• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Kartu Indonesia Pintar (KIP): Pra-Kondisi Kualitas dan Daya-Saing SDM Negara RI

Usai meninjau Embung Saina di  Desa Oelolot, Rote Ndao (Provinsi NTT), Presiden RI Joko Widodo menyerahkan 1.015 Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan 500 Program Keluarga Harapan (PKH) di SMP Negeri 4 Rote Barat Daya, Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (9/1/2018) siang. Untuk setiap kartu KIP, yang SD mendapatkan Rp 450 ribu, SMP Rp 750 ribu, dan SMA/SMK Rp 1 (satu) juta (Setkab RI, 9/1/2018).

Presiden RI Joko Widodo juga berpesan bahwa dana KIP hanya dipakai untuk membiaya pendidikan, seperti membeli seragam sekolah, sepatu, topi sekolah, buku, atau membayar sekolah. Sedangkan dana PKH mencapai Rp 1.890.000,- untuk membiaya pendidikan dan gizi anak (Setkab RI, 9/1/2018). Anggaran KIP cukup besar. Tahun 2016, anggaran PKH mencapai Rp 9,98 triliun dan Rp 5,6 triliun tahun 2015 (Setkab RI, 5/4/2016). Menurut data Kemendikbud (2017), anggaan KIP (Program Indonesia Pintar) tahun 2017 mencapai Rp 9,34 triliun untuk 17,92 juta anak. Hingga Agustus 2017, dana KIP sudah tersalurkan ke 13,35 juta anak; namun, dana KIP yang baru dicairkan oleh 2,25 juta siswa.

Program KIP dan PKH menjadi bagian program persiapan SDM Negara RI guna menyongsong persaingan SDM 20 sampai 40 tahun akan datang. “Anak-anak kita harus sekolah dalam rangka sekali lagi, agar anak-anak kita Indonesia ini bisa bersaing dengan negara yang lain,” papar Presiden RI Joko Widodo saat membagikan Kartu Indonesia Pintar (KIP), Program Keluarga Harapan (PKH), dan Kartu Indonesia Sehat (KIS), Desa Gunung Tinggi Kabupaten Tanah, Kalimantan Selatan Minggu (7/5/2017) siang (Setkab RI, 17/5/2017).

Menurut Prof. Dr. Carunia Mulya Firdausy, peneliti senior bidang pembangunan sosial-ekonomi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), program KIP merupakan pra-kondisi dari suatu proses panjang pembentukan kualitas dan daya-saing SDM (sumber daya manusia). “Ini (KIP) adalah pra-kondisi. Tetapi kalau kita loncat ke daya saing SDM, itu ada proses sedemikian panjang yang harus dilalui seperti lapangan pekerjaan, ketepatan pendidikan, cocok tidakkah dengan lapangan kerja, dinamika nasional maupun internasional,” ujar Prof. Dr. Carunia Mulya Firdausy kepada Staging-Point.Com  di lantai 5 Puslit, Gedung LIPI, Jakarta, Kamis (18/1/2018).

Sedangkan investasi SDM antara lain melalui program KIP untuk pelatihan membaca, menulis, dan lain-lain, seperti halnya program kesehatan PKH (Program Keluarga Harapan), bersifat tidak langsung mempengaruhi produktivitas SDM. “Investasi SDM melalui pendidikan, menurut saya, compulsory, wajib. Tapi, jauh lebih penting pula, harus ada evaluasi efektivitas dan efisiensi kartu dan program KIP, KIS, atau PKH; apakah tepat sasar dan manfaat, outcome dan performance,” papar Prof. Dr. Carunia Mulya Firdausy.

Sedangkan Esta Lestari, SE, Master of Economic Study, peneliti LIPI di Jakarta, melihat bahwa hal sangat penting dan dominan dalam investasi SDM ialah pendidikan, tidak hanya masa sekolah SD, SMP, SMA sampai kuliah. “Apakah pendidikan training, transfer knowledge, termasuk soft skill-nya sesuai dengan (kebutuhan pekerjaan) masa depan; Proses pembentukan SDM dipengaruhi pula oleh faktor kualitas penunjang infrastruktur, kurikulum, alat-alat pendidikan, tenaga pendamping dan lingkungannya,” ujar Esta Lestari.

Selain itu, program PKH, KIS, KIP dan program-program lainnya membutuhkan pendampingan dan pengawasan dari Pemerintah. “KIP sangat membantu pembentukan SDM Indonesia tahun 2020-30 atau 2040, masa bonus demografis kita; maka sekarang harus dipersiapkan masa depannya khususnya kualitas pendidikan. Pendidikan lebih mudah dikontrol, masuk atau alpa, nilainya. Sisi kesehatan PKH lebih beragam seperti  persepsi kesehatan, manfaat PKH, bantuan pangan masyarakat miskin, protein, posyandu, asupan vitamin A untuk anak, dan imunisasi. Makanya perlu peran komunitas pendampingan dan pengawasan Pemerintah,” papar Esta Lestari.

Hal yang belum diperhatikan khusus dalam rangka investasi SDM Bangsa Indonesia saat ini, menurut Esta Lestari, yakni faktor kesehatan. “Bahkan boleh dibilang dominan dari pendidikan itu adalah kesehatan.  Sekarang anggaran APBN hanya 5% bidang kesehatan, masih sangat kecil anggarannya. Padahal pembentukan modalitas kemampuan anak dipengaruhi dari masa keemasan, pada masa kehamilan, di tri-semester kehidupannya,” ujar Esta Lestari. Seorang anak terlahir stunting (pendek), misalnya, berisiko rapuh bersaing dengan SDM lebih sehat lainnya.

(Staging-Point.com/2018/01/23)

Oleh Eko Budi Raharta

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita