• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Lukisan Gua 2.500 Tahun Di Kisar Singkap Jantung Perdagangan Rempah

© 2005 Prentice Hall Inc. All rights reserved.

Pula Kisar, utara Timor Leste, memiliki kekayaan lukisan-lukisan gua kuno dari era sekitar 2.500 tahun silam. Lukisan-lukisan pada gua itu menunjukkan imej kuda, perahu, anjing, dan orang memegang perisai. Adegan lain menunjukkan, orang memukul gendang seperti imej upacara ritual atau upacara khusus. Begitu hasil riset kerjasama tim ahli arkeologi dari Australian National University (ANU), Australia, dan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, yang dirilis 15 Desember 2017 (Cambridge Journal of Archaeology, 2017).

Tim arkeologi ANU dan UGM membedah sebanyak 28 situs seni batu-batuan (rock-art sites) dari era sekitar 2.500 tahun silam di Pulau Kisar di timur Negara RI, dekat zona utara Timor Leste. Luas zona itu mencapai 81 km2 dan terletak di utara Timor Leste (ANU, 2017).

Riset itu dipimpin oleh Profesor Sue O'Connor dari School of Culture, History and Language (ANU). Menurut arkeolog Sue O'Connor, lukisan-lukisan itu memberi petunjuk tentang sejarah perdagangan dan budaya kawasan Kisar dan sekitarnya. Zona Kisar belum pernah diriset oleh para ahli arkeologi sebelumnya.

Dari hasil riset itu, Profesor Sue O'Connor menyimpulkan, “These Indonesian islands were the heart of the spice trade going back for thousands of years. The paintings we found depict boats, dogs, horses and people often holding what look like shields. Other scenes show people playing drums perhaps performing ceremonies.” (Daily Mail, 18/12/2017).

Lukisan-lukisan gua di Kisar sangat mirip dengan lukisan lainnya di Timor Leste dan memperlihatkan kesamaan sejarah sangat kuat antara Kisar dan Timor Leste.  “The Kisar paintings include images which are remarkably similar to those in the east end of Timor-Leste. A distinctive feature of the art in both islands is the exceptionally small size of the human and animal figures, most being less than 10 centimetres. Despite their size, however, they are remarkably dynamic,” papar Profesor O'Connor (ANU, 13/12/2017)

Tim ahli ANU memperkirakan bahwa hubungan antara Kisar-Timor Leste mungkin sudah berlangsung sejak Neolit sekitar 3.500 tahun silam yang menunjukkan adanya arus penduduk asal Austronesia yang memperkenalkan hewan seperti anjing dan budi-daya biji-bijian. Namun, adanya beberapa fitur dan gambar lukisan pada drum logam yang mulai diproduksi di Vietnam utara dan China barat daya sekitar 2.500 tahun silam dan diperjualbelikan di seluruh wilayah Asia, menunjukkan beberapa lukisan di Kisar itu, berasal dari era baru. 

“These paintings perhaps herald the introduction of a new symbolic system established about two thousand years ago, following on the exchange of prestige goods and the beginning of hierarchical societies,” papar Profesor O'Connor (Ancient Pages, 17/12/2017). Riset tim ahli ANU ini dibiayai oleh Kathleen Fitzpatrick Australian Laureate Fellowship dari Australian Research Council dan bekerjasama dengan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Staging-Point(11/01/2018)

 

 

Oleh Servas Pandur

Penerbit


ECO-DEMOKRASI

Demokrasi yang terpimpin oleh hikmat kebijaksanaan dapat mengelola alam-alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa secara arif untuk kesejahteraan Rakyat dan sehat lestarinya ekosistem Negara, kecerdasan Bangsa, perlindungan segenap Bangsa dan seluruh tumpah darah dan ketertiban dunia berdasarkan keadilan, kemerdekaan, dan perdamaian. Rakyat tidak hanya berpartisipasi dalam Pemilu, tetapi juga berpartisipasi dalam antisipasi krisis dan tantangan masa datang. Dalam hal ini, upaya-upaya membangun Negara adalah setiap keputusan dan program kerja yang berkaitan dengan sesuatu yang benyawa yakni Rakyat, bumi, air, dan kekayaan alam. Maka sehat atau tidaknya suatu praktek demokrasi dapat diukur dari jejak-ekologisnya (ecological footprint) pada ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. ... Baca selanjutnya

img

Jurnal IPTEK

Berita