• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Nilai Strategis Tata-Kelola Air Negara RI

Komarudin Watubun

Melalui pembiayaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2015-2019, Pemerintah RI membangun 49 waduk atau bendungan di seluruh Negara RI. Hingga Oktober 2017, Pemerintah telah membangun 33 waduk atau bendungan (Setkab RI, 9/1/2018).

Bagi Bangsa dan Negara RI, bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran Rakyat. Begitu bunyi amanat Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, yang berisi susunan Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Susunan Negara RI yang berkedaulatan Rakyat.

Strategi pembangunan sektor air sangat penting bagi pertahanan dan keamanan setiap negara. Karena siklus air, energi karbon, produksi pangan, dan perubahan iklim saling-berhubungan (Oki and Kanae, 2006). Lagi pula, ledakan jumlah penduduk dunia hingga 7,6 miliar awal abad 21 dan perubahan iklim mempengaruhi produksi pangan dan lingkungan. Pada abad 20, produksi pertanian mengkonsumsi sekitar 90% air segar (freshweater) bumi (Shiklomanov, 2000). Di berbagai zona dunia, kelangkaan air juga memicu konflik pada masyarakat.

Selain itu, kebutuhan air memproduksi pertanian akan meningkat guna memenuhi kebutuhan 50% pertambahan penduduk dunia dari 6 miliar jiwa tahun 2000 menjadi 9 miliar jiwa tahun 2050 (UNDP, 2006). Misalnya, produksi daging membutuhkan lebih banyak air sekitar 4.000-15.000 liter/kg daging; gandum membutuhkan sekitar 1.000-2.000 liter/kg nutrisi per hari. Sekitar 2,5 – 10 kali energi lebih besar dibutuhkan untuk memproduksi jumlah energi kalori dan protein untuk daging, jika dibandingkan dengan produksi biji-bijian (Molden et al, 2007).

Oleh karena itu, awal abad 21, setiap Pemerintah dan Rakyat di berbagai negara menghadapi kelangkaan pasokan air dan kerusakan lingkungan yang dipicu oleh lonjakan produksi pangan dan ledakan jumlah penduduk dunia (Reijnders and Soret, 2003).

Apalagi, perluasan lahan-lahan pertanian dan peternakan menggerus hutan-hutan, ladang-ladang rumput dan keragaman-hayati akibat intensifikasi pertanian, dan ekoton (Pimentel et al, 2004; Butler et al, 2007; Kremen et al, 2002). Hasil riset dan kajian Goldewijk and Ramankutty (2004) menemukan bahwa selama 300 tahun terakhir, lahan peternakan dan pertanian meningkat sekitar 4-5 kali karena lonjakan pertumbuhan penduduk di planet bumi.

Kita menyaksikan bahwa negara-negara produsen utama pangan di dunia, seperti Brazil, Tiongkok, India, Iran, Pakistan, dan Eropa Barat, telah mengalami krisis air seperti penipisan air tanah, kelangkaan sumber-sumber air, dan lain-lain (Khan et al, 2008; Postel, 2000).

Air merupakan satu dari 4 (empat) pilar penting atmosfer, biosfer, dan hidrosfer. Oleh karena itu, upaya pemulihan ekosistem saat ini, antara lain, perlu dimulai dari tata-kelola air dan kendali ledakan penduduk. Maka strategi negara di sektor air, tidak semata-mata menjadi perwujudan amanat Pasal 33 UUD 1945, tetapi juga berkaitan dengan perlindungan segenap Bangsa dan seluruh tumpah darah Rakyat Negara RI kini dan masa-masa datang.

Bagi Bangsa dan Negara RI, setiap upaya pembangunan, termasuk program pembangunan di sektor air, selalu bersifat sesuatu yang bernyawa, karena berkaitan dengan kehidupan manusia, bumi, air, kekayaan alam, udara, dan sebagainya. Karena itu, jangan hanya meniru belaka susunan dan pembangunan negara lain dan Bangsa Indonesia tidak mengulang kegagalan negara lain atau Bangsa Indonesia hanya mengambil contoh yang sungguh-sungguh patut dipandang sebagai teladan.

Air termasuk energi yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Tanpa pasokan O2 selama beberapa menit, seseorang berisiko sakit atau meninggal; tanpa pasokan air selama berjam-jam, seseorang dapat berisiko sakit atau meninggal; tanpa pasokan makanan berhari-hari, seseorang berisiko sakit atau meninggal. Maka nilai air bagi penyangga kehidupan kita, menjadi hal sangat mendasar dalam kehidupan ber-Bangsa dan ber-Negara. Di sini pula, nilai strategis pembangunan waduk dan bendungan dari Pemerintah saat ini.

Oleh Komarudin Watubun

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita