• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Pengembangan Bandara di Papua, Bali, dan Jakarta

Selasa (2/1/2018), Presiden RI Joko Widodo meresmikan proyek pembangunan infrastruktur Kereta Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang melayani pergerakan (penerbangan) sekitar 100 pesawat per jam. Target proyek ini, menurut Presiden RI Joko Widodo, yakni mengurangi kemacetan di Jakarta.  “Kita harapkan masyarakat sudah tidak banyak lagi yang menggunakan mobil-mobil pribadi. Tetapi semuanya mau berpindah kepada transportasi massal yang aman, nyaman, dan bisa kita gunakan bersama-sama, baik di Jabodetabek maupun menuju ke bandara ini,” papar Presiden RI Joko Widodo (Setkab RI, 2/1/2018).

Dewasa ini, Pemerintah di berbagai negara terus berlomba membangun infrastruktur bandara nasional dan internasional. Karena bandara menjadi simpul utama perputaran dan arus jasa, barang, uang, manusia, informasi, dan budaya lintas zona dunia. Bandara melayani perputaran barang-barang dan jasa-jasa, data, teknologi, dan kapital lainnya. Bandara juga melayani interaksi orang, wakil pemerintah, dan antar-negara.

Karena perannya sangat penting di era globalisasi, Pemerintah berbagai negara membangun banyak bandara. Data Central Intelligence Agency (CIA) asal Amerika Serikat tahun 2009 menyebutkan bahwa terdapat sedikitnya 44.000 bandara yang dapat terpantau dari angkasa yang tersebar di 196 negara (termasuk Taiwan) awal abad 21. Amerika Serikat memiliki 15.095 bandara (CIA, 2015).

Khusus di Negara RI, di zona Papua saat ini, terdapat sekitar 500 bandara—ukuran kecil dan besar. Namun, level keamanan penerbangannya masih rendah. Karena selama ini, penerbangan di Papua mengandalkan kemampuan visual, sebelum penambahan Automatic Dependent Surveillance – Broadcast (ADS-B)—alat penangkap sinyal dari transponder pesawat sipil hingga radius 200 mil. ADS-B sangat membantu deteksi pergerakan pesawat sipil di Papua. Tentu saja, penggunaan sarana teknologi seperti ADS-B sangat membantu peningkatan upaya keselamatan dalam penerbangan di zona Papua kini dan masa-masa datang.

Karena itu, pengembangan bandara di Papua, Bali, dan Jakarta, bukan hanya penambahan landasan pacu (run-away), tetapi juga infrastruktur pendukung keselamatan penerbangan dan infrastruktur jasa penerbangan. Apalagi, tenaga ahli Warga Negara Indonesia (WNI) dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sudah mampu memproduksi teknologi pemantau penerbangan nir radar berbasis ADS-B.

Produsi ADS-B dari dalam negeri tentu dapat menambah 31 Ground Station ADS-B saat ini di seluruh wilayah penerbangan Negara RI yang hanya melayani 10 Ground Station terpadu dengan Jakarta Air Traffic Service Center (JATSC) dan 21 Ground Station terpadu dengan Makassar Air Traffic Service Center (MATSC) di Sulawesi Selatan.

Banyak bandara dewasa ini dilengkapi pula dengan infrastruktur helipad, selain menara kontrol, hanggar, terminal, jembatan taxiways, air traffic control centre, fasilitas restoran, pusat belanja, zona jasa-jasa operator, airport-apron, ground-support equipment, direktori, entertainment, dan jasa-jasa emergency. Misalnya, jasa butik dan restoran pada 15.095 bandara di Amerika Serikat, memutar dana sekitar 4,2 miliar dollar AS tahun 2015 (Daniel Gross, 2017). Infrastruktur-infrastruktur seperti ini sudah banyak tersedia di Bali dan Jakarta, kecuali di Papua.

Isu lingkungan juga termasuk faktor penting dipertimbangkan dalam pembangunan dan/atau pengembangan bandara-bandara di Papua, Bali, dan Jakarta. Hal ini berkaitan dengan polusi, bising (noise health effects), pola drainase di zona-zona lahan pertanian, saluran air, udara sehat atau bersih, dan lain-lain. Kita juga dapat belajar dari penggunaan energi solar pada bandara Kochi, India. Bandara ini merupakan bandara pertama di dunia yang menggunakan energi solar.

Infrastruktur pendukung lain yang sangat pokok ialah infrastruktur manajemen keselamatan (safety management) dan infrastruktur observasi atau pemantauan cuaca. Infrastruktur ini sangat penting bagi keselamatan pengguna jasa penerbangan. Sejauh ini, bandara-bandara dalam negeri, sudah dilengkapi dengan alat-alat detektor untuk mencegah kriminalitas, ancaman bom, penyanderaan, atau aksi-aksi teroris lainnya. 

Oleh Komarudin Watubun

Penerbit


ECO-DEMOKRASI

Demokrasi yang terpimpin oleh hikmat kebijaksanaan dapat mengelola alam-alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa secara arif untuk kesejahteraan Rakyat dan sehat lestarinya ekosistem Negara, kecerdasan Bangsa, perlindungan segenap Bangsa dan seluruh tumpah darah dan ketertiban dunia berdasarkan keadilan, kemerdekaan, dan perdamaian. Rakyat tidak hanya berpartisipasi dalam Pemilu, tetapi juga berpartisipasi dalam antisipasi krisis dan tantangan masa datang. Dalam hal ini, upaya-upaya membangun Negara adalah setiap keputusan dan program kerja yang berkaitan dengan sesuatu yang benyawa yakni Rakyat, bumi, air, dan kekayaan alam. Maka sehat atau tidaknya suatu praktek demokrasi dapat diukur dari jejak-ekologisnya (ecological footprint) pada ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. ... Baca selanjutnya

img

Jurnal IPTEK

Berita