• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Era Baru Media Digital: Perlu Strategi Komunikasi-Budaya

Di era lompatan-lompatan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi sekarang ini, di era melimpahnya informasi dan melimpahnya miss informasi, menurut Presiden RI Joko Widodo, justru pers makin diperlukan untuk turut membangun narasi kebudayaan dan peradaban baru. “Pers diperlukan untuk turut membangun narasi kebudayaan baru, membangun narasi peradaban baru,” papar Presiden RI Joko Widodo pada Acara Puncak Peringatan Hari Pers Nasional 2018 di Pantai Cimpago, Padang, Sumatera Barat, Jumat pagi (9/2/2018) (Setkab RI, 9/2/2018).

Pers juga adalah wujud kedaulatan Rakyat. Pasal 28 UUD 1945 menyatakan : “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.” “Pers makin diperlukan untuk menjadi pilar penegak penyampaian kebenaran, pers makin diperlukan sebagai pilar penegak fakta-fakta, pers makin diperlukan sebagai pilar penegak aspirasi-aspirasi yang ada di masyarakat,” papar Presiden RI Joko Widodo pada acara Puncak Peringatan Hari Pers Nasional 2018 di Pantai Cimpago, Padang, Sumatra Barat, Jumat pagi (9/2/2018) (Setkab RI, 9/2/2018).

Menurut Dr. Ade Armando, MS, jika revolusi teknologi media dan informasi seperti smartphone dibiarkan saja tanpa respons strategis dari Negara, maka dampaknya antara lain terbangun iklim politik lebih terbuka dan egaliter; kemudahan akses berita murah dan mudah; namun, teknologi smartphone memiliki keterbatasan, beritanya serba pendek, sehingga risikonya dapat melahirkan suatu masyarakat trivial yang hanya berpikir di level permukaan.

“Dengan teknologi smartphone, masyarakat dapat memperoleh informasi yang barangkali dulu hanya diperoleh kaum elite; membaca berita murah dan mudah; sehingga terbangun iklim politik lebih terbuka dan egaliter. Di sisi lain, smartphone mempunyai banyak keterbatasan.  Pola konsumsi beritanya serba pendek dan cepat; membaca tulisan panjang sama sekali tidak nyaman, karena menghabiskan pulsa, catch data,  atau dibikin beberapa seri,” papar Dr. Ade Armando, MS, kepada Staging-Point.Com, Selasa (27/2/2018) di lantai 2 Gedung Koentjoroningrat, FISIP Universitas Indonesia (UI), Depok (Jawa Barat).

Satu ciri baru generasi media digital dewasa ini, menurut Dr. Ade Armando, MS, yakni sangat melek video yang mengancam pers yang menekankan substansi dan isu-isu vital, bukan isu-isu tidak penting (trivial) yang melahirkan masyarakat yang hanya mengetahui informasi level permukaan saja. Solusinya ialah content media audio-visual tidak hanya menarik secara visual, tetapi substansinya juga harus kuat dan isunya vital.

“Satu ciri baru generasi media digital adalah sangat melek video, yang mengancam jurnalisme substantif yang didukung riset, dokumentasi, dan analisa mendalam. Maka masyarakat dan khususnya SDM media digital perlu adaptasi dengan model baru ini, seperti gaya bahasa, cara berpikir, visual, yang sangat cepat dan instan. Adaptasi ini tidak ada kaitannya dengan substansi. Maka perlu ada pendidikan SDM produser informasi agar muatan yang tersaji dalam media audio-visual, bukan hanya menarik secara visual, tapi substansinya harus kuat dan isunya vital,” ungkap Dr. Ade Armando, MS.

Pers dapat membangun narasi kebudayaan dan peradaban baru, jika pers dapat menjalankan fungsi-fungsinya seperti fungsi informasi, kontrol sosial, hiburan, dan pendidikan sesuai amanat Pasal 3 ayat (1) UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers. Untuk itu, menurut Dr. Ade Armando, MS, Negara RI perlu memiliki strategi komunikasi-informasi atau strategi budaya ketika masyarakat memasuki era peralihan dari penyiaran analog ke penyiaran digital riil atau bentuk-bentuk komunikasi digital melalui smartphone, internet, tweeter, atau media online lainnya yang semakin masif dan banyak hingga ke desa-desa Negara RI.

“Untuk menghadapi era baru media digital dewasa ini, Negara RI perlu mempunyai strategi komunikasi-informasi (kominfo) atau strategi kebudayaan. Misalnya, kita mengembangkan pendidikan produser informasinya untuk menghasilkan informasi berbasis riset, dokumentasi dan analisa mendalam, laporan-laporan indepth, tersegmentasi, dengan isu vital dan substansi. SDM dilatih teknologi dan informasi sebagai tenaga kerja profesional digital. Tidak dibiarkan saja, taken for granted, dan kita akhirnya cuma menjadi pasar orang lain, karena kita tidak menjadi produsen profesional bidang informasi dan teknologi komunikasi,” papar Dr. Ade Armando, MS. 

Oleh Eko Budiraharta

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita