• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Manusia : Pemicu dan Pengendali Perubahan Iklim

Manusia dapat merupakan penyebab utama (dominant cause) kenaikan suhu global; maka manusia juga dapat merupakan faktor utama dalam upaya mengurangi suhu global. Begitu hasil riset Profesor Brian Beckage, ahli sains komputer dan biologi, dan koleganya pada University of Vermont, Working Group on Human Risk Perception and Climate Change (University of Tennessee), dan National Socio-Environmental Synthesis Center (SESYNC), University of Maryland di Amerika Serikat, melalui suatu model rasional terbaru mengukur dampak perilaku dan tindakan manusia terhadap iklim global yang dirilis oleh Nature Climate Change edisi Desember 2017 (National Institute for Mathematical and Biological Synthesis / NIMBioS, 1/1/2018).

Model baru itu merujuk pada sains iklim dan psikologi sosial untuk meneliti bagaimana perubahan-perubahan perilaku manusia merespons atau menanggapi peristiwa-peristiwa iklim ekstrim dan memengaruhi perubahan suhu global akhir-akhir ini. Model ini mencakup umpan-balik dinamis yang terjadi alamiah pada sistem iklim Bumi—proyeksi-proyeksi suhu menentukan kemungkinan peristiwa cuaca ekstrim, yang akhirnya memengaruhi perilaku manusia. Perubahan perilaku dan tindakan manusia, seperti instalasi panel-panel solar (panel surya) atau investasi transportasi publik, mengurangi emisi gas rumah-kaca, yang mengubah suhu global dan frekuensi peristiwa iklim ekstrim, yang memicu perilaku baru dan siklus ini terus berlanjut.

Dengan memadukan proyeksi-proyeksi iklim dan proses sosial, model itu memperkirakan suhu global berubah pada kisaran 3,4 hingga 6,2 derajat Celsius tahun 2100, dibandingkan dengan 4,9 derajat Celsius dari model iklim itu sendiri.

Karena rumitnya proses fisik, model-model iklim tidak memiliki kepastian prediksi suhu global. Model baru ini menemukan bahwa ketidak-pastian suhu global berkaitan dengan unsur-unsur manusia seperti halnya atau mirip dengan proses fisik. Sehingga pemahaman lebih baik tentang unsur dan faktor manusia penting, namun sering terabaikan.

Model baru itu menemukan bahwa perubahan-perubahan perilaku dan kebiasaan tidak mudah dan jangka panjang, seperti menyekat rumah-rumah atau membeli mobil-mobil hibrid, sejauh ini berdampak terhadap mitigasi emisi gas rumah-kaca yang mengurangi perubahan iklim, versus dengan perubahan perilaku atau penyesuaian jangka pendek seperti tidak banyak berkendaraan.

“A better understanding of the human perception of risk from climate change and the behavioral responses are key to curbing future climate change,” papar peneliti utama Profesor Dr. Brian Beckage,  ahli biologi tanaman dan sains komputer pada University of Vermont, Amerika Serikat (Science Daily, 1/1/2018).

Kajian ini merupakan upaya bersama tim ahli dari Working Group on Human Risk Perception and Climate Change pada National Institute for Mathematical and Biological Synthesis (NIMBioS), University of Tennessee, Knoxville, dan National Socio-Environmental Synthesis Center (SESYNC), University of Maryland di Amerika Serikat. Kedua lembaga ini didukung oleh National Science Foundation. Tim ahlinya terdiri dari Brian Beckage, Louis J. Gross, Katherine Lacasse, Eric Carr, Sara S. Metcalf, Jonathan M. Winter, Peter D. Howe, Nina Fefferman, Travis Franck, Asim Zia, Ann Kinzig, dan Forrest M. Hoffman.

“Climate models can easily make assumptions about reductions in future greenhouse gas emissions and project the implications, but they do this with no rational basis for human responses. The key result from this paper is that there is indeed some rational basis for hope,” papar NIMBioS Director Louis J. Gross, yang ikut menyusun paper kajian ilmiah ini dan mengorganisir Working Group pada NIMBioS), University of Tennessee (Nature Climate Change, 1/1/2018).

Jadi, paper ilmiah tim ahli ini membangkitkan harapan berbasis data dan analisa rasional tentang perubahan iklim akhir-akhir ini. Kesimpulan serupa juga diajukan oleh Asisten Profesor Katherine Lacasse, ahli psikologi pada Rhode Island College. Dasar harapan rasional merupakan pijakan bagi masyarakat-masyarakat di berbagai negara untuk menyusun dan melaksanakan berbagai kebijakan mengurangi emisi karbon dan ledakan penduduk. (Beckage B. et al. 2017 /  Nature Climate Change, 2017).  Riset NIMBioS ini disponsor oleh National Science Foundation melalui NSF Award dan dukungan dari University of Tennessee, Knoxville.

(Staging-Point.com/2018/01/18)

Oleh Servas Pandur

Penerbit


ECO-DEMOKRASI

Demokrasi yang terpimpin oleh hikmat kebijaksanaan dapat mengelola alam-alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa secara arif untuk kesejahteraan Rakyat dan sehat lestarinya ekosistem Negara, kecerdasan Bangsa, perlindungan segenap Bangsa dan seluruh tumpah darah dan ketertiban dunia berdasarkan keadilan, kemerdekaan, dan perdamaian. Rakyat tidak hanya berpartisipasi dalam Pemilu, tetapi juga berpartisipasi dalam antisipasi krisis dan tantangan masa datang. Dalam hal ini, upaya-upaya membangun Negara adalah setiap keputusan dan program kerja yang berkaitan dengan sesuatu yang benyawa yakni Rakyat, bumi, air, dan kekayaan alam. Maka sehat atau tidaknya suatu praktek demokrasi dapat diukur dari jejak-ekologisnya (ecological footprint) pada ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. ... Baca selanjutnya

img

Jurnal IPTEK

Berita