• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Nilai Strategis Kerjasama RI-India Abad 21

Kamis 25 Januari 2018 di Hotel Taj Diplomatic Enclave, New Delhi (India), Presiden RI Joko Widodo bertemu dengan Perdana Menteri India, Narendra Modi (Setkab RI, 26/1/2018). Presiden RI Joko Widodo hendak meningkatkan perdagangan RI-India, termasuk menghapus hambatan perdagangan vegetables oil atau palm oil dari Negara RI ke India.

 “Jika ekspor sawit Indonesia berkurang, saya yakin akan berpengaruh juga pada pemenuhan kebutuhan pasar India yang semakin meningkat,” papar Presiden RI Joko Widodo. Presiden RI Joko Widodo juga mengajak India membahas kemitraan Indo-Pasifik (Lingkar Samudra Hindia / Indian Ocean Rim Association/IORA) abad 21 (Setkab RI, 26/1/2018).

Pertemuan bilateral RI-India itu berlangsung ketika pusat gravitasi ekonomi dunia terus bergerak dari zona Atlantik tahun 1980-an ke zona antara India-Tiongkok tahun 2020-an. Pergeseran pusat gravitasi ekonomi dunia ini merujuk pada kegiatan ekonomi penduduk dunia, yang diukur dari Produk Domestik Bumi (PDB) hampir 700 lokasi permukaan bumi (Danny Quah, 2011:1).

Kini negara-negara kawasan Asia Pasifik dan Asia Selatan berupaya merespons pergeseran pusat gravitasi ekonomi global itu. Presiden Republik Indonesia Joko Widodo merilis pidato di depan Pertemuan ke-29 pemimpin forum ekonomi APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation) di Intercontinental Peninsula Resort, Da Nang (Vietnam), Sabtu, 11 November 2017 bahwa laut harus menjadi pusat pembangunan ekonomi inklusif dan terbuka bagi APEC yang terletak di zona lautan terluas dunia, Samudera Pasifik (Setneg RI, 11/11/2017). Kini APEC terdiri dari 21 kelompok ekonomi.

Menurut perkiraan Perserikatan Bangsa-Bangsa (2015), bahwa Juli 2017, total penduduk Negara RI berkisar 263.510.000 atau sekitar 3,51% dari total penduduk dunia. Sedangkan penduduk India berkisar 1.315.740,000 atau sekitar 17,5% hingga Mei 2017; Awal abad 21, Negara RI menempati urutan ke-4 sebagai negara berpenduduk sangat banyak di planet bumi.

Negara RI dapat memanfaatkan peluang kemitraan ekonomi dengan India abad 21, khususnya melalui program studi-banding dan pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM) Negara RI di India dalam bidang disaster management, space, energi nuklir, dan agrikultur. India dan Negara RI juga dapat bekerjasama mendukung keamanan atau stabilitas kawasan Indo-Pasifik melalui kerjasama investasi, perdagangan, pangan, anti-terorisme, agrikultur, energi, mitigasi dan manajemen bencana, transportasi, pariwisata, pendidikan, kesehatan, perang melawan kejahatan trans-nasional dan distribusi obat terlarang, peluncuran satelit dan teknologi IT.

Awal abad 21, Negara RI dan India sama-sama aktif pada 4 (empat) organisasi dunia yaitu Gerakan Non-Blok, PBB, G-20, dan negara E-7. Akhir 2013, Pemerintah RI dan PM India, Singh, telah meraih kemitraan strategis bidang pertahanan-keamanan seperti keamanan maritim, pertahanan, space, energi nuklir, agrikultur, dan transportasi. Di sisi lain, India juga hendak bermitra dengan 10 negara ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) melalui Negara RI, khususnya berkaitan dengan potensi hegemoni Tiongkok di ASEAN awal abad 21.

Kita juga dapat bekerjasama dengan India di bidang biomass sebagai bahan bakar. Kini biomass dijadikan bahan bakar di sejumlah pasar dunia, seperti Eropa, Amerika Serikat, India, dan Tiongkok, yang dapat menjamin keamanan pasokan energi dan meningkatkan lapangan kerja, pendapatan, dan kegiatan arus barang, jasa, uang, dan manusia di daerah-daerah pedesaan (Dominik Röser et al, 2008).

Dari sejarah kita melihat bahwa kemenangan Jepang dalam perang Jepang vs Rusia awal abad 20 memperkuat gerakan nasionalisme dan kemerdekaan Bangsa-bangsa di Asia, seperti perjuangan Mahatma Gandhi dan Nehru di India, Sun Yat Sen di Tiongkok, dan gerakan nasionalis Indo-China dan Birma (Geoffrey Jukes, 2014). Di depan Sidang BPUPKI untuk menyelidik usaha persiapan kemerdekaan Bangsa Indonesia pada 1 Juni 1945 di Jakarta, Ir. Soekarno mengutip kata-kata Mahatma Gandhi (2 Oktober 1869 – 30 Januari 1948), pejuang kemerdekaan Bangsa India: “Saya seorang nasionalis, tetapi kebangsaan saya adalah perikemanusiaan. My nationalism is humanity!” (Sekretariat Negara RI, 1992: 65).

 

Oleh Komarudin Watubun

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita