• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Studi Kawasan & Bangun Jaringan Ke Asia Selatan, Pasifik & Timur Tengah

Pada pembukaan Rapat Terbatas (Ratas) Pendirian Universitas Islam Internasional Indonesia di Istana Merdeka (Jakarta), Kamis (18/1/2018), Presiden RI Joko Widodo menyampaikan saran beberapa pemimpin asal Timur Tengah pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di Jakarta, April 2016.

“Saat pertemuan OKI di Jakarta, beberapa pemimpin Timur Tengah menyarankan kepada saya, Sekjen OKI, saat itu juga Presiden Mahmoud Abbas, generasi muda Indonesia yang dikirim ke Timur Tengah, yang sekolah ke Timur Tengah, menurut beliau-beliau itu sebaiknya belajar ekonomi, perdagangan, atau perminyakan. Beliau menyampaikan itu,” papar Presiden RI Joko Widodo di depan Ratas Pendirian Universitas Islam Internasional Indonesia (Setkab RI, 18/1/2018).

Dr. Broto Wardoyo, S.Sos, M.A., dosen Departemen Hubungan Internasional, FISIP Universitas Indonesia (UI), mendukung program pendidikan perminyakan bagi pelajar asal Negara RI di Timur Tengah. “Saya sebenarnya sepakat dengan usulan Pemerintah yang sebisa mungkin pelajar ke Timur Tengah tidak hanya belajar agama. Bukan berarti tidak boleh belajar agama. Kalau kirim pelajar ke Timur Tengah untuk belajar perminyakan, masih masuk akal. Karena ada kampus yang kuat bidang perminyakan di Qatar dan Saudi, seperti Universitas King Saud, King Abdul Aziz. atau King Fahd.  Hanya yang perlu dipikirkan adalah apakah infrastrukturnya mendukung,’ ungkap Dr. Broto Wardoyo, alumnus S2 bidang Middle East History dari Timur Tengah kepada Staging-Point.Com, Senin (19/2/2018) di Lantai 2, Gedung Departemen Hubungan Internasional, FISIP UI, Depok.

Namun, Dr. Broto Wardoyo, S.Sos, M.A., kurang sepakat jika belajar ekonomi ke negara-negara Timur Tengah atau negara Arab. “Kalau belajar ekonomi di Timur Tengah, agak berat. Kalau bisa berbahasa Arab, tidak masalah. Karena bahasa Inggris sebagai international program, jarang sekali. Kalau ekonomi atau finance tentu lebih bagus di Inggris. Jika ingin belajar ekonomi Islam, misalnya, pelajar internasional datang ke universitas di Turki, bukan negara-negara Arab. Sedangkan kalau ke Timur Tengah, bisa berbahasa Arab karena ke sana mau belajar reliji,” ungkap Dr. Broto Wardoyo, alumnus S2 (master thesis) bidang studi Asia Pasifik dari National Chengchi University, Taiwan.

Tantangan belajar di negara-negara Timur Tengah saat ini, menurut Dr. Broto Wardoyo, S.Sos, M.A., ialah infrastrukturnya. “Pertanyaan terbesarnya adalah apakah infrastrukturnya memadai atau tidak? Timur Tengah tidak senyaman yang dibayangkan, karena ada konflik ketegangannya. Tidak senyaman di sini. Karena ada konflik, seperti Lebanon, Suriah, Qatar konflik dengan Saudi. Jadi, stabilitas politiknya memungkinkan atau tidak, kalau kirim pelajar atau belajar ke sana. Kalau program master 1-2 tahun mungkin tidak masalah, tetapi  kalau undergraduate atau postgraduate, akan lebih lama durasi kuliahnya,” ujar Dr. Broto Wardoyo.

Universitas internasional juga ada di beberapa negara Timur Tengah. Dr. Broto Wardoyo menyebut contoh American University di Beirut dan beberapa universitas asal Amerika Serikat yang membuka cabangnya di Timur Tengah. “Universitas terbagus adalah American University di Beirut. Ada beberapa kampus asal Amerika Serikat di Timur Tengah. Tapi seperti di Israel, biaya sekolah dan biaya hidupnya memang lebih mahal karena pertimbangan keamanan, jika dibanding biaya kuliat di Eropa. Sangat berbeda dengan Universitas Al Azhar atau Universitas Madinah. Yang harus dipertimbangkan itu,” ungkap Dr. Broto Wardoyo.

Secara umum, kajian Asia Timur bagi pelajar-pelajar asal Negara RI, menurut Dr. Broto Wardoyo, cukup maju. Namun, studi dan jaringan kerja ke kawasan lain seperti Afrika, Asia Selatan, dan Pasifik Selatan, masih terbatas. “Belajar di Timur Tengah dan memahami konteks lokal dapat membentuk networking. Memang kajian Asia Timur kita cukup komplet, tapi tidak untuk kajian Pasifik Selatan yang perlu untuk membantu diplomasi kita. Kita lemah di studi wilayah Asia Selatan, Pasifik Selatan atau Afrika. Kita belajar ke Timur Tengah juga agar mempunyai network. Kita kalah dari jaringan diaspora Tiongkok dan India yang bisa masuk ke Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan,” papar Dr. Broto Wardoyo, alumnus S3 di Taipei, Taiwan. 

(Staging-Point.com/2018/02/19)

 

Oleh Eko Budi Raharta

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita