• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Campak & Gizi Buruk Di Asmat: Evaluasi Kinerja Pemda

Hari Selasa malam 23 Januari 2018, Presiden RI Joko Widodo memanggil Gubernur Papua Lukas Enembe, Bupati Asmat Elisa Kambu, dan Wakil Bupati Kabupaten Nduga Wentius Nimiangge ke Istana Kepresidenan Bogor (Jawa Barat) untuk memutuskan solusi kejadian luar biasa (KLB) campak dan gizi buruk di Kabupaten Asmat, Provinsi Papua (Setkab RI, 24/1/2018).

“Harus ditangani dengan langkah preventif. Tapi apapun harus ada sebuah solusi jangka pendek sampai jangka menengah dan panjang. Saya sudah tahu seperti apa medannya, sangat berat, medan di sana berat. Akan kita segera putuskan apakah mungkin perlu relokasi terbatas atau memerlukan infrastrukstur khusus,” papar Presiden RI Joko Widodo yang didampingi oleh Menteri Kesehatan Nila Moeloek, Menteri Sosial Idrus Marham, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo dan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. Solusi jangka panjang antara lain tercapai ketahanan pangan, pelayanan dasar sekolah dan kesehatan masyarakat Asmat, pembangunan infrastruktur dasar, dan edukasi kebiasaan baru masyarakat.

Menurut Albert W. Nonto, MBA, sekilas kondisi KLB di Asmat, Provinsi Papua, merupakan ironi. Sejak tahun 2001, berlaku UU Otonomi khusus untuk Provinsi Papua dengan dukungan dana triliunan rupiah. Akhir-akhir ini, Pemerintah Pusat juga membangun banyak infrastruktur dasar seperti jalan, pelabuhan, jembatan, dan lain-lain yang memperlancar arus manusia, barang, dan jasa di Papua.

Di sisi lain, ungkap Albert W. Nonto, MBA, kondisi KLB di Asmat, Papua, seakan-akan memperkuat tesis dari hasil riset empiris selama ini seperti Alan Gelb and Associates (1988), Terry Lynn Karl (1997), Hilson dan Basu (2003), Jeffrey Sachs dan Andrew Warner (1995), Jeffrey Sachs (1999), Beaten (2000), dan masih banyak lagi. Temuannya, bahwa Rakyat pada zona kaya sumber alam acapkali berisiko terperangkap oleh tiga paradoks yaitu wilayahnya kaya sumber alam seperti minyak bumi, emas, dan lain-lain; Rakyat terperangkap kemiskinan akut dan/atau konflik; eksploitasi sumber-sumber alam berisiko menggerus kapasitas reproduksi, regenerasi, dan daya-sangga ekosistemnya.

Luas lahan sagu berkisar 771.716 ha di Papua atau sekitar 85% total luas lahan sagu di seluruh Negara RI. Dengan lahan tropis seluas 786.000 km² atau kurang dari 0,5% permukaan bumi, di zona Papua hidup 5-10% dari total spesies planet bumi. Karena itu, sejak abad 19 M, zona Papua selalu menjadi zona pusat riset para ahli asal Eropa dan Amerika Serikat.

Alfred Russel Wallace (1823 –1913) melakukan “Expedition in New Guinea”, Maret-Juli, 1858, di Papua. Ahli lainnya tentang Papua ialah Margareth Mead (1968), Hamilton (1979), Pigram dan Davies (1987), Audley-Charles (1991), Hill & Hall (2003), Cloos et al. (2005). Hall (2002) dan Spakman dan Hall (2010) meneliti dan mengkaji rekonstruksi lempengan Papua dan paleografik Papua. Alfred Russel Wallace (8 Januari 1823 – 7 November 1913), “Expedition in New Guinea”, Maret-Juli, 1858.

“Saya sepakat dengan Gubernur Papua agar pembangunan Papua harus berbasis pendekatan dan keadaan budaya, histori, dan sosio-lingkungan masyarakat Asmat khususnya dan Papua umumnya. Namun, bagaimana kinerja Pemda, dinas sosial, dinas kesehatan, dan lainnya di daerah untuk memastikan semua program berjalan atau tidak. Jangan-jangan pejabatnya lebih asyik datang ke Jakarta,” ujar Albert W. Nonto, MBA, alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta dan Leeds Metropolitan University, Inggris, pada tahun 2003.

Albert W. Nonton, MBA, menyebut contoh program pemberantasan nyamuk malaria di Papua sekitar tahun 1958 hingga awal 1960-an. Para pegawainya digaji oleh Belanda dengan jabatan learen opzichter (pembatu) atau opzichter di Hollandia. Dengan motor tempel dan jaringan SSB, tanpa telepon, petugas pemberantasan nyamuk malaria masuk ke pedalaman Papua dengan bantuan perhubungan udara dari UNICEF. Petugas menghargai budaya lokal seperti tempat keramat dan sakral, rumah adat, rumah ilmu, alat-alat perang, dan lain-lain. Namun, peraturan (ordonantie) sangat ketat diterapkan, misalnya, masyarakat yang menolak program pemberantasan nyamuk malaria, dikenakan denda atau penjara 3 (tiga) bulan. Hasilnya, Papua nyaris bebas dari wabah atau penyakit malaria.

“Pemerintah perlu bekerjasama dengan Gereja lokal, karena mereka dapat menjangkau masyarakat pedalaman dengan medan sangat sulit, lebih gesit, dan terstruktur. Maka Pemerintah perlu mendengar masyarakat lokal dan Gereja,” papar Albert W. Nonto, MBA, kepada Staging-Point.Com, Rabu (24/1/2018) sore di Jakarta. Selain itu, perlu penerapan suatu model pendidikan Sumber Daya Manusia (SDM) Papua khusus bidang agrikultur, sosial, ekonomi, kesehatan, lingkungan, dan lain-lain guna tercipta kesetaraan, kesejahteraan, dan keadilan di semua level kehidupan masyarakat Papua. 

(Staging-Point.com/2018/01/25)

Oleh Servas Pandur

Penerbit


Dollar AS vs Xi-Diplomacy

Perang dollar AS vs Xi-Diplomacy belum memicu ke arah resesi global (lihat grafik). Bagi Rakyat dan Pemerintah Negara RI, pilihannya ialah kemitraan atau kerjasama melahirkan tata tertib dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, keadilan serta ramah lingkungan. Ini amanat Pembukaan UUD 1945. Ini pula peluang dan tantangan bagi Negara RI yang kini menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB hingga tahun 2021. ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita