• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Pemanasan Global Picu Migrasi ke Uni-Eropa

Gelombang migrasi sekitar 351 ribu orang per tahun dari 103 negara ke Uni Eropa tahun 2000-2014 berhubungan dengan anomali pemanasan global. Akhir abad 20, ketika skenario pemanasan global masih lamban dan emisi gas rumah kaca rendah, permohonan migrasi ke Uni Eropa meningkat 28%. Jumlah ini dapat meningkat 188%, jika emisi gas rumah kaca dan glombang panas bumi meningkat. Begitu hasil riset Anouch Missirian dan Wolfram Schlenker dari American Association for the Advancement of Science yang dirilis 21 Desember 2017 (Columbia University, 2017).

Wolfram Schlenker, ahli ekonomi School of International and Public Affairs (SIPA), Columbia University dan Profesor pada Earth Institute, dan Anouch Missirian, kandidat doktor SIPA (Amerika Serikat), meneliti data aplikasi migran dari 103 negara ke Uni Eropa dengan data lingkungan 103 negara tersebut tahun 2000-2014 yang disesuaikan dengan faktor lain seperti konflik dalam negeri. Jadi, perubahan iklim dan risiko pemanasan global di sejumlah negara memicu lonjakan migrasi warga dari sejumlah negara dengan suhu rata-rata 20 derajat Celsius ke Uni Eropa sejak akhir abad 20 hingg awal abad 21 (American Association for the Advancement of Science, 21/12/2017).

Sedangkan warga dari negara-negara dengan suhu dingin kurang mencari suaka dan zona migrasi ke Uni Eropa. Secara umum, periode 2000-2104, kenaikan sehu sekitar 2,6 – 4,8 derajat Celsius pada sejumlah negara, disertai oleh tren kenaikan sekitar 660 ribu tambahan aplikasi pencarian suaka atau zona migrasi ke Uni Eropa per tahun. Selama ini, anomali dan fluktuasi cuaca mempengaruhi sektor pertanian, perkebunan, kelautan, dan perikanan berbagai negara yang berdampak terhadap kinerja ekonominya. Faktor ini menjadi alasan ekonomi pencari suaka dan migrasi ke Uni Eropa sejak akhir abad 20 hingga awal abad 21.

 Jika emisi karbon tetap meningkat atau pemanasan global dan perubahan iklim tanpa kendali dan mitigasi, maka permintaan migrasi ke Uni Eropa bakal tiga kali lipat setiap 15 tahun ke depan hingga tahun 2100. Hasil riset ini dirilis oleh jurnal Science edisi 21 Desember 2017.

“Europe is already conflicted about how many refugees to admit. Though poorer countries in hotter regions are most vulnerable to climate change, our findings highlight the extent to which countries are interlinked, and Europe will see increasing numbers of desperate people fleeing their home countries,” papar Wolfram Schlenker (Science Daily, 21/12/2017).

(Staging-Point.com/2017/12/29)

 

Oleh Servas Pandur

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita