• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


10% Saham Divestasi Freeport Indonesia Untuk Rakyat Papua

Hari Jumat siang 12 Januari 2018 di Kementerian Keuangan, Jakarta, Pemerintah Pusat secara resmi sepakat memberikan 10% saham divestasi PT Freeport Indonesia kepada Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Kabupaten Mimika. Acara penanda-tanganan kesepakatan ini dicapai dalam pertemuan antara Menteri Keuangan  Sri Mulyani Indrawati, Menteri ESDM Ignasius Jonan, Gubernur Papua Lukas Enembe, Bupati Mimika, Direktur Utama PT Inalum Budi G. Sadikin, Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar F. Sampurno (Setkab RI, 12/1/2018).

Melalui kesepakatan itu, setelah Pemerintah RI merampungkan proses pengambil-alihan saham PT Freeport Indonesia sebesar 51% dari Freeport McMoran, 10% menjadi hak Rakyat Papua melalui Pemprov Papua dan Pemkab Mimika. Kesepakatan itu termasuk lembaran baru dari sejarah panjang kekayaan alam di Papua selama ini. “It was just like a mountain of gold on the moon!”  Begitu isi laporan Jean Jacques Dozy tentang Ertsberg di Papua, saat ia meneliti hutan-hutan Papua tahun 1936. (George A. Mealey, 1996:71-72).

Lebih dari 400 tahun sebelumnya, musafir asal Spanyol, Alvaro de Saavedra, menyebut Papua sebagai Isla del Oro atau Pulau Emas, ketika kapalnya Santiago melintasi Papua tahun 1528 (George Collingridge, 2005; Ione Stuessy Wright, 1951, 1039). Akar tanah Papua adalah emas. Selama jutaan tahun, bumi Papua terletak dan terjepit di zona antara dua lempengan raksasa Samudera Pasifik dan lempengan Australia. (M.E. Barley et al, 2002).

Akibat gerakan tektonik tersebut, terbentuk kawasan pegunungan batu gamping di sisi tengah Papua. Dalam proses pembentukan kawasan pegunungan batu itu, instrusi batuan-batuan asidik menyebabkan mineralisasi logam-logam dasar. Dari mineralisasi logam-logam dasar itu terbentuk cadangan tembaga dan emas atau mineral lainnya.  Begitu pula, terbentuk bijih mineral dan lain-lain seperti batubara, gambut, aluminium, nikel, kronium, kobalt, besi, timah, mangan, merkuri, timbel, tungsten, dan seng. Sedangkan mineral industri di Papua ialah asbes, grafit, marmer, mika, opal, fosfat, kuarsa, dan talek (David I. Groves, 2005).

Tahun 1967 atau dua tahun sebelum Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) tahun 1969 di Papua, Freeport menjadi perusahan pertama yang menandatangani kontrak investasi asing dengan Pemerintah RI. Freeport mendapat  izin penambangan dan eksplorasi sumber alam yang sangat kaya di Ertsberg. Tahun 1988, Freeport menemukan deposit terbesar emas dan tembaga dunia di Grasberg (Karishma Vaswani, 2011). Tahun 2017, Freeport mengekspor 921.000 ton konsentrat tembaga dari Grasberg, pertambangan tembaga ke-2 terbesar di dunia di Provinsi Papua (Wilda Asmarini/Reuters,  11/1/2018).

Sejak era kolonialisme abad 17 yang pertamakali terjadi di zona kaya rempah-rempah Banda, Maluku, dan Revolusi Industri tahun 1760 – 1820 Masehi di Eropa Barat hingga awal abad 21, wilayah-wilayah ekstraksi sumber-sumber alam sering terperangkap pada 3 (tiga) paradoks (The economist, 20/12/2005) : (1) Rakyat zona kaya sumber alam terperangkap kemiskinan akut; (2) zona kaya sumber alam terperangkap konflik akut; dan (3) ekstraksi sumber alam seperti minyak, gas, emas, dan batubara, mengikis kemampuan regenerasi, reproduksi dan daya-dukung ekosistem; di sisi lain, eksploitasi sumber alam ibarat kanal pembangunan ekonomi (Hilson and Basu, 2003).

Di sisi lain, negara-negara lain kaya sumber alam, seperti Australia, Norwegia dan Kanada meraih manfaat dan keuntungan dari sektor pertambangan yang menghasilkan kemakmuran Rakyatnya. Alasannya, negara-negara ini memiliki lembaga keuangan, demokrasi, lembaga jaminan dan perlindungan hukum terhadap hak-hak dasar Rakyat (Slack, 2010) dengan menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan dalam setiap tata-kelola sumber alam yang memberi benefit bagi Rakyat, profit secara ekonomi, dan ekosistem tetap sehat-lestari.

Maka kini tiba saatnya melahirkan era baru Papua, Rakyat cerdas, sejahtera dan damai, dan eksosistemnya sehat-lestari melalui penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan di Papua khususnya dan provinsi-provinsi lain di seluruh Negara RI. Misalnya, lestarikan nilai-nilai adat suku-suku, hubungan adat antara suku, dan antara daerah di Papua; perlindungan kearifan lokal yang merawat ekosistem Papua; melindungi hak-hak ulayat di Papua; penerapan model pendidikan SDM Papua seperti pendidikan berbasis alam bidang agrikultur, sosial, ekonomi, kesehatan, dan lingkungan; serta sinergi Pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam rangka menerapkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan di Papua. 

Oleh Komarudin Watubun

Penerbit


ECO-DEMOKRASI

Demokrasi yang terpimpin oleh hikmat kebijaksanaan dapat mengelola alam-alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa secara arif untuk kesejahteraan Rakyat dan sehat lestarinya ekosistem Negara, kecerdasan Bangsa, perlindungan segenap Bangsa dan seluruh tumpah darah dan ketertiban dunia berdasarkan keadilan, kemerdekaan, dan perdamaian. Rakyat tidak hanya berpartisipasi dalam Pemilu, tetapi juga berpartisipasi dalam antisipasi krisis dan tantangan masa datang. Dalam hal ini, upaya-upaya membangun Negara adalah setiap keputusan dan program kerja yang berkaitan dengan sesuatu yang benyawa yakni Rakyat, bumi, air, dan kekayaan alam. Maka sehat atau tidaknya suatu praktek demokrasi dapat diukur dari jejak-ekologisnya (ecological footprint) pada ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. ... Baca selanjutnya

img

Jurnal IPTEK

Berita