• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Revitalisasi DAS Citarum : Pohon Ekonomis-Ekologis & ‘Social-Capital’

Kamis pagi (22/2/2018) di hulu Sungai Citarum, Situ Cisanti, Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung (Jawa Barat), Presiden RI Joko Widodo menanam pohon Manglid (Manglietia glauca) dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menanam pohon Agathis dammara. Masyarakat di Situ Cisanti, Desa Tarumajaya, menanam sekitar 1.000 pohon  seperti rasamala, puspa, mangled, damar, dan lain-lain, di hulu Citarum di Situ Cisanti, Desa Tarumajaya (Setkab RI, 22/2/2018).

Penanam pohon ekologis dan pohon ekonomis tersebut merupakan bagian dari program Revitalisasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum sejak 1 Februari 2018. “Pemerintah sudah menghitung waktu untuk merevitalisasi DAS Citarum yakni membutuhkan waktu sekitar tujuh tahun dari sekarang....Kita mulai di sini, diberikan lahan oleh PTPN 980 hektare, untuk persemaian, untuk ditanami dan relokasi. Perhutani juga memberikan lahannya yang diharapkan lahan yang ada segera kita hijaukan kembali,” papar Presiden RI Joko Widodo pada acara penanaman pohon di hulu Sungai Citarum, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, Kamis pagi (22/2/2018) (Setkab RI, 22/2/2018).

Menurut Dr. Triarko Nurlambang, dosen Geografi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Universitas Indonesia (UI), Depok, Revitalisasi DAS Citarum memang harus menjadi program Pemerintah Pusat karena vital fungsi airnya sepanjang DAS 12.000 km2 dan impelementasi kebijakannya perlu terintegrasi dan harmonisasi lintas lembaga dan kementerian dari Pusat hingga daerah Jawa Barat.

“Kualitas air Sungai Citarum sudah parah, tapi sangat vital mensuplai 80% kebutuhan air baku Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. Air Sungai Citarum vital karena fungsi airnya untuk air minum, irigasi, budi-daya perikanan, pengendali banjir, dan listrik. Water supply dan bukan air tanah, diolah dari Sungai Citarum. Maka program Revitalisasi DAS Citarum harus dikelola oleh Pemerintah Pusat, lintas kementerian dan kelembagaan dari Pusat hingga daerah, dengan partisipasi masyarakat,” papar Dr. Triarko Nurlambang kepada Staging-Point.Com, Selasa (27/2/2018) di lantai 2 Gedung Geografi MIPA UI, Depok, Jawa Barat.

Usai Ratas Revitalisasi DAS Citarum, Selasa (16/1/2018) di Bandung (Jawa Barat), Presiden RI merilis data tentang DAS Citarum, antara lain Sungai Citarum merupakan sumber air sekitar 27,5 juta penduduk di Jawa Barat dan DKI Jakarta, dan 80 persen kurang lebih air minum penduduk Jakarta; irigasi untuk 420 ribu ha sawah seperti Karawang dan Indramayu; ada tiga PLTA, Saguling, Cirata, dan Jatiluhur menghasilkan daya listrik 1.400 MW; Namun, di sekitar Citarum, ada kurang lebih 3 ribu industri yang kebanyakan limbahnya dibuang ke Citarum (Setkab RI, 16/1/2018)

Revitalisasi DAS Citarum selama 7 (tujuh) tahun sejak Februari 2018, menurut Dr. Triarko Nurlambang, merupakan momentum penguatan social-capital masyarakat sekitar DAS Sungai Citarum. “Jika program revitalisasi melibatkan partisipasi masyarakat, maka desain revitalisasi DAS Citarum membutuhkan dialog, diskusi, sosialisasi, dan persetujuan masyarakat setempat. Solusinya ialah social-capitalization seperti sekolah-sungai, dibangun lagi. Inisiatif berasal dari masyarakat. Masyarakat belajar kehidupan dari sungai agar terbentuk pola pikir dan sikap dasar bahwa sungai menjadi bagian dari kehidupan mereka, yang mendukung kehidupan mereka; ada proses edukasi di situ,” papar Dr. Triarko Nurlambang, alumnus program diploma Australian National University (Australia) pada tahun 1992.

Dr. Triarko Nurlambang menyebut beberapa contol social-capital yang bermanfaat bagi penyehatan dan perawatan DAS atau lingkungan. “Contohnya antara lain Sekolah Sungai Mat Peci di Carrefour, Cawang, Jakarta; Sekolah Sungai Ciliwung yang dipimpin K. Usman. Ada pula sekolah-sekolah yang mempunyai sekolah sungai. Pemerintah dapat hadir melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Di Papua juga ada Sekolah Sungai. Sekolah Sungai di Kali Code (Yogya) dari Romo Mangunwijaya adalah pionirnya,” papar Dr. Triarko Nurlambang.

Hulu DAS Citarum, menurut Dr. Triarko Nurlambang, berbeda dengan kondisi DAS lainnya di Negara RI, seperti DAS Bengawan Solo di Solo (Jawa Tengah), Sungai Ciliwung (Jakarta), dan Kali Brantas di kota Surabaya (Jawa Timur). “Hulu DAS Citarum adalah kota industri Bandung dan Cimahi. Akibatnya, banyak limbah industri. Kemudian di zona tengah dan hilir DAS Citarum, ada desa-desa; sekitar aliran sungainya melintasi Karawang dan menuju laut, yang merupakan tempat perumahan masyarakat. Sedangkan di hulu Sungai Ciliwung di Jakarta, terletak di gunung, bukan kota industri,” ujar Dr. Triarko Nurlambang, alumnus Master of Arts (MA) Flinder University, South Australian, tahun 1994.

Perlunya peran social-capital masyarakat dalam program Revitalisasi DAS Citarum, menurut Dr. Triarko Nurlambang, karena selama ini seringkali kerusakan lingkungan lebih banyak dipicu oleh faktor manusia. Maka partisipasi masyarakat menentukan keberhasilan program Revitalisas DAS Citarum selama 7 tahun ke depan. Program penataan ruang, vegetasi DAS, dan penanggulangan bencana akibat kerusakan DAS Citarum akan diukur dari manfaatnya bagi masyarakat, nilai ekonomisnya, dan sehat-lestarinya ekosistem DAS Citarum.

Apakah 7 tahun itu sudah cukup waktunya, saya jawab, bahwa syaratnya sepanjang ada keterlibatan masyarakat. Kebiasaan membuang sampah dan tidak peduli dengan kesehatan sungai, walaupun kelihatannya sepele, tapi risiko dan volumenya ‘kan begitu besar. Kali Code di Jogya, adalah contoh penanganan DAS yang bagus, gerakan pembersihan sungai dari inisiatif masyarakat, dulu Romo Mangunwijaya. Namun waktu itu, belum ada nama gerakan sekolah sungai. Baru setelah 2 tahun ini, sekolah sungai berkembang setelah BNPB dan IABI (Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia) mulai ikut berperan dan aktif dalam sekolah sungai,” papar Dr. Triarko Nurlambang, Wakil Ketua Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia.

Pemerintah RI hendak menjadikan penataan dan pengelolaan DAS Citarum sebagai contoh tata-kelola DAS lainnya di Negara RI. Pada Selasa malam (16/1/2018), usai Rapat Terbatas tentang Revitalisasi Sungai Citarum, Presiden RI Joko Widodo menerima 20 tokoh pemerhati lingkungan Jawa Barat di Graha Wiksa  Praniti, Puslitbang Perumahan dan Pemukiman Kementerian PUPR, Bandung (Jawa Barat). 

“Telah 14 kali kami melakukan rapat mengenai Citarum ini dan pada malam hari ini, kami mohon masukan dan saran dari Bapak/Ibu sekalian...Tentu saja nanti dari hulu, tengah, dan sampai hilir ini akan dikerjakan secara bersama oleh APBN, APBD provinsi, kita sudah sepakat, oleh swasta dan juga dukungan internasional. Kuncinya ada di integrasi semua kementerian, lembaga, pemerintah pusat, daerah, provinsi, kabupaten, dan kota. Kuncinya hanya di sini,” papar Presiden RI Joko Widodo,” papar Presiden RI Joko Widodo (Setkab RI, 16/1/2018). 

Oleh Eko Budi Raharta

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita