• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Pers Untuk Daya-Saing SDM: Etika, Kecepatan & Akurasi

Hari Jumat (9/2/2018) pada Acara Puncak Peringatan Hari Pers Nasional Tahun 2018 di Danau Cimpago, Pantai Padang Sumatra Barat, Presiden RI Joko Widodo merilis rencana Pemerintah RI untuk mendukung pendirian Museum Adinegoro di Pasar Talawi, Sawahlunto, Sumatra Barat.

“Pemerintah akan mendukung penuh pendirian museum tersebut dan kelak di museum itu, kita dapat mengenal karya-karya dan jejak langkah beliau (Adinegoro, red) sebagai wartawan dan sastrawan yang  begitu besar perannya dalam memajukan pers Indonesia, pers yang bertanggungjawab dan pers yang menggalang persatuan Bangsa,” papar Presiden RI Joko Widodo di depan pimpinan lembaga negara, para menteri Kabinet Kerja, Panglima TNI, Kapolri, para duta besar negara-negara sahabat, undangan dan hadirin lainnya (Setkab RI, 9/2/2018).  

Tokoh pers Negara RI, Djamaluddin Gelar Datuk Maradjo—nama pena Adinegoro, lahir dan tumbuh dewasa di Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto. Karyanya antara lain Darah Muda (1931), Asmara Jaya (1932), Melawat ke Barat (1954), atlas pertama Indonesia dan ensiklopedia pertama bahasa Indonesia. Sebagai asisten voluntir beberapa surat kabar, Adinegoro pernah tinggal di Utrecht, Belanda. Kemudian ia pindah ke Berlin, Munich, dan Warzburg untuk belajar pes, geografi, kartografi, dan filosofi.

Adinegoro juga pernah berkunjung ke negara Balkan, Turki, Yunani, Italia, Mesir, Abyssinia, dan bahkan India. Tahun 1931, Adinegoro kembali ke Indonesia dan memimpin surat kabar Pewarta Deli di Medan, Sumatera Utara. Editorialnya pada Pewarta Deli menyuarakan perjuangan kemerdekaan Indonesia, nasionalisme serta melawan kolonialisme (Yasuhiro Kuroiwa, 2012).

Menurut Endah Triastuti S.Sos., M.Si., Ph.D, Ketua Program Studi Sarjana, Departemen Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Indonesia (UI), tulisan dan pemikiran Adinegoro mengedepankan nilai nasionalisme dan menolak pemikiran sektarian berbasis SARA (suku, ras, agama dan antar-golongan).  “Pemikiran Adinegoro tidak mengakar pada kesukuan, subyektif, SARA; tidak hanya menolak SARA, tetapi komprehensif, menyeluruh, dan cover both sides. Ia menggali berita dan mengedepankan nilai nasionalisme. Zaman itu awal abad 20, sejak STOVIA, beliau sudah berpikiran luas,” papar Endah Triastuti, Ph.D, expert dari Negara RI untuk laporan ilmiah Research on Development and Management of ASEAN Womens ICT Development Index (WIDI) (ASEAN-ROK Publication Fund, 2016), kepada Staging-Point.Com, Senin (26/2/2018) di lantai 2 Gedung FISIP UI, Depok (Jawa Barat).

Nilai-nilai nasionalisme pers Adinegoro, menurut Endah Triastuti, Ph.D, dapat diwariskan melalui pendidikan jurnalistik, kepatuhan pada etika jurnalistik, dan merawat stabilitas nasional atau Bhinneka Tunggal Ika Negara-Bangsa RI. “Pers nasional sebelum era milenial sekarang, generasi yang lahir sesudah 1984, menggali data dan menulis sangat hati-hati, tidak mengutip-ngutip dari sumber berita lain. Ini adalah nilai zaman, warisan pers perjuangan era Adinegoro, yang memiliki sense fakta, aktual, nyata, dan mediated serta merawat nilai nasionalisme. Kalau sekarang era milenial media konvergensi, apakah masih seperti media zaman dulu yang memiliki etika dan merawat stabilitas nasional?” ujar Endah Triastuti, Ph.D, alumnus S3 Faculty of Arts, University of Wollongong (Australia) studi perempuan dan media.

Media konvergensi yang hanya menjadi kumpulan hoax atau gosip, mengedepankan sensasi daripada substansi, dan tanpa etika jurnalistik, sulit mendukung daya-saing Sumber Daya Manusia (SDM). “Di era milenial media konvergensi saat ini, hoax atau gosip mendapat lahan subur. Berita adalah komoditi yang dapat direkayasa dan dijual-beli. Ada media memasang berita sama, tapi judulnya diubah agar dapat diklik berkali-kali dan mendapat bayaran. Ini terjadi juga di Australia dan Amerika Serikat. Karena itu, saya ragu, apakah pers semcam ini masih dapat berfungsi mencerdaskan Bangsa guna mendukung daya saing SDM kita,” papar Endah Triastuti, Ph.D, alumnus S2 bidang studi perempuan (kajian gender) dari Universitas Indonesia.

Di era revolusi teknologi komunikasi dan informasi dewasa ini, kecepatan dan ketepatan selalu menjadi patokan daya-saing. Data diolah menjadi informasi. Informasi diolah menjadi pengetahuan. Tahapan ini, menurut Endah Triastuti, Ph.D, merupakan domain pendidikan atau pelatihan pers yang perlu memasukkan media sebagai bagian dari pertimbangan penyusunan kurikulum.

Untuk mendukung daya-saing masyarakat, menurut Endah Triastuti, Ph.D., pers perlu mandiri, independen, dan memiliki moral judgment untuk menyampaikan fakta kebenaran kepada publik. “Adinegoro hidup di lingkungan masyarakat dengan tradisi kemandirian kuat, budaya merantau, lebih independen, dan memiliki moral-judgment. Tradisi ini perlu dikembangkan oleh pers karena baik dan bermanfaat bagi masyarakat. Pilihannya ialah pendidikan pers kembali ke dasar, aturan baku pers dan etika jurnalistik, utamakan kecepatan tanpa mengabaikan akurasi,” ujar Endah Triastuti, Ph.D. 

 

Oleh Eko Budi Raharta

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita