• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Perkiraan Panas-Lembab Bumi Tahun 2070-2080

Gelombang panas dapat menyengat di berbagai zona, ketika iklim planet bumi semakin panas. Namun, proyeksi ini sekilas mengabaikan faktor risiko kelembaban (humidity) yang dapat memperbesar efek panas. Begitu hasil studi Radley Horton, ahli iklim pada Lamont-Doherty, Alex de Sherbinin dari Center for International Earth Science Information Network (Columbia University), dan Ethan Coffel, PhD dari Lamont-Doherty Earth Observatory, Columbia University, Amerika Serikat yang dirilis jurnal Environmental Research Letters akhir Desember 2017 (Earth Institute, Columbia University, 22/12/2017).

Para peneliti memetakan suhu “wet bulb” (efek panas-lembab atau wet-bulb temperature) saat ini dan proyeksinya dengan memakai model-model iklim global. Caranya, bola termometer dililit atau ditutup dengan satu kain penuh air yang tidak berhubungan langsung dengan suhu udara. Hasilnya, “wet-bulb” terjadi berkali-kali tiap tahun pada 2070-2080, yang sekarang hanya terjadi sekali setahun (100-250 hari) di beberapa daerah tropis. Awal abad 21, suhu “wet-bulb” terjadi pada kisaran 29-30 derajat Celsius di tenggara Amerika Serikat (Ethan D Coffel, et al, 2018). Namun, skenario risiko ini mungkin tidak terjadi, jika upaya mitigasi pemanasan global berhasil di berbagai negara sejak awal abad 21. 

Eksperimen lab itu menunjukkan angka-angka “wet-bulb” 32 derajat Celsius atau 95 derajat Fahrenheit (wet-bulb temperature). Level ini sangat jarang terjadi di berbagai zona bumi saat ini, kecuali di zona Bandar Mahshahr (Iran) pada 31 Juli 2015. Namun, studi itu memproyeksikan bahwa tahun 2070-2080, kira-kira satu atau dua hari per tahun terjadi di tenggara Amerika Serikat, 3-5 hari di Amerika Selatan, Afrika, India, dan Tiongkok. “Lots of people would crumble well before you reach wet-bulb temperatures of 32 C, or anything close," papar Radley Horton (Earth Institute, 2017)

Dampak kelembaban dapat merapuhkan kemampuan manusia bekerja, atau bahkan bertahan hidup. Karena manusia dan mamalia lainnya mendinginkan tubuh dengan berkeringat; keringat menguap dari kulit ke udara, mengambil kelebihan panasnya. Siklus ini bekerja di padang pasir. Namun, jika udara sangat lembab, penguapan dari kulit melambat, maka panasnya akan sangat menyengat. Daerah-daerah yang berisiko kelembaban yakni tenggara Amerika Serikat, Amazon, barat dan tengah Afrika, zona selatan semenanjung Timur Tengah dan Arab, India utara dan zona timur Tiongkok (Environmental Research Letters, 2018).

“The conditions we're talking about basically never occur now--people in most places have never experienced them. But they're projected to occur close to the end of the century,” papar peneliti utama Ethan Coffel dari Lamont-Doherty Earth Observatory, Columbia University (Earth Institute, 22/12/2017). Lamont-Doherty Earth Observatory, anggota Earth Institute, meriset dan mengkaji sains planet bumi di Columbia University, Amerika Serikat, dengan mengembangkan pengetahuan dasar tentang asal-usul, evolusi dan masa depan alam, bumi, atmosfer, laut atau air, dan pulau-benua. 

Oleh Servas Pandur

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita