• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Kelola Kelapa Sawit: Organik & Rawat Hutan Keragaman-hayati

Rabu 17 Januari 2018, sesi pleno Parlemen Uni Eropa (EP) menyetujui, dengan perbandingan 640-18 suara, satu proposal legislasi “Directive on the Promotion of the Use of Energy from Renewable Sources” tentang penghentian penggunaan biofuel berbahan dasar kelapa sawit hingga tahun 2021. Alasannya, mencegah deforestasi. Parlemen Uni Eropa, Komisi eksekutif Uni Eropa (Executive European Commission) dan Pemerintah 28 negara anggota Uni Eropa masih harus membahas draft final dan menyetujui proposal legislasi ini (Reuters,18/1/2018).

Sekitar 90% pasokan minyak sawit dengan harga sekitar 40 miliar dollar AS ke pasar dunia saat ini berasal dari Negara RI dan Malaysia. Zona Eropa merupakan tujuan ekspor minyak sawit asal Negara RI dan Malaysia yang memproduksi minyak sawit pada lahan seluas 17 juta ha. Namun, minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO) mendapat oposisi kuat dari zona pasar Eropa, pasar ke-2 terbesar minyak sawit dunia setelah India, karena risiko kerusakan hutan. Ekspor minyak sawit Negara RI turun dari 2,52 juta ton November 2017 menjadi 2,51 juta ton pada Desember 2017 (Reuters, 23/1/2018).

Pertengahan April 2016, Pemerintah RI merilis rencana kebijakan moratorium kelapa sawit dan pertambangan. “Tidak boleh minta konsesi lagi. Artinya tidak boleh minta konsesi lagi yang dipakai untuk  kelapa sawit,” papar Presiden RI Joko Widodo pada Acara “Gerakan Nasional Penyelamatan Tumbuhan dan Satwa Liar”, di Pulau Karya, Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Kamis pagi (14/4/2016) (Setkab RI, 14/4/2016).

Di Desa Panca Tunggal, Kecamatan Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin, Jumat pagi (13/10/2017) Presiden Joko Widodo menanam perdana kelapa sawit pada program peremajaan kebun sawit seluas 4.400 ha (Setkab RI, 13/10/2017). Kemudian Presiden RI Joko Widodo meresmikan Program Peremajaan Sawit Rakyat di Desa Kota Tengah, Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai, Senin 27 November 2017. Sekitar 350 ribu ha lahan kelapa sawit di Provinsi Sumatera Utara, perlu diremajakan melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Kelapa sawit usia 25-30 tahun kurang produktif. Akibatnya, produktivitas kelapa sawit pada lahan 2,4 juta ha di Negara RI hanya menghasilkan sekitar 2,5 ton CPO (crude palm oil) per ha per tahun. Karena usianya lebih dari 25 tahun dan benihnya kurang baik (Setkab RI, 2017).

Di tengah oposisi kuat di Eropa terhadap CPO, pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Peringatan 40 Tahun Kerja Sama Kemitraan ASEAN-Uni Eropa (UE) di Manila, Filipina, Selasa siang (14/11/2017), Presiden RI Joko Widodo mendesak Uni Eropa menghentikan sikap diskriminasi terhadap produk kelapa sawit dan citra negatif terhadap negara produsen kelapa sawit (Setkab RI, 14/11/2017). Pada Rabu (18/5) tahun 2016, kepada Presiden Rusia, Vladimir Putin, di kediamannya Bucherov Rucey, Sochi (Rusia), Presiden RI, Joko Widodo, menyampaikan permintaan agar ekspor minyak sawit (CPO) RI ke Rusia ditingkatkan (Setkab RI, 18/5/2016).

Selama ini, menurut Dr. Peter C. Aman, OFM, banyak kritik terhadap tata-kelola perkebunan kelapa sawit, karena potensi risikonya terhadap lingkungan. “Peremajaan dalam arti tidak ada perluasan lahan, berarti menahan laju pemusnahan hutan. Peremajaan dalam arti pengelolaan kembali lahan-lahan sawit non-produktif tentu memberi dampak ekonomis terutama bagi petani. Mereka dapat mengolah kembali lahannya dengan bantuan teknis, tanpa kehilangan sumber pendapatan. Namun secara ekologis, pengelolaan kembali lahan kurang produktif menuntut intensifikasi penggunaan pupuk maupun pestisida, yang berisiko terhadap lingkungan hidup, seperti kontanimasi racun pada tanah dan pencemaran air,” papar Dr. Peter C. Aman, OFM, dosen pada STF Driyarkara, kepada Staging-Point.Com, Senin (22/1/2018).

Hasil riset Clifton Sabajo dan Alexander Knohl dari Universitas Göttingen, Jerman, menemukan bahwa perluasan lahan kelapa sawit (palm oil) dan tanaman keras (cash crops) lainnya diduga telah memicu kenaikan suhu kawasan Sumatera yang mempengaruhi tanaman dan hewan di zona ini. "Land use change from forest to cash crops such as oil palm and rubber plantations does not only impact biodiversity and stored carbon, but also has a surface warming effect, adding to climate change,” papar Profesor bioklimatologi Alexander Knohl. Hasil riset ini dirilis oleh majalah Biogeosciences edisi Oktober 2017.

Solusinya, menurut Dr. Peter C. Aman, OFM, yakni pengelolaan kelapa sawit mesti ramah lingkungan dengan pola organik mencegah risiko lingkungan. “Pertama, intensifikasi penanaman kelapa sawit secara berkelanjutan dengan pengelolaan kelapa sawit secara ramah lingkungan, dengan pola organik yang bermanfaat ekonomis dan ekologis. Kedua, mencegah perluasan lahan secara masif dan mengembangkan pola perkebunan multikultur, suatu areal sawit mesti juga diselingi oleh hutan asli atau tanaman lain. Karena perkebunan monokultur terutama sawit memberi kontribusi bagi peningkatan suhu udara,” papar Dr. Peter C. Aman, OFM.

Sedangkan hasil riset Profesor John R. Poulsen (2016), ahli ekologi tropis pada Duke University, pada jutaan ha hutan dan lahan kelapa sawit di Afrika menemukan bahwa konservasi hutan dan keragaman-hayati merupakan resep jitu mengatasi emisi dari perkebunan kelapa sawit di Afrika (Conservation Letters, 24/6/2016). 

(Staging-Point.com/2018/01/28)

Oleh Fens Alwino

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita