• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Manfaatkan Kredibilitas RI Untuk Investasi dan Peluang Ekonomi

Selasa siang (6/2/2018) di Istana Merdeka (Jakarta), Presiden RI Joko Widodo menerima kunjungan kehormatan Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia (United Nations High Commissioner for Human Rights) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Zeid Ra`ad Al Hussein. Zeid Ra`ad Al Hussein mengakui dan menghargai peran Pemerintah dan Rakyat RI yang konsisten membantu pengungsi Rohingya dari Myanmar. Menurut Zeid Ra`ad Al Hussein, RI dapat memimpin upaya penyelesaian krisis kemanusian Rohingya (Setkab RI, 6/2/2018).

Menurut  Dr. Ganewati Wuryandari, MA, peneliti senior dan Head of Research Centre for Regional Resources (P2SDR), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, bahwa saat ini kepemimpinan Negara RI sangat nyata dan menonjol di wilayah ASEAN (The Association of Southeast Asian Nations). “Kepemimpinan Negara RI sangat nyata di wilayah ASEAN. RI sangat menonjol di antara negara-negara ASEAN lainnya.  Model kepemimpinan seperti ini harus dicatat sebagai capaian politik luar negeri RI. RI disegani di mata negara-negara ASEAN. Secara sosial, kredibilitas Negara RI semakin baik,” papar Dr. Ganewati Wuryandari, MA, alumnus S3 (Ph.D) bidang Kajian Asia (Asian Studies) di University of Western Australia ( Perth), pada tahun 2006, kepada Staging-Point.Com, Selasa (20/2/2018) di lantai 8 Gedung Widya Graha, LIPI, Jakarta.

Saat ini, menurut Dr. Ganewati Wuryandari, MA, Pemerintah RI semakin aktif dalam upaya penyelesaian konflik-konflik internasional, krisis kemanusiaan, dan terlibat dalam forum-forum internasional karena adanya dukungan stabilitas politik dalam negeri, pertumbuhan ekonomi, dan kepercayaan internasional terhadap Negara RI.

“Pada masa-masa awal pemerintahannya, Presiden RI Joko Widodo lebih banyak menyelesaikan urusan dalam negeri ketimbang urusan-urusan luar negeri. Tetapi, dalam perkembangannya, politik luar negeri RI justru semakin terlibat dalam forum-forum internasional dan penyelesaian konflik-konflik atau krisis internasional,” papar Dr. Ganewati Wuryandari, MA.

Peran RI dalam penyelesaian krisis internasional itu, antara lain, dari Pangkalan TNI-AU Halim Perdanakusuma, Rabu (13/9/2017), Presiden Joko Widodo memimpin acara pemberangkatan 4 herkules bantuan kemanusian berupa beras, ada bantuan makanan siap saji, ada family kit, ada tangki air, tenda, pengungsi, pakaian anak dan serta selimut untuk pengungsi dari Rakhine State di perbatasan Bangladesh-Myanmar. Sebelumnya Pemerintah RI melalui Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, melakukan koordinasi program bantuan ini dengan Pemerintah Bangladesh dan Myanmar (Setkab RI, 13/9/2017). 

Pada Januari dan Februari 2017, Pemerintah RI mengirim 10 kontainer obat-obatan dan makanan untuk pengungsi Rohingya. Sebetulnya yang dibutuhkan, bukan kecaman-kecaman atau pernyataan-pernyataan yang keras, tetapi tidak menyelesaikan masalah,” papar Presiden RI Joko Widodo kepada para ulama dari Jawa Tengah, yang datang menemuinya di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu sore (13/9/2017) (Setkab RI, 13/9/2017).  Presiden RI Joko Widodo mengunjungi Kamp Pengungsi Rakhine State, di Jamtoli, Cox’s Bazar, Bangladesh, Minggu sore (28/1/218) (Setkab RI, 28/1/2018).

Presiden Joko Widodo juga menugaskan Menlu RI, Retno Marsudi, untuk menjalin komunikasi intensif dengan berbagai pihak, termasuk Sekjen PBB Antonio Guterres, dan Komisi Penasehat Khusus untuk Rakhine State, Kofi Annan, dalam penyelesaian krisis Rohingya. “Pemerintah berkomitmen terus untuk membantu mengatasi krisis kemanusiaan, bersinergi dengan kekuatan masyarakat sipil di Indonesia, dan juga masyarakat internasional. Sekali lagi, kekerasan, krisis kemanusiaan ini harus segera dihentikan,” papar Presiden RI Joko Widodo dalam pernyataan pers di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu malam (3/9/2017) (Setkab RI, 3/9/2017).

Akhir-akhir ini, kredibilitas Negara RI pada forum internasional, menurut Dr. Ganewati Wuryandari, MA, perlu dimanfaatkan, bukan hanya dalam rangka partisipasi Negara RI dalam penyelesaian konflik-konflik dan krisis kemanusian internasional, tetapi juga peluang ekonomi dan investasi. “Kredibilitas itu sangat penting karena terkait juga dengan investasi. Investor hanya bisa berinvestasi jika mereka memiliki kepercayaan bahwa negara tujuan investasi itu dapat dipercaya. Maka kredibilitas itu bisa dimanfaatkan untuk peluang ekonomi. Untuk tujuan ke luar, RI sudah berani berekspansi mengembangkan pengaruh sosial dan ekonomi. Misalnya yang dilakukan oleh Lippo Group membangun 20 Rumah Sakit Siloam di Myanmar,” ungkap Dr. Ganewati Wuryandari, MA, alumnus S2 (master thesis) bidang hubungan internasional (Department of Politics) di Monash University (Melboune) tahun 1994.

Selain itu, peran Negara RI melalui Pemerintah dalam penyelesaian konflik-konflik internasional dan krisis-krisis manusia atau lingkungan merupakan pelaksanaan amanat UUD 1945. “Alinea ke-4 UUD 1945 menyatakan visi Negara Indonesia untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Atas dasar inilah RI memediasi penyelesaian konflik-konflik antara Pemerintah Myanmar dengan penduduk Rohingya. RI memediasi konflik dengan cara hadir langsung di Myanmar untuk memberikan bantuan-bantuan kemanusiaan berupa makanan, pakaian, dan kesehatan. Ketika penduduk Rohingya keluar dari wilayah mereka dan mengungsi ke Aceh, masyarakat Indonesia yang ada di Aceh sangat welcome dengan mereka,” papar Dr. Ganewati Wuryandari, MA. 

(Staging-Point.com/2018/02/22)

Oleh Fens Alwino

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita