• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Fokus Penelitian & Daya Saing Bangsa

Riset-riset bidang pangan, energi, antisipasi disrupsi teknologi, digital ekonomi, dan riset-riset produktif lainnya dapat mendorong daya-saing Bangsa Indonesia sejak awal abad 21. Begitu rilis pidato Presiden RI Joko Widodo pada Rapat Terbatas tentang Tindak Lanjut Program Dana Abadi Pendidikan, Rabu 27 Desember 2017 di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat (Setkab RI, 27/12/2017).

Gagasan dan visi sains, teknologi, dan pendidikan sebagai lokomotif kemajuan sudah lama dan sangat sering disuarakan oleh para filsuf. Francis Bacon, misalnya, dalam bukunya Meditations (1597), menulis bahwa pengetahuan adalah basis kekuasaan (knowledge is power). Dari hasil surveinya pada sejumlah negara di Eropa, ekonom klasik Adam Smith (1776) dalam bukunya An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations menyebut bahwa  sumber kekayaan Bangsa-Bangsa di Eropa akhir abad 18 M ialah keahlian produktif tenaga kerja, perdagangan, dan moralitas.

Akhir 1970-an, Deng Xiaoping merilis kebijakan reformasi dan keterbukaan Tiongkok (Gaige Kaifang). Hanya dalam jangka waktu 30 tahun, Gaige Kaifang menyulap daya saing Tiongkok dari tata-ekonomi petani ke negara adidaya industri nomor 2 terbesar setelah Amerika Serikat dari sisi Produk Domestik Bruto (PDB). Bahkan Gaige Kaifang termasuk langka dalam sejarah keberhasilan industrialisasi selama ini, seperti Uni Soviet dan Inggris, sejak Revolusi Industri di Eropa akhir abad 18 M (Jonathan D. Spence, 1999).

Deng Xiaoping mempelajari Restorasi Meiji Jepang yang merajut investasi skala besar bidang sains, teknologi, dan pendidikan. Deng Xiaoping meyakini bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) ketiga sektor ini menjadi lokomotif modernisasi Jepang era Kaisar Mutsuhito tahun 1868 dan Tiongkok mampu melakukannya dengan lebih cepat (Deng Xiaoping, 1977).

Tahun 1977, Deng Xiaoping melihat akar keterbelakangan dan rapuhnya daya-saing Tiongkok dari jumlah peneliti sains, teknologi dan pendidikan. Pada masa itu, jumlah peneliti ilmiah di Amerika Serikat (AS) mencapai 1.200.000 ahli dan jumlah peneliti ilmiah di Uni Soviet mencapai 900.000  ahli. Sedangkan jumlah peneliti ilmiah Tiongkok hanya 200.000 orang yang sudah tua, rapuh dan tidak berdaya sehingga tidak ada peneliti ilmiah Tiongkok masa itu yang benar-benar ahli dan bekerja regular bidang sains, teknologi dan pendidikan. Akibatnya, Tiongkok tertinggal 20 tahun dari Amerika Serikat (Deng Xiaoping, 1977).

November 1978, Deng Xiaoping berkunjung ke Bangkok (Thailand), Kuala Lumpur (Malaysia) dan Singapura (Der Speigel, 2005). Deng Xiaoping bertemu Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew, yang menyarankan agar Deng Xiaoping mereformasi dan membuka zona ekonomi Tiongkok ke dunia luar sekaligus mengakhiri ekspor ideologi Komunis ke Asia Tenggara. Deng Xiaoping melihat kemajuan Asia Tenggara dari aliran kapital dan teknologi asing akhir 1970-an. Desember 1978, Deng Xiaoping merilis kebijakan pintu terbuka Tiongkok kepada aliran investasi asing (Oborne, Michael, 1986).

Fokus penelitian dan riset Tiongkok era Deng yakni agrikultur, industri ringan, pendidikan penduduk 1,3 miliar, dan pasar tenaga kerja murah sebagai pendukung daya-saing Tiongkok. Tiongkok membangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang membuka keran aliran investasi asing, pasar global dan membatasi persaingan swasta. Deng Xiaoping adalah arsitek pertumbuhan ekonomi paling cepat dalam sejarah umat manusia dan mampu meningkatkan standar hidup Rakyat lebih dari satu miliar jiwa (Michael Y. M. Kau, 1993:179).

Tahun 1961, pada sebuah konferensi di Guangzhou, Deng Xiaoping berkelakar : “I don't care if it's a white cat or a black cat. It's a good cat so long as it catches mice” (Li Zhisui , 1994)—Deng tidak peduli, kucingnya hitam atau putih, asalkan dapat menangkap tikus! Tahun 1978, Deng Xiaoping merilis slogan “shí shì qiú shì” (seek truth from facts). Maka Deng Xiaoping membuka keran ekonomi pasar di atas pilar-pilar sosialisme Tiongkok.

Pertanyaannya, apakah kemajuan dan daya saing Bangsa Tiongkok saat ini mencapai level sehat-lestari atau sustainabel? Tentu saja belum! Maka bagi Bangsa Indonesia, model Gaige Kaifang Deng Xiaoping saja belum memiliki dasar-dasar keberlanjutan (sustainability) sosial, ekonomi, dan lingkungan atau ekosistem Negara. Maka pilihan bagi Rakyat dan Pemerintah Negara-Bangsa RI ialah riset, sains dan teknologi yang menghasilkan Rakyat sehat-damai-adil-sejahtera dan ekosistem Negara yang sehat-lestari. Tiongkok tidak dapat meredam ledakan penduduknya. Ini hanya satu contoh.

Strategi riset Bangsa Indonesia guna menghasilkan level sustainability sosial-ekonomi-lingkungan, bukan semata ilusi daya-saing (competitiveness), yakni riset yang mendukung dan melipat-gandakan nilai-nilai berbasis financial-capital, real capital, human-resources, natural-capitalInstitutional-capital, Technological-knowledge. Kapital alam terdiri dari (a) modal alam yang dapat dijualbelikan seperti gas, minyak, mineral, ikan, dan lain-lain; (b) modal alam yang tidak dapat diperjualbelikan seperti fungsi ekosistem, keragaman hayati, dan lain-lain.

Oleh Komarudin Watubun

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita