• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Presiden RI Joko Widodo Di Nabire - Provinsi Papua

Oleh Komarudin Watubun

Rabu (20/12/2017) siang, Presiden RI Joko Widodo berkunjung ke Kabupaten Nabire, Provinsi Papua, untuk meninjau lahan Bandara Udara Douw Aturure di pusat kota Nabire. Bandara ini dapat  menjadi penghubung antar-kabupaten dan wilayah sekitar yaitu Paniai, Dogiyai, Diyai, Intan Jaya, Puncak Jaya, Puncak, Waropen, Wondama dan Kaimana. Luas bandara Douw Aturure berkisar 400 ha dan kapasitas 15 ribu penumpang dengan runway 2.400 m sehingga pesawat ukuran besar dapat mendarat di Bandara Udara Douw Aturure.

Tahap awal Pemerintah membangun terminal penumpang seluas 8.000 m2 dan tahap berikutnya  15.000 m2. Presiden RI Joko Widodo berharap pembangunan bandara itu tidak hanya menjadi infrastuktur dasar perhubungan antar-wilayah di Provinsi Papua, tetapi juga pengembangan potensi wisata Kabupaten Nabire dan Provinsi Papua umumnya. (Setkab RI, 20/12/2017).

Kini berbagai negara berupaya mengembangkan sektor pariwisata melalui pembangunan infrastruktur dasar seperti bandara, jalan, dan jembatan. Kita dapat belajar dari pengalaman Republik Mauritius dengan luas lahan sekitar 1.860 km2 dan zona seluas 2.000 km pantai tenggara Afrika. Lebih dari 150 km pantai pasir putih dan lagunanya terlindung dari laut terbuka coral-reef (karang) terbesar ke-3 dunia sekitar pulau Mauritius.

Mauritius dihuni oleh 1,2 juta warga beragam suku-bangsa dan agama dari India, Afrika, Eropa dan Tiongkok. Budaya dan agama warganya sangat beragam. Orang-orang Mauritius sangat dikenal dari ‘hospitality’ (ramah-tamah) dan kemampuan berbahasa banyak dengan para turis dari seluruh dunia. Keragaman-budaya, toleransi, hidup harmoni, dan aman termasuk daya-tarik Mauritius sebagai tujuan wisata berbasis alam dan budaya (eco-tourism) dunia. Tahun 1977, sekitar 103 ribu turis berkunjung ke Mauritius. Tahun 2005, sekitar 761 ribu turis berkunjung ke Mauritius asal Eropa, Afrika, Asia, Australia, dan Amerika. Sektor wisata memasok sekitar 14% PDB Mauritius.

Wisata Mauritius maju antara lain biaya wisata murah, harga-harga murah, dan arus masuk-keluar turis juga mudah. Kemudahan, kelancaran, dan keamanan arus masuk-keluar turis sangat dipengaruhi oleh pembangunan infrastruktur di Mauritius (Gunn, 1988; Inskeep, 1991; Lim, 1997). Infrastruktur yang mendukung kemajuan sektor wisata Mauritius yakni sektor transportasi seperti jalan-jalan, pelabuhan, fasilitas bandara, dan infrastruktur dasar lainnya. Seluruh jaringan infrastruktur Mauritius terpadu dan menjadi bagian penting dari paket-paket wisata yang memudahkan akses jalan darat, laut, dan udara yang ramah lingkungan, aman, nyaman, efisien, dan sehat.

Sejak 1980-an, Pemerintah Mauritius melaksanakan investasi skala besar di sektor jaringan jalan-jalan, bandara, pelabuhan, dan jembatan. Bandara di Mauritius dikelola oleh swasta. Karena sektor wisata dan ekonomi suatu daerah atau negara sulit berkembang tanpa ada jalan, bandara, pelabuhan, listrik, akses air bersih, parit-selokan, jaringan telekomunikasi, dan infrastruktur dasar lainnya. Semua unsur ini merupakan urat nadi arus informasi, transportasi, komunikasi, akomodasi, dan rekreasi untuk wisata dan kegiatan sosial-ekonomi lainnya (Crouch et al, 1999; Kaul, 1985; Tourism Task Force, 2003; Prideaux, 2000; Cohen, 1979; Mo et al, 1993) di setiap zona berbagai negara selama ini, termasuk Negara RI.

Akhir 1970-an, Turki meraih label sebagai satu zona destinasi wisata dunia antara lain karena infrastruktur seperti jalan-jalan, pasokan air bersih, listrik, jasa-jasa keamanan (safety services), jasa-jasa kesehatan, komunikasi dan transportasi publik yang memicu lonjakan kedatangan turis (Gearing, 1974). Thailand juga meraih level zona destinasi wisata di Asia Tenggara karena infrastruktur (Tang & Rochananond, 1990). Bahkan lonjakan kedatangan wisata ke zona Sun Lost City, Afrika Selatan, dan banyak pulau wisata dunia lainnya disebabkan oleh infrastruktur yang khususnya dibangun oleh Pemerintah (Kim et al, 2000; McElroy, 2003). Kisah sukses sektor wisata sangat ditentukan oleh ketersediaan infrastruktur dan SDM.

Aliran wisata ke negara-negara Afrika awal abad 21, juga didorong oleh ketersediaan banyak infrastruktur dasar, selain stabilitas politik, keamanan (personal safety), pemasaran, dan lain-lain. Kita dapat belajar dari kisah sukses Mauritius di bidang pengembangan eco-tourism dan infrastruktur, selain persiapan dan pelatihan SDM, yang memacu kemajuan sektor wisata. 

Oleh Komarudin Watubun

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita