• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Cara Otak Mengenal Suara Atau Bunyi

Lesi lobus temporal posterior kanan memicu risiko sulit mengenal suara-suara (MPI CBS, 2017) dan Claudia Roswandowitz, PhD (insert) (Max Planck Institute, 2017)

Staging-Point.com(03/01/2018)

Lesi lobus temporal posterior kanan dapat memicu risiko syaraf otak sulit membedakan atau mengenali suara-suara atau bunyi-bunyi. Begitu hasil riset Claudia Roswandowitz, ilmuwan pada Max Planck Institute for Human Cognitive and Brain Sciences (MPI CBS) di Leipzig, Jerman, dan Claudia Kappes, Hellmuth Obrig, Katharina von Kriegstein dari Research Group Neural Mechanisms of Human Communication, yang meneliti kemampuan 58 pasien cedera otak atau stroke mempelajari dan mengenali suara-suara atau bunyi-bunyi. Hasil riset ini dirilis oleh jurnal Brain edisi 8 Desember 2017.

Tim ahli itu mempelajari dan menganalisis hasil scan dengan gambar resolusi tinggi struktur otak dan cedera otak para pasein. Tim ahli itu memperkirakan bahwa girus temporal superior (superior temporal gyrus/STG) posterior sangat penting untuk mengenali atau membedakan suara-suara atau bunyi-bunyi (Max Planck Institute, 2017).

Lesi (laesio) merupakan perubahan atau gangguan pada jaringan organisma (tanaman atau hewan dan manusia) akibat wabah penyakit, luka atau trauma. Lobus temporal kiri di atas telinga, mengontrol sisi kanan tubuh. Lobus temporal kanan mengontrol sisi kiri tubuh. Lobus temporal termasuk satu dari 4 lobus utama korteks serebral otak mamalia, yang terletak pada kedua sisi otak, berfungsi dalam proses sensor rangsangan dari luar menjadi pemaknaan, pendengaran, memori visual dan bahasa (Kosslyn Smith, 2007: 21, 194-199).

“Very valid statements about which brain areas are responsible for which functions are derived from investigations in patients with lesions. If a certain part of the brain is injured and therefore a certain function fails, both components can be related to each other”, papar Claudia Roswandowitz. Penemuan ini sama dengan hasil riset sebelumnya terhadap pasien phonagnosia (voice blindness)—tidak dapat mengenal seseorang (anak, sahabat, ibu, atau suaminya) dari suaranya (Neuropsychologia, 2008).

Penemuan ini meningkatkan pengetahuan tentang cara otak mengenal atau membedakan suara dan upaya terapi pasien phonagnosia sejak lahir atau akibat cedera otak. “In our studies nine per cent of the participants reported suffering from difficulties in recognizing voices, a problem that is almost unheard of in the medical sector. Thus, we have to raise awareness of this matter”, papar Roswandowitz (Neuro Science News, 27/12/2017).

Oleh Servas Pandur

Penerbit


ECO-DEMOKRASI

Demokrasi yang terpimpin oleh hikmat kebijaksanaan dapat mengelola alam-alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa secara arif untuk kesejahteraan Rakyat dan sehat lestarinya ekosistem Negara, kecerdasan Bangsa, perlindungan segenap Bangsa dan seluruh tumpah darah dan ketertiban dunia berdasarkan keadilan, kemerdekaan, dan perdamaian. Rakyat tidak hanya berpartisipasi dalam Pemilu, tetapi juga berpartisipasi dalam antisipasi krisis dan tantangan masa datang. Dalam hal ini, upaya-upaya membangun Negara adalah setiap keputusan dan program kerja yang berkaitan dengan sesuatu yang benyawa yakni Rakyat, bumi, air, dan kekayaan alam. Maka sehat atau tidaknya suatu praktek demokrasi dapat diukur dari jejak-ekologisnya (ecological footprint) pada ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. ... Baca selanjutnya

img

Jurnal IPTEK

Berita