• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Prioritas ‘Indonesia-Sentris’: Cerdaskan Rakyat Berbagai Daerah

Hari Senin sore 8 Januari 2018, Pesawat Kepresidenan RJ-85 menerbangkan Presiden RI Joko Widodo ke Bandar Udara DC Saudale di Pulau Rote, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).  “Dengan menginjakkan kaki saya di Pulau Rote, saya sudah lengkap melihat Indonesia dari ujung ke ujung, dari semua ujung, ujung barat ke ujung timur, ujung utara ke ujung selatan. Untuk menuju ke negara maju, Indonesia harus dibangun dari sebelumnya Jawa-sentris menjadi Indonesia-sentris,” papar Presiden RI Joko Widodo pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Barisan Relawan Jokowi Tahun 2018 di Auditorium Tilangga, Rote, NTT, Senin (8/1/2018) (Setkab RI, 8/1/2018).

Menurut Prof. Dr. Carunia Mulya Firdausy, Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), strategi ‘Indonesia-sentris’ Presiden RI Joko Widodo bertujuan memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di berbagai sektor seperti budaya, ekonomi, sosial, pertahanan, keamanan hingga ideologi. “Intinya Indonesia-sentris memperkuat NKRI. Jadi, fokus Indonesia-sentris ialah memperkuat keragaman Bangsa Indonesia, Bhineka Tunggal Ika. Hal itu dianggap penting, selain motto menjadi harga mati seperti NKRI,” papar Prof. Dr. Carunia Mulya Firdausy, Ec. Dev., kepada Staging-Point.Com Kamis (18/1/2018) di lantai 5 Puslit, Gedung LIPI, Jakarta.

Selain itu, Prof. Dr. Carunia Mulya Firdausy melihat risiko paradigma Jawa-sentris ialah ketimpangan pembangunan antar-daerah. Risiko ini hendak diatasi oleh Pemerintah melalui program Indonesia-sentris. Misalnya, hingga Oktober 2017, proyek-proyek infrastruktur dibangun di berbagai daerah Negara RI, seperti 24 proyek infrastruktur di Kalimantan, 27 proyek infrastruktur di Sulawesi, dan 13 proyek infrastruktur (bendungan, pelabuhan, bandara, pembangkit listrik) di Papua dan Maluku (Setkab RI, 17/10/2017). Menurut Presiden RI Joko Widodo, infrastruktur-infrastruktur di seluruh pelosok RI dari desa-desa hingga daerah-daerah pinggiran dan perbatasan memperkuat konektivitas nasional Negara RI (Setkab RI, 16/8/2016).

Prof. Dr. Carunia Mulya Firdausy berpandangan bahwa esensi ketimpangan ialah kualitas SDM. Maka program infrastruktur perlu pula memperkuat infratruktur ilmu atau sains, pengetahuan dan teknologi. “Kualitas SDM sangat basik dan sebenarnya esensi ketimpangan tadi. Selama ini kualitas pendidikan di Jawa relatif lebih baik dibanding daerah lainnya. Akibatnya, rendah produktivitas SDM masyarakat terluar, perbatasan, dan terbelakang di Negara RI. Karena itu, fokus Indonesia-sentris ialah pintarkan dan sejahterakan masyarakat Indonesia di daerah-daerah seperti Indonesia Timur. Jangan lagi sekelompok masyarakat seperti di Papua pernah kekurangan gizi. Sedangkan orientasi, komitmen dan konsentrasinya ialah kesejahteraan, welfare state, bukan machtsstaat. Menurut saya, ini yang harus dilakukan,” ujar Prof. Dr. Carunia Mulya Firdausy.

Tahun 2013, angka malnutrisi kronis dan akut sangat tinggi di Papua. Kementerian Kesehatan (2013) RI merilis laporan bahwa di Provinsi Papua, hampir separuh (40,08%) anak usia di bawah lima tahun “mengidap” stunting (pendek) ukuran normal usia itu dan 14,80%  wasting  (kurus) akibat malnutrisi akut menurut kriteria World Health Organization (WHO, 2013).

Sejak 2015, Kabinet Kerja Presiden RI Joko Widodo meletakan fondasi pembangunan Negara-Bangsa RI pada 5 (lima) titik strategis yakni perubahan paradigma pembangunan dari Jawa-sentris ke Indonesia-sentris; dari simpul konsumsi ke produksi; memangkas 42.000 peraturan (produk menteri, gubernur, bupati dan wali kota) yang membebani Rakyat, memicu birokrasi dan pelayanan masyarakat tidak efisien, dan menghambat usaha; menerapkan teknologi komunikasi-informasi; dan pembangunan infrastruktur (Setkab RI, 16/8/2016; Setkab RI, 11/12/2017).

“Paradigma pembangunan nasional kita ubah dari yang bersifat konsumtif menjadi produktif, dari yang bersifat Jawa Sentris menjadi Indonesia Sentris,” papar Presiden RI Joko Widodo di depan Sidang Bersama Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (RI), Peringatan Hari Ulang Tahun Ke-71 Proklamasi Kemerdekaan RI, Senayan, Jakarta, 16 Agustus 2016 (Setkab RI, 16/8/2016). Tahun 2015, Presiden RI Joko Widodo mengadakan kunjungan-kerja ke Sabang, zona paling barat Negara RI, dan dua kali kunjungan-kerja ke Merauke, Papua, serta Pulau Miangas, yang dihuni oleh 230 KK di Provinsi Sulawesi Utara. 

(Staging-Point.com/2018/01/22)

 

Oleh Eko Budi Raharta

Penerbit


Dollar AS vs Xi-Diplomacy

Perang dollar AS vs Xi-Diplomacy belum memicu ke arah resesi global (lihat grafik). Bagi Rakyat dan Pemerintah Negara RI, pilihannya ialah kemitraan atau kerjasama melahirkan tata tertib dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, keadilan serta ramah lingkungan. Ini amanat Pembukaan UUD 1945. Ini pula peluang dan tantangan bagi Negara RI yang kini menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB hingga tahun 2021. ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita