• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Bersatunya Para Raja & Sultan Perkuat Negara-Bangsa Indonesia

Hari Kamis 4 Desember 2018 di Istana Kepresidenan Bogor (Jawa Barat), Presiden RI Joko Widodo bertemu dengan 88 orang yang merupakan Raja, Sultan, Pangeran, dan Permaisuri dari berbagai daerah di Negara RI -- Sumatra (20 orang), Jawa (17 orang), Bali (tiga orang), Nusa Tenggara Timur (lima orang), Nusa Tenggara Barat (empat orang), Kalimantan (10 orang), Sulawesi (18 orang), Maluku (sembilan orang), dan Papua (dua orang).

“Saya ingin mendengar masalah-masalah dan problem-problem yang ada dari Yang Mulia para Raja, para Sultan, para Pangeran dan Permaisuri yang pada pagi hari ini hadir. Saya persilakan, kalau ada yang ingin menyampaikan masalah yang ada di lapangan,” papar Presiden RI Joko Widodo kepada para Raja, Sultan, Pangeran, dan Permaisuri di Istana Kepresiden Bogor, Jawa Barat, Kamis Sore 4 Januari 2018 (Setkab RI, 4/1/2018).

Menurut Dr. Siti Rochanah, MM, pertemuan Presiden RI Joko Widodo dan para Sultan, Raja, Pangeran, dan Permaisuri itu memiliki arti penting bagi Bangsa Indonesia kini dan ke depan. “Pertemuan itu memiliki arti penting untuk masa depan Indonesia sebagai satu Bangsa yang majemuk. Dengan bersatunya para Raja dan Sultan, Bangsa Indonesia akan semakin solid dan menjadi Bangsa yang kuat,” papar Dr. Siti Rochanah, MM, dosen mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan dan Pancasila pada Universitas Negeri (Jakarta) dan Institut Bisnis dan Informatika Indonesia (IBII) Kwik Kian Gie (Jakarta), kepada Staging-Point.Com di Lantai 7 Kampus IBII Kwik Kian Gie, Sunter (Jakarta).

“Kami berterima kasih kepada Pemerintah atas perhatian yang luar biasa. Ke depan, karakter budaya Bangsa kita melalui kerajaan-kerajaan, dapat dibangun dan dikembangkan antara lain melalui pengembangan wisata budaya yang berakar dari kerajaan-kerajaan untuk menghasilkan devisa,” ujar  Jan Christofer Benyamin, Raja Babau asal Nusa Tenggara Timur, menjawab wartawan usai bersama para Raja dan Sultan bertemu Presiden RI Joko Widodo di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Kamis 4 Januari 2018 (Setkab RI, 4/1/2018).

Para Raja dan Sultan dari seluruh Negara RI tersebut, menurut Dr. Siti Rochanah, MM, dapat bertahan sampai sekarang menunjukkan bahwa sistem kerajaannya dapat menyesuaikan diri dengan susunan Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia dan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan Rakyat berdasarkan kepada Pancasila dan UUD 1945. “Mereka mampu menyesuaikan diri dengan sistem pemerintahan berkedaulatan Rakyat atau demokrasi selama ini di Negara RI. Mereka juga melek informasi, mengikuti perkembangan teknologi dan merasakan tantangan kebudayaan, meskipun selama ini keberadaannya tidak dinyatakan eksplisit oleh Pemerintah,” papar Dr. Siti Rochanah, MM.

Di sisi lain, menurut Dr. Siti Rochanah, MM, bagi para Raja dan Sultan, kunjungan dan pertemuan di Istana Kepresidenen Bogor (Jawa Barat) memuat pesan penting. “Setidaknya keberadaaan mereka diakui oleh Negara. Presiden RI Joko Widodo mengundang mereka ke Istana Kepresidenan, simbol kekuasaan Negara. Presiden RI Joko Widodo membuat terobosan, yakni mengakui keberadaan mereka. Ini persis yang dilakukan oleh Presiden pertama Negara RI, Soekarno, yang menyatukan para Raja dan Sultan hingga akhirnya Bangsa Indonesia bisa merdeka,” ujar Dr. Siti Rochanah, MM, ahli manajemen pendidikan.

Selama ini, para Raja dan Sultan merawat tradisi kerajaan di wilayahnya masing-masing dalam konteks kesatuan dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mereka tidak membentuk negara dalam negara. Acuan para Raja dan Sultan adalah Undang-Undang Dasar Negara Indonesia. Mereka tidak membentuk peraturan sendiri yang bertentangan dengan dasar hukum Negara RI. Selama ini, tradisi kerajaan di berbagai daerah umumnya berkaitan pula dengan tanah-tanah hak wilayah Kerajaan dan Kesultanan. Pemerintah berupaya agar lahan-lahan kerajaan tersebut menjadi lahan produktif  yang dikelola untuk membangun perekonomian Rakyat atau pengembangan wisata budaya guna merawat nilai-nilai dan tradisi budaya kerajaan dan kesultanan di berbagai daerah Negara RI.

“Para Raja dan Sultan adalah warga masyarakat Bangsa Indonesia. Mereka adalah tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki pengaruh di daerahnya. Mereka mengetahui persis kebutuhan Rakyat di daerahnya.  Maka sangat masuk akal, jika Presiden RI Joko Widodo mendengar langsung aspirasinya tanpa perantara dalam rangka menyusun kebijakan Pemerintah mengatasi masalah-masalah berbagai daerah,” ujar Dr. Siti Rochanah, MM. 

(Staging-Point.com/2018/01/20)

 

Oleh Fens Alwino

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita