• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Kerjasama Infrastruktur RI-Jepang Harus Ciptakan Multiplier Effect

Di Istana Kepresidenan Bogor (Jawa Barat) hari Jumat (19/1/2018), Mr. Hiroto Izumi, Special Advisor for Prime Minister (Jepang) dari Delegasi Khusus Perdana Menteri (PM) Jepang, Toshihiro Nikai (Presiden Liga Parlemen Jepang-Indonesia), melaporkan 6 (enam) proyek kerjasama infrastruktur RI-Jepang di Negara RI kepada Presiden RI Joko Widodo (PresidenRI.go.id, 19/1/2018). 

Hingga awal 2018, keenam proyek kerjasama infrastruktur RI-Jepang yaitu pertama, Pelabuhan Patimban, Subang (Jawa Barat) yang ground breaking akan dilakukan pada Mei 2018; kedua, MRT fase 1, jalur Timur Barat sedang ditetapkan konsultannya; ketiga, pembangunan proyek kereta semi-cepat Jakarta-Surabaya; keempat, Pembangunan Tol Sumatera, ruas jalan dari Padang hingga Pekanbaru; kelima,  pelaksanaan eksploitasi dan eksplorasi Blok Masela; dan keenam, Proyek Perikanan di Pulau-pulau terluar seperti Natuna dan Morotai (PresidenRI.go.id, 19/1/2018).

Menurut Latif Adam, PhD, peneliti asal Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jakarta, bahwa zona Negara RI awal abad 21 menjadi perebutan antara Tiongkok dan Jepang karena Negara RI kaya sumber daya alam (SDA) dan penduduknya banyak. “Indonesia adalah pasar besar karena penduduknya banyak. Kita memang kaya sumber daya alam sehingga menjadi zona ajang perebutan head to head antara Jepang dan Tiongkok. Sementara perhatian Pemerintah ialah pembangunan infrastruktur sampai ke daerah pelosok dari wilayah geopolitik Negara RI. Maka zona pulau terluar menjadi sangat strategis dan potensial,” papar Latif Adam, PhD kepada Staging-Point.Com di lantai 4 Gedung Widya Graha, LIPI, Jakarta (2/2/2018).

Kerjasama pembangunan infrastruktur RI-Jepang atau RI-Tiongkok, menurut Latif Adam, PhD, harus dapat menciptakan multiplier effect.  “Kerjasama pembangunan infrastruktur itu harus dapat menciptakan multiplier effect. Karena banyak program infrastruktur bahkan hingga 200-an, maka perlu skala prioritas dan urgensinya selain negosiasi keuntungan bagi investor. Misalnya, kita dapat memanfaatkan potensi penangkapan ikan dari pulau terluar melalui pembangunan infrastruktur; daerah-daerah itu perlu mengembangkan blue-investment atau investasi berbasis maritim dan kekayaan laut; ini menjadi daya tarik bagi investasi-investasi lainnya. Ini pula sesuai dengan cita-cita Pemerintah sejak semula, yaitu membangun Indonesia dari inklusif pinggiran” ujar  Latif Adam, PhD, alumnus  University of Queensland (Australia).

Secara ekonomis, multiplier effect kerjasama pembangunan infrastruktur RI-Jepang, menurut Latif Adam, PhD, bukan hanya meraih manfaat penangkapan ikannya, tetapi lebih banyak dari nilai tambahnya. “Kita mendapatkan pajak dan mempekerjakan banyak orang di situ. Pemda perlu menjadi ujung tombak kelancaran investasi di sana. Harus terjadi alih-teknologi di sana agar Negara RI tidak hanya dijadikan zona pasar, tetapi juga basis produksi. Saber pungli  mencegah praktek korupsi pada level bidding, pungutan liar, ongkos-ongkos tidak resmi, dan korupsi pada ketentuan yang mensyaratkan otorisasi pemerintah daerah,” ungkap Latif Adam, PhD.

Berbagai risiko sosial dan lingkungan dari setiap proyek kerjasama infrastruktur RI-Jepang, perlu dicegah dan dikontrol sejak dini agar menerapkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan yakni memberi benefit bagi masyarakat, profit ekonomi, dan merawat lingkungan hidup yang menyangga kehidupan di planet bumi dan/atau yang bernilai non-komersial, selain bernilai komersial. “Ketika setiap pembangunan proyek hendak dilaksanakan, mesti ada studi AMDAL (Analisa Dampak Lingkungan) sejak dini yang transparan, clear dan akutanbel sesuai aturan. Jangan sampai terjadi konflik sosial seperti pernah terjadi pada satu proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Jawa Tengah akibat kurang sosialisasi,” papar Latif Adam, PhD.

(Staging-Point.com/2018/02/05)

Oleh Eko Budi Raharta

Penerbit


Dollar AS vs Xi-Diplomacy

Perang dollar AS vs Xi-Diplomacy belum memicu ke arah resesi global (lihat grafik). Bagi Rakyat dan Pemerintah Negara RI, pilihannya ialah kemitraan atau kerjasama melahirkan tata tertib dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, keadilan serta ramah lingkungan. Ini amanat Pembukaan UUD 1945. Ini pula peluang dan tantangan bagi Negara RI yang kini menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB hingga tahun 2021. ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita