• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Evaluasi Kinerja Ekspor RI: Ubah Orientasi Pasar

Dengan kurs Rp 13.500 / dollar AS, defisit neraca perdagangan Negara RI pada Desember 2017 berkisar Rp 3,64 triliun (270 juta dollar AS). Defisit ini sama dengan defisit perdagangan RI pada Juli 2017. Secara umum, sepanjang tahun 2017, surplus perdagangan RI mencapai 11,84 miliar dollar AS. Begitu rilis data Badan Pusat Statistik (BPS) di Kantor BPS, Jakarta, Senin (15/1/2018).  Defisit perdagangan RI pada Desember 2017, antara lain akibat lemahnya ekspor non-migas (Reuters, 15/1/2018; The Financial Times, 15/1/2018).

Rabu pagi (31/1/2018) pada Rapat Kerja Kementerian Perdagangan di Istana Negara (Jakarta), Presiden RI Joko Widodo menyorot kinerja ekspor Negara RI yang kalah jauh, jika dibanding kinerja ekspor Vietnam, Malaysia, dan Thailand. “Angka ekspor Thailand tahun 2016 sebesar 231 miliar dollar AS, Malaysia 184 miliar dollar AS, Indonesia 145 miliar dollar  AS. Ini yang harus diubah. Pasti ada yang keliru,” papar Presiden RI Joko Widodo. Rapat itu dihadiri oleh Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Mensesneg Pratikno, dan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko (Setkab, 31/1/2018).

Menurut Kiki Verico, S.E., MRI.,Ph.D, dosen pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Indonesia (UI), kekuatan ekspor negara-negara ASEAN (Association of South East Asia Nations) terletak pada jaringannya di sektor produk elektronik, otomotif, dan kimia. Sedangkan kekuatan produk Negara RI terletak pada CPO (crude palm oil), karet, kopi, teh, kayu dan produk industri lebih ke produk makanan dan minuman. “Basis produk Negara RI lebih kuat pada industri makanan dan minuman, tetapi tidak terlalu kuat dalam jaringan produksi ASEAN. Kita juga lebih berorientasi ke pasar dalam negeri dengan nilai tukarnya rupiah,” ujar Kiki Verico kepada Staging-Point.Com, Senin (5/2/2018) di lantai 2 Gedung Ekonomi, FEB UI, Depok.

Orientasi produksi dengan target pasar dalam negeri sudah berlangsung lama pada tata-ekonomi Negara RI. “Current account (CA) Indonesia selama 1967-1997 selalu negatif. Perekonomian kita tumbuh 7%, tetapi orientasinya bukan terutama ke ekspor. Perusahaan asing juga sama orientasinya ke pasar dalam negeri, bukan ekspor,” ungkap Dr. Kiki Verico.

Dari sisi ekspor, struktur angka ekspor Penanaman Modal Asing mencapai 75%, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sekitar 39%, dan non-fasilitas sekitar 19%. “Memang pelaku utama ekspor kita adalah PMA. Tapi dari sisi nilai, belum terlalu besar seperti Malaysia dan Thailand. Karena orientasinya masih pasar domestik. Baru beberapa tahun terakhir, oerientasi produk otomotif seperti mobil dan motor asal RI untuk ekspor ke Filipina,” ungkap Dr. Kiki Verico, alumnus S3 International Studies (Ekonomi Kawasan) dari Waseda University di Tokyo, Jepang.

Selain itu, menurut Dr. Kiki Verico, kinerja Sumber Daya Manusia (SDM) Negara RI, masih sulit bersaing dengan SDM sejumlah negara lain di lingkungan ASEAN dengan jumlah penduduk sekitar 600 juta dan PDB (Produk Domestik Bruto) tahun 2010 mencapai 1,8 triliun dollar AS. “Untuk menjadikan zona RI sebagai basis produksi, kita membutuhkan kemampuan SDM. Sekarang tingkat pendidikan kita masih kalah dari negara tetangga. Sekitar 75% warga RI berijasah SMP ke bawah. Berarti 25% itu disebut skilled labour, berijazah SMA dan SMK. Artinya lapangan kerja yang tersedia adalah low skill,” papar Dr. Kiki Verico.

Dasar dan arah kebijakan Pemerintah akhir-akhir ini secara umum, menurut Dr. Kiki Verico, sudah tepat. “Sekarang kita sedang giat membangun infrastruktur skala besar sebagai prakondisi atau syarat. Tahun 2018, Pemerintah fokus ke SDM terutama terkait dengan perkembangan industri. Sebagian ini merupakan prasyarat. Apalagi kita nanti menghadapi bonus demografi. Leverage akan turun. Kita membangun infrastruktur dan mempersiapkan daya-saing SDM kita,” ujar Dr. Kiki Verico.

Hasil kebijakan strategis infrastruktur dan SDM tersebut di atas, menurut Dr. Kiki Verico, belum terlihat langsung pada periode jangka pendek. “Tapi, kita sudah on the track, kita benahi pola perdagangan kita. Orentasi pasar ekspor kita harus mulai diubah. Misalnya kita mesti mulai menengok segmen pasar Afrika, Amerika Latin, dan Asia Selatan. Kawasan ini potensial. Bukan hanya orientasi pasar ke negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika saja,” papar Dr. Kiki Verico. 

(Staging-Point.com/2018/02/10)

Oleh Eko Budi Raharto

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita