• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Ras (Papua) Melanesia: Ras Tertua Di Nusantara

Pada pembukaan Muktamar JATMAN dan Halaqoh II Ulama Thoriqoh Luar Negeri di Pendopo Kabupaten Pekalongan (Jawa Tengah), Senin siang (15/1/2018), Presiden RI Joko Widodo menegaskan lagi dasar dan arah kebijakan perlindungan segenap Bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. “Indonesia merupakan negara yang besar yang hidup dalam keberagaman, karena memiliki lebih dari 1.100 bahasa daerah dan 714 suku. Kuncinya, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan Undang-Undang Dasar 1945 untuk menjadi pegangan,” papar Presiden RI Joko Widodo (Setkab RI, 15/1/2018).

Tahun 2017 silam, di Pesantren Nurul Islam, Antirogo, Jember (Jawa Timur), Sabtu (12/8/2017), Presiden RI Joko Widodo merilis nilai persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia. “Kita memiliki 250 juta penduduk, itu nomor 4 di dunia. Kita memiliki 17.000 pulau dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai Pulau Rote, 17.000 pulau. Kita juga memiliki 516 kabupaten dan kota, 34 provinsi, 714 suku yang berbeda-beda, dan 1.100 lebih bahasa lokal beda-beda. Inilah Negara kita Indonesia yang harus kita jaga kita rawat karena kita ini berbeda-beda, kita ini beragam, kita ini majemuk, berbeda agama, berbeda suku, hidup di pulau-pulau yang beda. Kalau kita tidak bersatu, kalau kita tidak rukun, ini yang berbahaya,” papar Presiden RI Joko Widodo (Setkab RI, 12/8/2017).

Pada Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila, di halaman Gedung Pancasila Kementerian Luar Negeri, Jl. Taman Pejambon, Jakarta, Kamis lagi (1/6/2017), Presiden RI Joko Widodo juga menegaskan kodrat Bangsa lndonesia adalah kodrat keberagaman.  Dari Sabang sampai Merauke adalah  keberagaman, dari Miangas sampai Rote adalah keberagaman. Berbagai etnis, berbagai bahasa lokal, berbagai adat istiadat, berbagai agama, kepercayaan, serta golongan bersatu padu  membentuk Bangsa lndonesia.

“ltulah Bhinneka Tunggal Ika kita, Indonesia... Dengan Pancasila, lndonesia adalah rujukan masyarakat internasional untuk membangun kehidupan yang damai, yang adil, yang makmur di tengah kemajemukan dunia,” papar Presiden RI Joko Widodo pada Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila, di halaman Gedung Pancasila Kementerian Luar Negeri, Jl. Taman Pejambon, Jakarta, Kamis (1/6/2017)  (Setkab RI, 1/6/2017).

Meskipun Negara RI terdiri dari pelbagai entitas suku, budaya, ras, bahasa daerah, dialek, agama, kerajaan dan entitas-entitas lainnya, menurut Dr. Yudi Latif, sejak tahun 1945 para pendiri Negara Kebangsaan RI sudah menetapkan jangkar keberagaman Bangsa Indonesia. “Mereka mengikuti hukum matematika. Hukum matematika mengatakan apabila bilangan-bilangan pecahan hendak dijumlahkan, harus samakan dulu penyebutnya. Penjumlahan hanya bisa dilakukan jika penyebutnya sama. Penyebut keanekaragaman di Indonesia terepresentasi dalam Pancasila. Pancasila merupakan titik temu dari semua keanekaragaman yang hidup dan bertumbuh di Indonesia,” ungkap Dr. Yudi Latif.

Selain itu, Dr. Yudi Latief menyatakan bahwa setiap warga masyarakat Bangsa Indonesia saat ini mewarisi minimal dua ras. “Ras Papua Melanesia merupakan ras yang tertua yang diam di tanah Nusantara. Inilah nenek moyang pertama yang mendiami Nusantara ini. Ada juga ras lain seperti ras Mongoloid, yang terdiri dari Asiatic Mongoloid dan American Mongoloid. Namun, kita yang hidup di Indonesia sekarang ini pada umumnya mempunyai lebih dari satu ras. Kita tidak mewarisi satu tetesan ras tertentu, melainkan minimal tiap orang punya dua ras. Jadi, dalam diri kita sendiri sudah ada keanekaragaman. Keanekaraman inilah yang membuat kita satu. Berbeda-beda, tapi tetap satu, itulah yang membuat Indonesia tetap kuat,” papar Dr. Yudi Latif, Kepala Uni Kerja Presiden Bidang Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) kepada kepada Staging-Point.Com, Sabtu (27//2018) di Ballroom Pagaruyung, Lt 3 Balairung Hotel, Jln Matraman Raya No 19, Jakarta.

April 2017, tim ahli Australian National University (ANU) yang dipimpin oleh Dr Debbie Argue, merilis hasil risetnya bahwa Homo floresiensis lebih tua dari Homo erectus yang tersebar di Afrika, Eurasia, India, Tiongkok, dan Indonesia kira-kira 1,9 juta – 143 ribu tahun silam (The Guardian, 2017). Fosil perempuan tinggi 1,06 m dan usia 30 tahun Homo floresiensis ditemukan di Liang Bua, Kabupaten Manggarai, Flores tahun 2003 (Nature, 2004; Manji Hazarika, 2007; Parth R. Chauhan, 2003).

Dari analisa 133 poin spesimen, tim ahli ANU menyimpulkan, Homo floresiensis (“Hobit” postur kecil) mirip Homo habilis di Afrika sekitar 2,4 juta – 1,6 juta tahun silam. Professor Mike Lee dari Flinders University dan South Australian Museum, yang menggunakan model statistik untuk menganalisis data spesimen Homo floresiensis juga menyimpulkan bahwa “Hobit” merupakan “sister species” Homo habilis dan menempati posisi lebih primitif atau lebih tua dalam pohon evolusi manusia. 

(Staging-Point.com/2018/02/07)

Oleh Fens Alwino

Penerbit


ECO-DEMOKRASI

Demokrasi yang terpimpin oleh hikmat kebijaksanaan dapat mengelola alam-alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa secara arif untuk kesejahteraan Rakyat dan sehat lestarinya ekosistem Negara, kecerdasan Bangsa, perlindungan segenap Bangsa dan seluruh tumpah darah dan ketertiban dunia berdasarkan keadilan, kemerdekaan, dan perdamaian. Rakyat tidak hanya berpartisipasi dalam Pemilu, tetapi juga berpartisipasi dalam antisipasi krisis dan tantangan masa datang. Dalam hal ini, upaya-upaya membangun Negara adalah setiap keputusan dan program kerja yang berkaitan dengan sesuatu yang benyawa yakni Rakyat, bumi, air, dan kekayaan alam. Maka sehat atau tidaknya suatu praktek demokrasi dapat diukur dari jejak-ekologisnya (ecological footprint) pada ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. ... Baca selanjutnya

img

Jurnal IPTEK

Berita