelombang otaknya telah direkam, melakukan kontak mata langsung dengan bayinya. Kemudian sang ibu mengalihkan tatapan mata sambil melantunkan sajak-sajak lagunya. Akhirnya, sang ibu menjauhkan kepalanya, tapi matanya tetap menatap langsung ke sang bayi (Cambridge University, 2017).

      Hasilnya, para peneliti menemukan bahwa gelombang-gelombang otak sang bayi lebih selaras dengan gelombang otak sang ibu saat mata sang ibu dan sang bayi saling kontak atau bertatapan (kango), jika dibandingkan dengan saat mata sang ibu beralih dari tatapan ke mata sang bayi. Penyelarasan otak sang bayi-ibunya sangat tinggi justru terjadi saat kepala sang ibu menjauh dari wajah bayi, namun matanya masih menatap langsung ke mata sang bayi.

       Uji-coba kedua, ibu menggantikan videonya. Ia menatap langsung ke bayi atau mengalihkan wajah dari bayi sambil melantunkan sajak-sajak lagu. Otak keduanya dipantau. Hasilnya, terjadi penyelarasan gelombang otak bayi dan ibunya saat kontak mata keduanya terjadi. Jadi, penyelarasan gelombang otak sang bayi dan ibunya bukan karena saling menatap wajah, tetapi keduanya berbagi perhatian—suara atau gambar--dan kontak mata (kango).

       “When the adult and infant are looking at each other, they are signalling their availability and intention to communicate with each other. We found that both adult and infant brains respond to a gaze signal by becoming more in sync with their partner. This mechanism could prepare parents and babies to communicate, by synchronising when to speak and when to listen, which would also make learning more effective," papar ketua tim peneliti Baby-LINC Lab, Dr Victoria Leong, psikolog asal Nanyang Technological University, Singapura.

       “In this study, we were looking at whether infants can synchronise their brains to someone else, just as adults can....Our findings suggested eye gaze and vocalisations may both, somehow, play a role. But the brain synchrony we were observing was at such high time-scales - of three to nine oscillations per second - that we still need to figure out how exactly eye gaze and vocalisations create it,” jelas Dr Sam Wass, peneliti pada Baby-LINC Lab, Cambridge University.

       Gelombang otak mencerminkan kegiatan jutaan syaraf otak yang terlibat dalam transfer informasi antara sekat-sekat otak manusia. Selama ini, berbagai studi menemukan bahwa komunikasi lebih berhasil saat dua orang dewasa bercakap-cakap satu-sama lain, jika gelombang-gelombang otaknya selaras. Biaya riset ahli pada Baby-LINC Lab, Cambridge University, berasal dari ESRC Transformative Research Grant dan £3,995 hibah dari Cambridge Neuroscience dan Cambridge Language Sciences, Cambridge University.

 

Oleh Servas Pandur

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita