• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Risiko Lahan Bumi Kering Akibat Pemanasan Global

Sekitar ¼ lahan di planet Bumi bakal gersang jika suhu melebihi 2 derajat Celsius dari level pra-industri (The Independent, 2017)

Lebih dari ¼ lahan planet Bumi berisiko kering, jika pemanasan global mencapai 2ºC (dua derajat Celsius) di atas level pra-industri. Perubahan ini dapat meningkatkan ancaman kekeringan dan kebakaran hutan. Namun, jika kenaikan pemanasan global mencapai kurang 1,5 derajat Celsius dari level pra-industri, fraksi permukaan Bumi yang mengalami perubahan-perubahan tersebut, bakal berkurang. Begitu hasil riset kolaborasi tim ahli dari Southern University of Science, Technology (SUSTech) di Shenzhen Tiongkok dan UEA, dan University of East Anglia yang dirilis oleh jurnal Nature Climate Change edisi 1 Januari 2018.

Kegersangan (aridity) merupakan pengukuran kekeringan permukaan lahan bumi, yang diperoleh dari penggabungan pengendapan (precipitation) dan penguapan (evaporation). Tim riset itu meneliti dan mengkaji proyeksi-proyeksi dari pola iklim global guna mengidentifikasi zona-zona yang mengalami perubahan dasar kegersangan, jika dibandingkan dengan variasi dari tahun ke tahun hingga saat ini, jika pemanasan global mencapai 1,5 derajat Celsius dan 2 derajat Celsius di atas level pra-industri.

Tim ahli yang terlibat dalam riset ini yaitu Chang-Eui Park, Su-Jong Jeong, Manoj Joshi, Timothy J. Osborn, Chang-Hoi Ho, Shilong Piao, Deliang Chen, Junguo Liu, Hong Yang, Hoonyoung Park, Baek-Min Kim, dan Song Feng. “Aridification is a serious threat because it can critically impact areas such as agriculture, water quality, and biodiversity. It can also lead to more droughts and wildfires - similar to those seen raging across California,” Dr Chang-Eui Park dari Southern University of Science and Technology (SusTech), yang terlibat dalam riset dan kajian itu (Science Daily, 1/1/2018).

Sedangkan Dr Manoj Joshi dari School of Environmental Sciences, University of East Anglia (UEA), memperkirakan bahwa “Our research predicts that aridification would emerge over about 20-30 per cent of the world's land surface by the time the global mean temperature change reaches 2C. But two thirds of the affected regions could avoid significant aridification if warming is limited to 1.5C.”. (Nature Climate Change, 2018). Jadi riset ini memperkirakan bahwa sekitar 20-30 persen permukaan lahan planet Bumi bakal mengalami kekeringan dan kegersangan jika suhu Bumi naik melampaui 2 derajat Celsius di atas level pra-industri.

Jalan keluarnya, menurut Dr Su-Jong Jeong dari SusTech : “The world has already warmed by 1C. But by reducing greenhouse gas emissions into the atmosphere in order to keep global warming under 1.5C or 2C could reduce the likelihood of significant aridification emerging in many parts of the world.” Jadi, pengurangan emisi gas rumah termasuk langkap sangat penting guna menjaga agar suhu bumi tidak sampai 2 derajat Celsius melampaui level era pra-industri (Brett Anderson/AccuWeather, 1/1/2018).

Belakangan ini, kekeringan parah meningkat sepanjang Mediteranian, selatan Africa, dan pantai timur Australia selama abad 20; sedangkan  daerah semi-kering seperti Meksiko, Brazil, selatan Afrika dan Australia telah mengalami kekeringan dan kegersangan akibat pemanasan global. Sedangkan zona yang mendapat banyak benefit dari suhu bumi kurang 1,5 derajat Celsius di atas level pra-industri, menurut Prof Tim Osborn dari UEA yaitu sebagian besar Asia Tenggara, Selatan Eropa, Selatan Africa, Amerika Tengah dan Selatan Australia – tempat huni dan hidup lebih dari 20% penduduk dunia awal abad 21.

(Staging-Point.com/2018/01/16)

Oleh Servas Pandur

Penerbit


ECO-DEMOKRASI

Demokrasi yang terpimpin oleh hikmat kebijaksanaan dapat mengelola alam-alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa secara arif untuk kesejahteraan Rakyat dan sehat lestarinya ekosistem Negara, kecerdasan Bangsa, perlindungan segenap Bangsa dan seluruh tumpah darah dan ketertiban dunia berdasarkan keadilan, kemerdekaan, dan perdamaian. Rakyat tidak hanya berpartisipasi dalam Pemilu, tetapi juga berpartisipasi dalam antisipasi krisis dan tantangan masa datang. Dalam hal ini, upaya-upaya membangun Negara adalah setiap keputusan dan program kerja yang berkaitan dengan sesuatu yang benyawa yakni Rakyat, bumi, air, dan kekayaan alam. Maka sehat atau tidaknya suatu praktek demokrasi dapat diukur dari jejak-ekologisnya (ecological footprint) pada ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. ... Baca selanjutnya

img

Jurnal IPTEK

Berita