• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


NAO dan AMO Pengaruhi Kekeringan dan Produksi Ekosistem

Interaksi antara dua fenomena iklim NAO (North Atlantic Oscillation) dan AMO (Atlantic Multidecadal Oscillation/AMO) sangat memengaruhi dan mengendalikan produktivitas ekosistem-ekosistem dan kekeringan di Eropa Barat selama ini.

NAO (North Atlantic Oscillation/NAO) merupakan fenomena cuaca di Lautan Atlantik Utara berupa fluktuasi perbedaan tekanan atmosfer pada permukaan laut (atmospheric pressure at sea level / SLP) antara Icelandic rendah (Icelandic low) dan Azores tinggi (Azores high). Fluktuasi kekuatan Icelandic rendah dan Azores tinggi mengendalikan kekuatan dan arah angin barat dan lokasi badai sepanjang Atlantik Utara (Jams W. Hurrel, 2003).

NAO mulai diriset dan ditemukan akhir abad 19 dan awal abad 20 M. (D.B. Stephenson, et al / American Geophysical Union, 2003: 37-50). NAO berbeda dengan femonena cuaca El Nino di Lautan Pasifik, karena NAO terutama merupakan gejala atmosfer. NAO mempengaruhi Arctic Oscillation (AO) atau Northern Annular Mode (NAM). NAO merupakan fluktuasi skala besar massa atmosfer yang terletak antara tekanan tinggi sub-tropis dan tekanan rendah di cerukan lautan Atlantik Utara yang memengaruhi musim kering di benua Eropa.

Atlantic Multidecadal Oscillation (AMO) merupakan siklus iklim yang memengaruhi suhu permukaan laut (sea-surface-temperature/SST) di Lautan Atlantik Utara berdasarkan pola iklim (climate pattern atau modes) pada skala waktu multi-dekade (Gerard D. McCarthy et al./ Jurnal Nature, 2015: 508-510). AMO juga berkaitan dengan perubahan badai, pola dan intensitas hujan, dan perubahan-perubahan populasi ikan (M. E. Schlesinger, 1994: 723-726).

Berbagai riset ilmiah selama ini lebih fokus pada penelitian tentang proyeksi pola iklim NAO dan AMO, dan tidak mengkaji pola interaksi dari kedua jenis musim ini. Untuk pertamakali kolaborasi tim ahli dari University of Alcal de Henares dan UPV/EHU, University of Geneva dan University of Castilla-La Mancha meneliti dan mengkaji interaksi NAO dan AMO. Hasil riset dan kajian ini dirilis oleh jurnal Nature Communications edisi 28 Desember 2017.

Hasilnya, tahap AMO + NAO + dan AMO-NAO- sangat tinggi mengendalikan produktivitas hutan karena curah hujan kurang dan suhu musim dingin. “The monitoring of the climate modes analysed may help to predict periods of severe drought, although it would not be an easy task, thus encouraging the applying of measures to adapt the forests more effectively,” papar Dr. Asier Herrero, peneliti pada FisioClimaCO, UPV/EHU (University of the Basque Country, 28/12/2017). Selama musim kering melanda Mediterania akhir-akhir ini, hasil riset ini sangat penting untuk perencanaan air, pertanian dan kehutanan, dan khususnya untuk mengukur kerentanan iklim dari ekosistem.

Asier Herrero dan koleganya terlibat dalam riset ini sejak 5 tahun silam. Riset ini melibatkan data dari arsip-arsip sejarah, klimatologi, model-model statistik, dan ekologi kehutanan sejak abad 19 M. Targetnya, mendapatkan perkiraan akurat tentang produktivitas hutan sepanjang zona Eropa selama 100 tahun terakhir dan menganalisisnya dengan menggunakan metode dan sarana awal abad 21 untuk mengetahui sebab-sebab siklus NAO dan AMO dan dampak dari siklus dan interaksi kedua iklimnya ini terhadap produktivitas ekosistem di Eropa.

Riset itu memadukan data hutan-hutan pinus di berbagai zona wilayah Spanyol—Castilla-La Mancha dan Castilla y Leon. “These pine forests were the means of livelihood of many rural areas from the 19th century onwards, and that was why a detailed quantification of the available resources, timber, pastures, resin, etc. used to be carried out,” papar Dr. Asier Herrero (Nature Communications, 2017).

Staging-Point.com(08/01/2018)

 

 

Oleh Servas Pandur

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita