• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Tiga Faktor Penentu Daya-Saing & Prestasi Atlet Nasional

Fakultas-fakultas dan jurusan-jurusan perguruan tinggi di Negara RI perlu melakukan inovasi antara lain membentuk Fakultas Industri Olahraga dan Fakultas Manajemen Sepak bola guna meningkatkan daya-saing Sumber Daya Manusia (SDM) Bangsa Indonesia. “Terobosan di bidang pendidikan harus lebih signifikan dibanding dengan terobosan di bidang infrastruktur... Jurusannya manajemen sepak bola atau langsung saja fakultas manajemen sepak bola. Ada tidak di sini (Negara RI, red)? Tidak ada kan? Sepak bola Indonesia kalah terus karena universitas tidak buka fakultas itu. Coba 20 tahun lalu buka, pasti sepak bola kita sudah juara. Tidak percaya? Buka,” papar Presiden RI Joko Widodo pada Acara Konvensi Kampus XIV Forum Rektor Indonesia (FRI) di Universitas Hasanuddin, Makassar (Sulawesi Selatan), Kamis sore (15/2/2018) (Setkab RI, 15/2/2018).

Pada Kamis 19 Oktober 2017 di Jakarta, Presiden RI Joko Widodo menetapkan Peraturan Presiden (Perpres) Republik Indonesia Nomor 95 Tahun 2017 tentang Peningkatan Prestasi Olahraga Nasional. Pasal 1 ayat (4) Perpres ini berisi ketentuan umum tentang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Keolahragaan yang dapat menghasilkan nilai bagi pemenuhan kebutuhan, kelangsungan, peningkatan mutu dan prestasi olahraga Negara RI. 

Dalam persaingan global dan tata-pergaulan internasional selama ini, menurut Dr. Suwarno, olahraga selain kinerja ekonomi dan kekuatan militer, selalu menjadi barometer keunggulan dan daya-saing berbagai Negara dan Bangsa. “Kekuatan suatu negara selalu mudah diukur dari kinerja ekonomi, kekuatan militer, dan prestasi olahraganya,” papar Dr. Suwarno, alumnus S3 bidang kebijakan publik dan manajemen (olahraga) dari Universitas Brawijaya (Malang) tahun 2017 kepada Staging-Point.Com, Rabu (7/2/2018) di Lantai 12 Gedung Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), Jakarta.  

Para pendiri Negara-Bangsa RI dan pejuang Kemerdekaan Bangsa Indonesia sejak awal telah menjabarkan dan menggunakan tiga kekuatan itu. Dr. Suwarno menyebut contoh. “Presiden RI Soekarno menggelar Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama di Solo (Jawa Tengah) tahun 1948. Saat itu, kolonialis Belanda melakukan Agresi Militer II ke wilayah Republik Indonesia, khususnya Yogyakarta. Bung Karno antara lain menggunakan olahraga untuk menyatakan ke dunia bahwa Negara RI masih eksis. Olahraga tidak kenal SARA, tapi olahraga memersatukan kekuatan atau komponen Bangsa yang ketika itu belum bersatu. Dengan PON di Solo, nilai ke dalam dan ke luarnya luar biasa. Semua bersatu, sebagai integritas Bangsa,” ungkap Dr. Suwarno, peneliti ilmiah olahraga nasional, khususnya studi tentang Pelatihan Nasional Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Perpres 22 tahun 2010 tentang Program Indonesia Emas).  

Dr. Suwarno menyebut contoh-contoh lain. “Tahun 1956, Presiden RI Soekarno berupaya mewujudkan sebuah Indonesia baru berbasis ilmu pengetahuan, mentalitas dan fisik. Sehingga kebijakan Pemerintah mewajibkan semua sekolah memasukkan pendidikan jasmani sebagai bagian dari kurikulum. Melalui Keputusan Presiden RI Soekarno No. 131 tahun 1962, Presiden Soekarno menjadikan olahraga sebagai instrumen nation and character building, pembentukan karakter Bangsa dan nasionalisme, dan merebut posisi tuan rumah Asian Games,” ujar Dr. Suwarno, penulis disertasi Implementasi Kebijakan Berbasis Kelembagaan, Komunikasi, Sumber Daya, Disposisi dan Struktur Birokrasi Dalam Menggerakan Pelatihan Menuju Prestasi Kerja, dengan promotor Prof. Dr. Soemartono  MS, Ko-Promotor Dr. Mardiyono MPA dan  Dr. Solimun, MS, di Universitas Brawijaya.

Berdasarkan Keputusan Presiden RI Soekarno No. 131 tahun 1962, Presiden RI Soekarno membentuk Departemen Olahraga. Strategi kebijakan olahraga Presiden RI Soekarno juga dilanjutkan oleh Presiden RI Soeharto antara lain untuk membangun Manusia Indonesia seutuhnya. “Pada masa Presiden Soeharto, Olahraga bukan hanya untuk anak-anak sekolah, bukan hanya Pegawai Negeri Sipil, TNI dan Polri saja. Makanya Presiden Soeharto menyampaikan motto, memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat,” papar Dr. Suwarno, alumnus AKABRI tahun 1977 dan PPSA XV Lemhannas tahun 2007.

Pada masa Presiden RI Abdurrahman Wahid, Kementerian Pemuda dan Olahraga dibubarkan. Bidang olahraga berada di bawah satu direktorat pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Sejak itu, dasar, arah dan implementasi kebijakan Pemerintah bidang olahraga tidak jelas dan prestasi olahraga RI merosot. “Pada Sea Games 1977-1997, hanya dua kali (tahun 1985 dan 1995), RI berada pada posisi ke-2, karena tuan rumahnya Thailand. Selebihnya, RI nomor satu. Sesudah itu kita anjlok prestasinya. Begitu pula kita sekarang menerapkan UU No 3 Tahun 2005. Ternyata latar belakangnya dulu, masih sangat bersifat ada politiknya, ada KONI dan KOI (Komite Olahraga Indonesia),” ungkap Dr. Suwarno.

Kini dan ke depan, menurut Dr. Suwarno, ada tiga faktor penentu daya-saing dan prestasi atlet nasional yakni pembinaan dan pelatihan olahraga secara sistematis, terencana, dan berkelanjutan; KONI dan KOI disatukan, dan revisi UU No. 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional. “Pembinaan dan pelatihan olahraga harus benar dulu melalui sistem koordinasi nasional; KONI dan KOI disatukan; dan revisi No 3 tahun 2005 antara lain cantumkan KONI sebagai pembina dan penanggungjawab prestasi olahraga nasional,” ujar Dr. Suwarno. Pasal 5 ayat (2) Perpres No. 95 Tahun 2017, KONI adalah pembantu Menteri di bidang pengawasan dan pendampingan pengembangan bakat calon atlet berprestasi. 

(Staging-Point.com/2018/02/17)

Oleh Eko Budi Raharta

Penerbit


Dollar AS vs Xi-Diplomacy

Perang dollar AS vs Xi-Diplomacy belum memicu ke arah resesi global (lihat grafik). Bagi Rakyat dan Pemerintah Negara RI, pilihannya ialah kemitraan atau kerjasama melahirkan tata tertib dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, keadilan serta ramah lingkungan. Ini amanat Pembukaan UUD 1945. Ini pula peluang dan tantangan bagi Negara RI yang kini menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB hingga tahun 2021. ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita