• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Rokok Elektronik Picu Upaya Kurang Isap Rokok?

Ahli candu dan kontrol rokok,  Matthew Carpenter, Ph.D., dan rokok elektronik (Foto: Dawn Brazell, 2017)

Perokok yang suka rokok elektronik (e-cigarettes) cenderung kurang merokok dan berupaya tidak merokok. Begitu hasil riset Matthew Carpenter, PhD, ahli candu dan kontrol rokok dan koleganya seperti Bryan W. Heckman, Amy E. Wahlquist, Theodore L. Wagener, Maciej L. Goniewicz, Kevin M. Gray, Brett Froeliger, K. Michael Cummings  dari pusat kanker Medical University of South Caroline (MUSC) (Medical University of South Carolina, 29/12/2017).

“Combustible cigarettes are the most harmful form of nicotine delivery. Alternative delivery of nicotine, through e-cigarettes, could significantly reduce harm and the risks of cancer and other diseases to smokers,” papar Matthew Carpenter (Medical University of South Carolina, 29/12/2017). Carpenter termasuk direktur Tobacco Research Program pada Hollings Cancer Center dari National Cancer Institute, Amerika Serikat. Carpenter dan tim riset lainnya di MUSC termasuk S.C. Tobacco Research Interest Group di Amerika Serikat. Sedangkan Hollings Cancer Center terdiri dari lebih 120 ilmuwan kanker dengan dukungan dana riset sekitar 44 juta dollar AS dan 200 uji klinis hingga akhir tahun 2017.

Dalam riset dan kajian yang dibiayai oleh National Institutes of Health itu, Carpenter meneliti dan mengkaji rokok elektronik perihal penggunaannya, preferensi produk, dan perubahan perilaku perokok dan fakta nikotin selama ini. Sebanyak 68 perokok dievaluasi; 46 random merokok elektronik, dan 22 merupakan sampel acak dengan satu kelompok kontrol.

Sampel kelompok rokok elekronik yang diberi satu cepis dengan dosis rendah atau tinggi nikotin. Setiap peserta mengikutinya selama periode 4 bulan. Hasil riset ini dirilis oleh jurnal Cancer Epidemiology Biomarkers & Prevention edisi November 2017. Studi ini merupakan satu dari sedikit studi random untuk meriset dan menganalisis dampak rokok elektronik dan upaya tidak merokok di Amerika Serikat.

Hasil riset itu menunjukkan bahwa jika perokok diberi rokok elektronik tanpa instruksi atau syarat-syarat penggunaannya, merokoknya kuat, dan banyak peserta berupaya membeli rokok elektroniknya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa rokok elektronik mungkin memberi perokok alternatif lain dari rokok asap. Partisipan yang menggunakan rokok elektronik, kurang mengisap rokok (smoked) dan lebih berupaya menghentikan pengisapan-rokok (smoking), jika dibandingkan dengan perokok dari partisipan kelompok kontrol (Cancer Epidemiology Biomarkers & Prevention, 2017).

 “The results are consistent with trials done outside the U.S. Many people rated the e-cigarettes similar to their usual product, which further suggests that these products might promote switching. Anything that gets smokers off combustible cigarettes is a good thing,” papar Carpenter (Science Daily, 29 /12/2017). Dari dua model rokok elektronik dalam penelitian ini, cepis lebih kuat dengan dosis tinggi nikotin, menunjukan hasil lebih kuat. Partisipan yang menggunakan rokok elektronik dalam penelitian ini, berkurang mengisap rokok sekitar 37%, yang menunjukkan efek positif jika beralih ke rokok elektronik.

“It is important to protect non-smokers, particularly adolescents and young adults, from starting any nicotine-containing product. This is something we need to really guard against. We know e-cigarettes are safer than traditional cigarettes, but that doesn't mean e-cigarettes are completely safe,” papar Carpenter.

Kini beredar di pasar sekitar 1.500 varietas rokok elektronik di Amerika Serikat. Rokok elektronik ini didukung oleh kekuatan teknologi tinggi, banyak aroma, dan makin menggoda khususnya remaja di Amerika Serikat. Rokok elektronik sudah diatur oleh badan pengawasan obat Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat.

Tahun 2013, sejumlah ahli seperti Dr. Christopher Bullen, Colin, PhD, Murray Laugesen, MBChB, hayden McRobbie, MBChB, Varsha Parag, MSc, Jonathan Williman, PhD, Natalie Walker, PhD, melakukan riset tentang efektivitas rokok eletronik membantuk perokok untuk berhenti merokok. Partisipan riset itu mencapai 657 prokok—kelompok rokok elektronik, kelompok rokok elektronik dengan plasebo (tanpa nikotin), dan kelompok Terapi Pengganti Nikotin (TPN) selama 13 pekan.  Menurut Dr. Christopher Bullen, rokok elektrinik memberi hasil lebih baik untuk perokok mengurangi konsumsi rokok-asap (smoking) (The Lancet, 16/12/2003).

(Staging-Point.com/2018/01/19)

Oleh Servas Pandur

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita