• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Dana Abadi Pendidikan Untuk Penelitian dan Ketenagakerjaan

Oleh Komarudin Watubun

Dana Abadi Pendidikan Negara RI telah mencapai lebih dari Rp31 triliun dan akan terus meningkat di tahun-tahun yang akan datang. Hal ini disampaikan oleh Presiden RI Joko Widodo pada  Rapat Terbatas tentang Tindak Lanjut dari Program Dana Abadi Pendidikan pada hari Rabu sore, 27 Desember 2017 di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat (Setkab RI, 27/12/2017).

Besarnya Dana Abadi Pendidikan Negara RI, menurut Presiden RI Joko Widodo, dapat menjadi jembatan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Negara RI hari ini dan di masa-masa ke depan. Maka pengelolaan Dana Abadi Pendidikan Negara RI harus tepat sasar, produktif, lebih terukur, dan bermanfaat bagi peningkatan kualitas SDM Negara-Bangsa RI. Ini juga amanat alinea IV Pembukaan UUD 1945. Tugas Pemerintah Negara Indonesia ialah memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan Bangsa.

Sejak abad 16 M sampai awal abad 21, kita saksikan di berbagai zona dunia, gambaran sangat telanjang tentang zona-zona kaya sumber alam, seperti emas, minyak, gas, batu-bara, intan, permata, dan sumber alam lainnya selalu terperangkap pada paradoks yakni kaya sumber alam, namun rakyatnya miskin atau terjebak dalam konflik akut, atau nestapa kedua-duanya  (Auty, 1993; Sachs and Warner, 1997; Humphreys, Sachs and Stiglitz, 2007:1).

Laporan World Development Report (1998) merilis perbandingan kinerja ekonomi negara Ghana di Afrika dan Korea Selatan di Asia Timur. Tahun 1960, PDB kedua negara ini nyaris setara. Namun, tahun 1990 atau 30 tahun kemudian, PDB Korea Selatan mencapai 6 kali lipat PDB negara Ghana. Menurut kajian Bank Dunia (1999), kesenjangan PDB kedua negara tahun 1990 hanya dapat dijelaskan oleh kapital keahlian (skill) dan pengetahuan (knowledge) SDM. Korea Selatan berhasil mengelola Intellectual Capital (knowledge) sebagai faktor utama produksi. Sedangkan Ghana masih mengotak-atik faktor produksi tradisional yakni lahan (kekayaan alam) dan modal fisik-keuangan.

Data Bank Dunia (1962), awal 1960-an, standar hidup warga Korea Selatan lebih rendah dari Ghana, Nigeria, dan Senegal yang kaya minyak, emas, berlian dan produk-produk hutan. Namun, pada tahun 2007, pendapatan negara Korea Selatan yang miskin sumber alam, mencapai 35 kali pendapatan nasional Ghana dan tiga kali pendapatan nasional Botswana. Pendapatan nasional Tiongkok tahun 1992 lebih rendah dari pendapatan nasional negara yang paling miskin di Afrika. Namun tahun 2007, GDP Tiongkok mencapai 5 kali lebih besar dari total ekonomi seluruh Afrika (Anatole Kaletsky, 2007).

Nestapa sosial-ekonomi dan konflik di tengah gelimangan kekayaan sumber alam lazim dilabel sebagai “The Paradox of Plenty”. Risiko ini harus diatasi dengan program-program pelatihan atau pendidikan SDM Negara-Bangsa RI, yang memiliki dasar kuat, terukur, terkontrol, dan terarah sesuai amanat Pembukaan UUD 1945 dan pasal-pasal UUD 1945. Tantangan Negara-Bangsa RI di bidang SDM ialah rapuhnya karakter di setiap lini, sehingga daya-saing SDM rendah, kualitas produksi rendah, rapuh kepedulian terhadap lingkungan (alam); kondisi ini secara bersamaan berhadapan dengan tantangan rapuhnya daya-sangga ekosistem Negara terhadap kehidupan planet bumi.

Maka pendidikan dasar SDM Negara RI perlu berlandaskan falsafah Bangsa Pancasila dan keahlian-pengetahuan atom. Pemecahan zat merupakan intelijen terbaik di dunia. Namun keahlian dan pengetahuan atom harus dapat mewujudkan dan menjelmakan Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan Rakyat. Ini amanat alinea IV Pembukaan UUD 1945.

Maka revolusi sains, teknologi, atau IT akhir-akhir ini, bagi Bangsa Indonesia, harus dapat menjelmakan dan mewujudkan Pancasila. Hal ini bukan semata-mata historis dan yuridis bagi Negara-Bangsa RI. Tetapi, secara empirik, setiap masyarakat, orang, atau Bangsa, kapan saja dan di mana saja tanpa karakter, perjuangannya mudah patah. Itu pesan satu dari Proklamator Kemerdekaan Bangsa Indonesia, Moh. Hatta, tahun 1954. “Pergerakan atau Bangsa patah, karena pemimpinnya tidak mempunyai karakter.” (Moh. Hatta, 1954). 

Oleh Komarudin Watubun

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita