• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Cetak Eco-sociopreneur Bangsa Indonesia

Oleh Komarudin Watubun

Charles Leadbeater, bekas penasihat Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, bidang Internet dan ‘knowledge-driven economy’ atau ekonomi berbasis pengetahuan, merilis buku The Rise of the Social Entrepreneur (1997). Sejak itu, socio-preneur populer di kalangan peneliti, ahli, dan kalangan pemerintahan di berbagai negara.

Presiden RI Joko Widodo juga merilis harapan bahwa pendidikan tinggi di Negara-Bangsa RI mencetak sociopreneur. “Sungguh saya berharap pendidikan tinggi mampu meningkatkan perannya sebagai bagian penting dari ekosistem untuk mengembangkan kewirausahawan, mencetak sociopreneur,” papar Presiden RI Joko Widodo pada kuliah umum dalam rangka Dies Natalis ke-68 Universitas Gadjah Mada hari Selasa pagi 19 Desember  di Grha Sabha Pramana UGM, Yogyakarta (Setkab RI, 19/12/2017).

Menurut Presiden RI Joko Widodo, tatkala lanskap politik, lanskap ekonomi berubah, lanskap sosial budaya berubah, pasti agenda penelitian dan pengabdian masyarakat universitas juga perlu mengalami perubahan. Karakter sumber daya manusia (SDM) dan jenis profesi yang dibutuhkan oleh Bangsa Indonesia ke depan, politisi dan birokrat akan selalu penting, namun jumlahnya tidak akan bertambah banyak. Namun, para pekerja profesional, insinyur, dokter, farmasi, dan lainnya perlu semakin banyak dengan kompetensi yang berstandar internasional. Yang justru sangat penting ditingkatkan jumlahnya adalah para entrepreneur, kewirausahawan yang menghasilkan peluang kerja baru yang membangun nilai tambah.

Sociopreneur selama ini selalu diharapkan dapat menjabarkan sains dan teknologi untuk merintis usaha, menghimpun dana, dan menerapkan sains dan teknologi untuk pemecahan masalah sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Sociopreneur dapat diterapkan di berbagai sektor organisasi sosial-ekonomi Rakyat yang menghasilkan benefit bagi masyarakat (nirlaba). Aktivis sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan seperti pengentasan kemiskinan, sanitasi, pemberdayaan masyarakat, dan lain-lain termasuk sektor sociopreneur. Profit bukan tujuan utama. (J.L. Thompson, 2002:413).

Sociopreneur, misalnya, dapat membantu warga tuna-wisma dengan membuka restoran dan mempekerjakan tuna-wisma di restoran untuk penyediaan lapangan kerja dan rumah tinggal. Di berbagai negara akhir-akhir ini, socialpreneurship difasilitasi pula oleh penggunaan Internet, khususnya situs jejaring sosial dan social-networking. Kolaborasi melalui jejaring sosial, memantau isu-isu sosial, ekonomi, dan budaya, mendiseminasi informasi, dan membahas program kerja hingga menghimpun dana dapat dilakukan secara online.

Karakter dasar sociopreneur selalu karitas nirlaba, voluntir, dan non-pemerintah dengan fokus program (goal-setting) ialah benefit bagi masyarakat atau pemecahan masalah (problem solving) masyarakat (David Bornstein 2007:124; Sarah H. Alvord, 2004: 260-282). Sociopreneur lahir dari sifat dasar manusia selama ini yakni koperasi. Ketika manusia anti-koperasi, maka ia keluar dari sifat dasarnya sebagai manusia. Oleh karena itu, penjabaran konsep sociopreneur bagi Bangsa Indonesia, dapat dilakukan melalui wadah-wadah koperasi sebagai usaha bersama berazas kekeluargaan dan berdasar Pancasila di berbagai daerah Negara RI. Ini amanat Pasal 33 UUD 1945.

Nilai-nilai tradisi kekeluargaan adalah warisan luhur Bangsa Indonesia dan merupakan social-capital Bangsa Indonesia. Oleh karena itu, program sociopreneur perlu memperkuat nilai-nilai kekeluargaan dengan merumuskan sasaran masyarakat bersatu, berdaulat, adil, damai dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, serta sehat-lestarinya ekosistem Negara RI sejak awal abad 21. Karena itu, kini dan ke depan Bangsa Indonesia perlu mencetak eco-sociopreneur yang secara simultan mengerjakan solusi isu sosial, sosial-lingkungan, dan lingkungan (ekosistem) Bangsa Indonesia, bukan sociopreneur yang terutama fokus kepada pemecahan masalah sosial Bangsa Indonesia. Titik awalnya ialah pendidikan lingkungan untuk pembentukan karakter karitas yang peduli pada lingkungan (ekosistem) dan masyarakatnya.

Oleh Komarudin Watubun

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita