• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Transformasi Ekonomi RI

Komarudin Watubun

        Basis tata-ekonomi Negara RI, menurut Presiden RI Joko Widodo, perlu digeser dari basis konsumsi ke investasi. Alasannya, menurut Presiden RI Joko Widodo, pada acara  Sarasehan Kedua 100 Ekonom Indonesia, Selasa pagi 12 Desember 2012, di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, yaitu (1) ekonomi Negara RI lebih produktif; (2) memberi efek ganda. Misalnya, pengembangan industri manufaktur  non-migas berbahan baku sumber daya alam seperti industri kimia dasar, industri logam, harus menyerap lapangan kerja, mengurangi ketimpangan dan mengentaskan kemiskinan (Setkab RI, 12/12/2017).

        Pemerintah RI pernah terjebak pada “residu pertumbuhan” ekonomi. Bank Dunia (1993:1-2) merilis riset dan kajian bahwa pertumbuhan ekonomi Asia sebagai keajaiban ekonomi (East Asian Miracle). Akumulasi kapital fisik, SDM dan produktivitas naik. Maka model kebijakan ekonomi ini—Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Malaysia, Singapura, dan Thailand misalnya--layak dijadikan model dunia.

        Ketika itu, ekonom Joseph Eugene Stiglitz (1996), penasihat ekonomi Presiden Amerika Serikat Bill Clinton, merilis data ekonometrik dan teori keajaiban pertumbuhan ekonomi Asia Timur-Tenggara itu. Maka layak dijiplak sebagai model kebijakan ekonomi (Stiglitz, 1996: 151-177). Namun, ekonom Alwyn Young et al (1995) dan Paul R. Krugman (1994) meragukan keajaiban itu. Alasannya, betul ada kenaikan penyerapan lapangan kerja dan modal fisik, tetapi bukan lonjakan total faktor produksi. Maka pertumbuhan itu hanya mitos dan residu sehingga tidak lestari dan sulit memperbaiki keadaan sosial-ekonomi Rakyat.

        Ekonomi Negara RI, Thailand, Malaysia, dan Korea Selatan terpukul krisis keuangan tahun 1997-1999. Tata-ekonomi Negara RI yang tumbuh sekitar 7% tahun 1985-1995, babak belur akibat tekanan krisis nilai tukar. PDB anjok 13,7% tahun 1997. Inflasi meroket 75% tahun 1997. Utang Negara membengkak hingga 90% dari PDB tahun 1999. Penyehatan perbankan nasional melalui Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) dan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dan paket rekapitalisasi menelan biaya ratusan triliun rupiah (IMF, 2003).

        Kini dan ke depan, transformasi tata-ekonomi Negara RI harus berbasis penguatan investasi modal dasar yang melahirkan pembangunan berkelanjutan (sehat-lestari ekosistem dan cerdas-sehat-sejahtera Rakyat), yakni financial capital, real capitalhuman resourcesnatural capitalinstitutional capital, dan stock of technological knowledge (Moe, 2010:7-12). Ini formula dasar transformasi ekonomi Norwegia, Jepang, Swedia, dan Finlandia selama ini. Sehingga resource-driven economy ditransformasi ke knowledge-driven-economy

Oleh Komarudin Watubun

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita