• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Kalkulator Patokan Penggunaan Anti-biotik Untuk Sapi Perah

Peternak sapi-perah menginjeksi antibiotik ke sapi yang mengidap mastitis karena bakteri (Foto : Sipa Press/REX/The Guardian, 21/12/2017)

Akhir-akhir ini, resistensi anti-mikroba (antimicrobial resistance / AMR) mengancam kesehatan manusia dan hewan ternak. Maka kini meningkat desakan agar industri peternakan (livestock industry) mengurangi penggunaan antibiotik. Hasil riset Robert M Hyde et al (2017) di Inggris yang dirilis oleh Veterinary Record edisi 20 Desember 2017 menyebutkan bahwa sejumlah peternakan sapi perah di Inggris, menggunakan anti-biotik pada level sangat ekstrim terhadap sapi. Meskipun banyak pula peternakan sapi di Inggris, kurang menggunakan anti-biotik.

Hasil riset itu dapat membantu upaya pencegahan wabah dan pengurangan penggunaan anti-biotik terhadap hewan ternak serta melawan resistensi anti-biotik di sektor peternakan. AMR merupakan kemampuan suatu mikroba bertahan terhadap efek-efek atau pengaruh-pengaruh medikasi yang pernah digunakan untuk merawat atau mengobatinya. AMR juga termasuk “antibiotic resistance”--bakteri yang bertahan terhadap anti-biotik (WHO, 2014).

Tim Robert M Hyde et al (2017) dari Dairy Herd Health Group, University of Nottingham's School of Veterinary Medicine and Science meneliti dan mengukur penggunaan anti-microbial pada sampel peternakan sapi Inggris. Tujuannya, pada sektor-sektor peternakan sapi apa saja, penggunaan anti-biotik (antimicrobial-use / AMU) dapat dikurangi, diganti atau disaring. Riset ini melibatkan banyak ahli seperti Robert M Hyde, John G Remnant, Andrew J Bradley, James E Breen, Christopher D Hudson, Peers L Davies, Tom Clarke, Yvonne Critchell, Matthew Hylands, Emily Linton, Erika Wood, dan Martin J Green (British Medical Journal, 2017)

Tim ahli menggunakan data penjualan antibiotik dan rekaman medis peternakan sapi. Tim ahli menganalisis penggunaan antibiotik pada 358 peternakan sapi selama 12 bulan. Sampelnya termasuk lebih dari 81.500 sapi perah atau sekitar 7% sapi perah di Inggris. Hasilnya, sebagian besar (78% total antibiotik yang dijual ke sektor sapi perah Inggris) antibiotik diinjeksi ke sapi. Sekitar 25% ternak sapi menggunakan lebih dari separuh (52%) total antibiotik di seluruh sampel ternak sapi. Penggunaan antibiotik melalui oral dan antibiotic-footbaths juga meluas pada sampel ternak sapi.

Hasil riset itu menyediakan satu benchmark bagi AMU sapi perah di Inggris dan sejumlah faktor yang berkaitan dengan tingginya AMU. Tim ahli itu juga menciptakan alat kalkulator penggunaan antibiotik agar dokter hewan memiliki patokan (benchmark) penggunaan anti-biotik pada sapi perah. Tim ahli itu juga menyarankan bahwa “...targeting the reduction of AMU among the minority of high antimicrobial users while maintaining high standards of health, welfare and production may be a fast and effective first step to reduce AMU at farm, practice and national levels. Veterinary input to improve health and welfare of the herd will reduce the need to use antibiotics for treatments.” (Veterinary Record, 20/12/2017)

Staging-Point.com(05/01/2018)

 

Oleh Servas Pandur

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita