• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Fosil 3,5 Miliar Tahun Singkap Kehidupan Awal di Bumi

Fosil mikroskopis – tidak terlihat oleh mata telanjang--di Australia Barat, yang berusia sekitar 3,5 miliar tahun dan merupakan fosil tertua yang pernah ditemukan oleh para ahli selama ini, menyingkap kehidupan awal di planet bumi. Begitu hasil kajian sejumlah ahli di UCLA dan University of Wisconsin-Madison dirilis oleh Proceedings of the National Academy of Sciences edisi 2 Januari 2018.

Penelitian itu dipimpin oleh J. William Schopf, profesor paleobiologi di UCLA, dan John W. Valley, profesor geo-sains di University of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat. Riset ini menggunakan metode ilmiah dan teknologi baru yang dikembangkan oleh tim ahli UW-Madison WiscSIMS Laboratory (University of Wisconsin-Madison, 18/12/2017).

Para ahli itu menguraikan 11 spesimen mikrobial dari 5 taksa terpisah, yang menghubungkan morfologinya dengan tanda-tanda unsur kimiawi hidup. Beberapa spesimen mikrobal mewakili bakteri dan mikroba yang sekarang punah dari tahap kehidupan Archaea. Sedangkan spesimen lainnya mirip spesies mikrobial yang masih ada sampai saat ini. Spesimen-spesimen itu juga menunjukkan cara bertahan hidup di planet bebas oksigen (oxygen-free planet).

Mikro-fosil itu pertama kali dibahas oleh Schopf dan timnya pada jurnal Science tahun 1993. Schopf, direktur Center for the Study of Evolution and the Origin of Life, dan timnya mengidentifikasi spesimen-spesimen itu berdasarkan bentuknya unik, silindris dan flamen. Tahun 2002, Schopf mengajukan bukti pendukung identitas biologis spesimen-spesimen itu.

Schopf menghumpulkan deposit batu-batuan sedimen abu-abu, hitam, keras, dan buram dari silika (kalsedon) kripto-kristalin atau mikro-kristalin Apex (Apex chert deposit) di Australia Barat. Zona ini masih menyimpan bukti geologis awal Bumi terutama karena proses geologis seperti pemanasan ekstrim dan penguburan geologis akibat aktivitas lempengan tektonik, belum mengubahnya. 

Selama 10 tahun, John W. Valley, Kouki Kitajima, Michael J. Spicuzza, Anatolly B. dan J. William Schopf berupaya memisahkan karbon masing-masing fosil menjadi isotop konstituennya dan mengukur rasionya dengan menggunakan spektrometer massa ion sekunder (secondary ion mass spectrometer SIMS) IMS 1280  di UW-Madison, Amerika Serikat. Substansi-substansi organik—batu-batuan, mikroba atau hewan—mengandung rasio karakteristik dari isotop-isotop karbonnya yang stabil (National Academy of Science, 2018).

Isotop (istilah Yunani, isos/?σος atau sama, dan topos/ τ?πος atau tempat) merupakan varian-varian unsur kimia tertentu dengan nomor neutron berbeda. Valley dan timnya memisahkan karbon-12 dari karbon-13 dalam masing-masing fosil dan mengukur rasio kedua karbon ini serta membandingkannya dengan isotop karbon yang standar dan sudah diketahui dari sedimen batu-batuannya.  Masing-masing mikro-fosil itu berukuran sekitar 10 mikro-meter. Panjang sekitar 8 mikro-fosil itu sama dengan ukuran satu helai rambut manusia.

“The differences in carbon isotope ratios correlate with their shapes. If they're not biological there is no reason for such a correlation. Their C-13-to-C-12 ratios are characteristic of biology and metabolic function,” papar Valley. Dari ciri fisiologis fosil-fosil itu, menurut Schopf, “these are a primitive, but diverse group of organisms.” (Proceedings of the National Academy of Sciences, 2 Januari 2018).

Riset tim Valley dan schopf dari Wisconsin Astrobiology Research Consortium dibiayai oleh  oleh NASA Astrobiology Institute, lembaga yang meriset dan mengkaji asal-usul dan masa depan kehidupan di planet Bumi dan alam semesta.

Sejarah evolusi kehidupan di Bumi memperlihatkan serangkaian ciri dan sifat bio-kimia dan morfologi yang sama (Panno, 2005:xv-16). Sifat bersama ini lebih mirip pada spesies-spesies dari leluhur yang sama dan dapat merekonstruksi “pohon kehidupan” berdasarkan pola evolusi spesies atau fosil-fosil biogenic graphite (Yoko Ohtomo, et al., 2014:25-28), fosil microbial-mat (Seth Borenstein, 2013; Jonathan Pearlman, 2013; Nora Noffke/Astrobiology, 2013: 1103-1124) hingga organisme-multiseluler. Kehidupan di Bumi diduga berasal dari leluhur yang sama (Last universal common ancestor/LUCA) (Nicolas Glansdorff, et al., 2008) sekitar 3,5 – 3,8 miliar tahun silam (Schopf J. William, et al, 2007). Sedimen batu-batuan usia 3,5 miliar tahun di Australia Barat mengandung mikro-organisme, yang mungkin bukti langsung kehidupan awal di Bumi (Kelly Tyrell, 2017; Schopf J. William et al, 2017 ).

Namun, mikro-organisme itu belum tentu merupakan organisme hidup pertama di Bumi. Karena hasil riset sisa-sisa kehidupan biotik di sedimen batuan Australia Barat tahun 2015 menunjukkan tanda kehidupan 4,1 miliar tahun silam (Seth Borenstein, 2015; Elizabeth A. Bell, et al./ National Academy of Sciences, 2015: 14518–14521). Juli 2016, para ahli melaporkan 355 gen LUCA dari semua organisme hidup di Bumi (Nicholas Wade/New York Times, 2016). Mei 2016, sejumlah ahli melaporkan bahwa dari sekitar 1 triliun spesies di Bumi saat ini, hanya sedikit yang dapat diuraikan oleh para ahli hingga awal abad 21 (Staff/National Science Foundation, 2016).

Staging-Point.com(06/01/2018)

Oleh Servas Pandur

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita