• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Belajar Dari Strategi SDM Jepang

Presiden RI Joko Widodo merilis rencana kerja memperbaiki kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Negara RI sejak awal abad 21. Jembatannya antara lain program dana abadi pendidikan Negara RI. Jumlahnya sudah mencapai Rp 31 triliun dan bakal meningkat pada tahun-tahun mendatang. Fokusnya antara lain beasiswa pendidikan dan pelatihan vokasi. Karena mayoritas SDM Negara RI saat ini berasal dari lulusan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Strategi SDM ini disampaikan oleh Presiden RI Joko Widodo pada Rapat Terbatas tentang Tindak Lanjut Program Dana Abadi Pendidikan, hari Rabu 27 Desember 2017 di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat (Setkab RI, 27/12/2017).

Visi SDM Negara RI awal abad 21 itu dirilis sekitar 17 tahun usai ahli strategi asal Amerika Serikat, Joseph S. Nye merilis isu ‘Soft power’ pasca Perang Dingin antara kubu Amerika Serikat vs kubu Uni Soviet sejak 1950-an. Nye (1990:153) menulis jelang bubarnya Uni Soviet tahun 1991 bahwa Perang Dingin sudah berakhir dan Amerika Serikat sedang berupaya memposisikan perannya di tata dunia baru tanpa ancaman riil dari Uni Soviet.

Bagaimana Uni Soviet kehilangan statusnya sebagai negara adidaya? Menurut Nye (1990), pasca Perang Dunia II, berbagai negara berupaya mengubah posisi basis kekuatannya. Bukan lagi jumlah penduduk, wilayah, skala ekonomi, sumber alam, kekuatan militer dan stabilitas politik, tetapi terutama faktor nilai, kultur atau budaya, sains, teknologi dan pendidikan. Jepang adalah modelnya (Nye, 1990: 155-156). Jepang kalah pada Perang Dunia II, namun menjadi “adidaya” bidang sains, teknologi, industri, dan budaya hingga awal abad 21.

 Moh Hatta lebih dahulu melihat keunggulan strategi SDM Jepang. Dalam pidatonya berjudul Meninjau Masa Depan di Nihon Kogyo Club, Tokyo, Jepang, 21 Oktober 1957, Moh Hatta menyatakan: “Begitu tiba di Tokyo, kesan saya yang pertama ialah bahwa pembangunan yang maha hebat telah menghasilkan lenyapnya segala bekas kehancuran, yang diakibatkan pemboman-pemboman yang maha dahsyat di masa perang. Negara-negara di Asia dapat belajar dari self-suffiency policy Jepang.” Moh Hatta ( 1957, 2002:116) sangat terkesan dengan kecepatan Rakyat dan Pemerintah Jepang merehabilitasi dan merekonstruksi industrinya.

Sistem pendidikan Jepang melahirkan nasionalisme sangat kokoh bagi Jepang modern sejak abad 19 hingga awal abad 21. Restorasi Meiji tahun 1868 memprakarsai kebijakan pintu-terbuka Jepang terhadap asing dan keterlibatan Jepang pada forum dunia. Restorasi Meiji mereformasi sistem pendidikan Jepang yang dirintis oleh Kementerian Pendidikan, khususnya menanamkan sikap-sikap patriotik dan loyal kepada Negara Jepang (Lincicome, 1993: 146).

Jepang cepat mengadopsi sistem pendidikan Amerika Serikat, Jerman dan Perancis guna mereformasi dan memodernisasi pendidikan Jepang era Restorasi Meiji tahun 1868-1885. Kaisar Meiji menghapus rezim feodal dan mendorong Jepang ke arah negara modern dan bersatu dengan slogan yaitu membangun peradaban dan mencerdaskan Bangsa (Bunmei kaika) serta “Makmurkan Rakyat, perkuat Angkatan Bersenjata” (Fukoku kyôhei). Jepang memadukan model pendidikan Amerika Serikat dan Jerman sebagai tsugiki--sinergi dua pohon menjadi satu pohon guna mendapatkan kualitas pohon terbaik (Ken Kempner et al, 1999).

Para sarjana Jepang mempelajari industri dan agrikultur di Eropa, khususnya Perancis dan Jerman. Para sarjana Jepang mempelajari bahasa, sains, dan kultur Eropa. Kemudian para sarjana lulusan Eropa itu membangun usaha bisnis berbasis nilai-nilai kekeluargaan, zaibatsu. Jepang mereformasi nilai tukar dan perbankan menyusul krisis keuangan tahun 1880. UU Land Reform 1873 Jepang memasukan pusat pendidikan farming. Hasilnya, ekonomi agrikultur Jepang naik tajam 1870-1900, meskipun Jepang sangat miskin sumber daya alam.

Jepang mengimpor teknologi dari Eropa. Pemerintah melatih Rakyat Jepang untuk  melahirkan inovasi dan adaptasi teknologinya. Hasilnya, teknologi inovasi Jepang bersaing di pasar global. Jepang mengadaptasi teknologi jam asal Swiss, motor asal Inggris, mobil asal Jerman dan Amerika Serikat, dan instrumen-instrumen musik dan anggur asal Perancis.

Pada tahun 1879, Kaisar Jepang merilis Kyôgaku taishi--Perintah Kaisar tentang Prinsip-Prinsip Pokok Pendidikan, yang berisi pendidikan karakter seperti tanggung jawab, loyalitas, berbakti dan kepahlawanan. Tahun 1880, pendidikan moral (Shûshin) diterapkan dan ditekankan dalam sistem pendidikan. Hasilnya, Jepang modern ala Eropa berbasis nilai Jepang.

 Bagi Negara-Bangsa Indonesia, “Mencerdaskan kehidupan bangsa” termasuk satu dari 4 tugas Pemerintah Negara Indonesia. Pada 18 Agustus 1945 di Jakarta, para pendiri Negara-Bangsa Indonesia seperti Ir. Soekarno, Drs. Moh Hatta, Mr. Moh Yamin, Prof. Soepomo, Ki Hadjar Dewantara, Ratulangi, Radjiman, Latuharhary, W. Hasjim, I Gusti Ktut Pudja, dan Oto Iskandardinata juga merumuskan satu dari empat tugas Pemerintah Negara Indonesia yaitu “mencerdaskan kehidupan Bangsa”. Kini tiba saatnya kita belajar dari strategi SDM Jepang. 

Oleh Komarudin Watubun

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita