• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Pendidikan Pancasila Sejak Dini

Komarudin Watubun

         Negara-Bangsa Republik Indonesia (RI) adalah negara besar, majemuk, dan tetap kokoh bersatu padu karena memiliki Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Karena itu, menurut Presiden RI Joko Widodo Pembukaan Simposium Nasional Kebudayaan Tahun 2017, Senin 20 November 2017 di Ballroom Raflesia Gedung Balai Kartini, Jakarta Selatan, nilai-nilai keIndonesiaan, kesopanan, kesantunan, semua nilai yang terkandung dalam ideologi Pancasila harus terus disampaikan kepada anak-anak, bagaimana mengenai kerukunan, persaudaran, dan toleransi (Setkab RI, 20/11/2017).

        Negara-Bangsa RI merupakan negara besar dengan 17.000 pulau, lebih dari 714 bahasa, 1.100 bahasa daerah, 516 Kabupaten/kota, dan 34 Provinsi dan 1.340 suku. Kini tradisi, nilai-nilai, dan budaya Bangsa Indonesia menghadapi gelombang perubahan alam dan zaman yang begitu cepat melalui mobile Internet, artificial intelligence, bio-teknologi, digital ekonomi, robot, dan sejenisnya. Kini ahli-ahli di Amerika Serikat, misalnya, mengembangkan riset bakteri yang dapat menggerakan robot-robot. Selama ini, sekilas dasar dan arah perubahan Amerika Serikat digerakan oleh revolusi sains, teknologi, dan atom.

        Lebih dari 50 tahun silam, Presiden pertama RI, Ir. Soekarno (1960) mengingatkan bahwa “Kita hidup dalam zaman pembangunan Bangsa. Kenyataan ini jauh lebih penting daripada senjata-senjata nuklir.” Karena itu, UU No. 31/1964, sangat tegas menyatakan bahwa “Hukum nasional tentang tenaga atom harus mewujudkan penjelmaan dari pada Pancasila.” Bangsa Indonesia telah memiliki patokan sebagai dasar dan arah perubahan dalam kehidupan berbangsa, bermasyarakat, dan bernegara, yakni Pancasila.

        Maka pembentukan karakter Bangsa harus dimulai dari penjelmaan atau perwujudan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Revolusi sains, teknologi, dan atom harus dapat mewujudkan nilai-nilai Pancasila. Hal ini perlu dilakukan sejak dini yakni pendidikan anak usia dini (PAUD) dalam hal kesopanan, tata-kerama, budi-pekerti, dan lain-lain yang merupakan nilai luhur Bangsa Indonesia selama ratusan bahkan ribuan tahun. 

Komarudin Watubun

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita