• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Program Pemantauan Menyusui Bayi Di Jerman

Promosi pemberian air susu ibu dirilis oleh media Jerman (Karlsruher-Kind, 2017) dan Einrichtung der Nationalen Stillkommission (NSK) Jerman (Thieme Gruppe, 2017)

Sejak 2008, negara-negara Uni Eropa merilis program monitoring menyusui bayi atau anak kecil dari air susu ibu atau perempuan (breastfeeding) di setiap negara anggota. Hingga akhir 2017, Jerman belum memiliki sistem monitoring standar menyusui bayi atau anak. Tidak ada data terkini tentang perkembangan menyusui bayi (nursing behavior) yang tepat waktu dan dapat dipercayai (Science Newsline, 21/12/2017).

Karena itu, Komisi Menyusui Bayi Nasional Jerman (National Breastfeeding Committee / NBC) pada German Federal Institute for Risk Assessment (Bundesinstitut für Risikobewertung / BfR) mengorganisir diskusi lintas-disiplin untuk membahas tukar-menukar informasi dan standardisasi monitoring menyusui bayi atau anak di Jerman tanggal 21 November 2017. NBC juga mengadakan workshop “Breastfeeding monitoring during the school entrance examination”. Data menyusui anak secara teratur dalam praktik pediatrik, studi-studi epidemiologis, dan isu keperawatan (nursing) termasuk bagian ujian-ujian masuk sekolah (BfR Federal Institute for Risk Assessment, 21/12/2017).

Para peserta workshop dan diskusi itu mengakui bahwa menyusui bayi bermanfaat bagi kesehatan ibu dan bayi. Misalnya, menyusui selama 6 bulan pertama menyediakan nutrisi sehat bagi bayi. Sedangkan makanan pelengkap atau komplemen dapat diberikan sejak bulan ke-7 usia bayi dan bukan lebih awal misalnya bulan ke-5 usia bayi. Menyusui bayi tetap diteruskan oleh ibu, meskipun makanan komplemen sudah diberikan kepada bayinya.

Monitoring standar menyusui bayi (nursing behavior) mempromosi cara-cara menyusui bayi secara nasional di Jerman. Informasi ini meliputi tahap awal dan lamanya menyusui bayi, keseringan menyusui bayi atau rata-rata menyusui bayi, faktor-faktor dan tren yang mempengaruhi pemberian air susu ibu atau perempuan kepada bayi (breastfeeding behavior). Informasi ini mencakup seluruh informasi pemberian susu kepada bayi dan ibunya, termasuk kelompok bayi dan ibu yang berisiko terhadap rendahnya pemberian air susu ibu atau perempuan kepada bayi di Jerman.

Data publikasi tentang pemberian air susu ibu dan di Jerman saat ini tidak berbasis kriteria ilmiah untuk menentukan rata-rata pemberian air susu ibu dan lamanya. Begitu hasil kajian National Breastfeeding Committee (NBC) terhadap 35 literatur tentang pemberian air susu ibu tahun 1990-2012 di Jerman  (Das Gesundheitswesen, 2017).

Kajian NBC itu berjudul Stillhäufigkeit und Stilldauer in Deutschland - eine systematische Übersicht atau kajian sistematis rata-rata pemberian air susu ibu dan lamanya di Jerman. Hasilnya, sejak awal 1990-an, rata-rata pemberian air susu ibu langsung kepada bayi usai kelahirannya relatif konstan antara 70% - 100% bayi. Namun, usai bayi berusia 2 bulan, secara umum 1990-2012, ada penurunan rata-rata pemberian air susu ibu kepada bayi. Usai bayi berusia 6 bulan, hanya 50% bayi diberi air susu ibu.

Untuk dapat menganalisis tren dan faktor-faktor pemberian air susu ibu kepada bayi, NBC mengupayakan standardisasi metode survei dan program monitoring pemberian air susu ibu kepada bayi di Jerman : siapa yang menyusui dan berapa lama. Hasilnya dapat dianalisa untuk mengukur dan mempromosi keseringan dan lamanya menyusui bayi kepada masyarakat Jerman. Karena selama ini, informasi keseringan dan lamanya menyusui bayi terutama dihimpun oleh petugas daerah dengan menggunakan beragam metode dan tujuan (Bundesinstitut für Risikobewertung /BfR, 2017).

NBC didirikan tahun 1994 di Jerman untuk mempromosi pemberian air susu ibu kepada bayi. German Federal Institute for Risk Assessment (BfR) merupakan lembaga independen ilmiah dari Federal Ministry of Food and Agriculture (BMEL) Jerman. BfR memberi saran kepada Pemerintah Jerman tentang keamanan produk, pangan, dan bahan kimia. Sejak pembentukan Einrichtung der Nationalen Stillkommission (NSK) atau National Breastfeeding Committee, Jerman bergabung dengan Deklarasi Innocenti “perlindungan, promosi dan dukungan untuk menyusui” sehingga memenuhi WHO (1992) (Karlsruher-Kind, 2017).

Badan kesehatan PBB, World Health Organization (2014) menganjurkan agar menyusui bayi dimulai sejak jam pertama bayi lahir dan berlanjut sesering dan selama bayi menginginkannya (Pediatrics, 2015: 827-841). Lama pemberian air susu ibu berkisar 10 – 15 menit pada setiap payudara ibu. Menyusui bermanfaat bagi ibu dan bayi (Ip, S; Chung, M et al./ Breastfeeding Medicine, 2009: 17-30).

Hasil riset CG Victora, et al (Lancet, 2016: 475-490) menemukan bahwa kematian sekitar 820 ribu bocah di bawah usia 5 tahun di seluruh dunia dapat dicegah dengan meningkatkan keseringan dan lamanya pemberian air susu ibu kepada bayi.

Kajian WHO (2014) menyatakan bahwa menyusui bayi dapat menurunkan risiko infeksi saluran pernafasan dan diare pada bayi. Bahkan risiko lain seperti asma, alergi makanan, penyakit celiac, diabetes tipe 1, dan leukimia dapat dikurangi dengan pemberian air susu ibu kepada bayi. Menyusui juga bermanfaat bagi sang ibu seperti kurangnya kehilangan darah setelah melahirkan, penyusutan uterus lebih baik, dan depresi postpartum kurang. Untuk jangka panjang, menyusui anak juga mengurangi risiko kanker payudara, penyakit kardio-vaskular, dan rheumatoid arthritis (Lancet, 2016: 475-490).

Staging-Point.com(04/01/2018)

Oleh Servas Pandur

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita