• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Edukasi Sosial-Lingkungan : Tingkatkan Daya-Saing SDM RI

Akhir November 2017, Presiden RI merilis dasar dan arah kebijakan daya-saing Sumber Daya Manusia (SDM) Negara RI. Fokusnya ialah pendidikan vokasi atau pendidikan kejuruan; training vokasi; dan politeknik. “Tiga hal penting inilah yang harus kita kerjakan dalam waktu yang sangat singkat karena kita enggak punya waktu lagi,” papar Presiden RI Joko Widodo pada acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2017 di Assembly Hall 1 dan 2 Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Selasa malam (28/11/2017) (Setkab RI, 28/11/2017).

Pada Rapat Terbatas, Selasa (13/9/2016) di Kantor Presiden (Jakarta), Presiden RI Joko Widodo merilis data antara lain sekitar 60% penduduk RI saat ini adalah anak muda usia produktif;  Tahun 2010, pengangguran usia 15-19 tahun mencapai 23,23% dan tahun 2015, berkisar 31,12%; pengangguran berasal dari lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) berkisar 9,84%, lulusan SMA 6,95%, SMP 5,76% dan SD 3,44%. Dari 7,56 juta total pengangguran terbuka, 20,76% berpendidikan SMK (PresidenRI.go.id, 13/9/2016; BPS, 2015).

Untuk meningkatkan daya-saing SDM Negara RI, menurut Presiden RI Joko Widodo, pilihannya ialah pelatihan kejuruan, politeknik, dan training vokasi. Karena sebesar 42%  tenaga kerja Negara RI adalah lulusan SD, 66% lulusan SD-SMP, dan 82% lulusan SD-SMP-SMA/SMK. “Inilah kondisinya. Oleh sebab itu, harus ada sebuah percepatan agar bisa meng-upgrade, memperbaiki level mereka dalam hal skill,” papar Presiden RI Joko Widodo pada Konferensi Forum Rektor Indonesia Tahun 2017 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Kamis (2/2/2017) (Setkab RI, 2/2/2017).

Menurut Dr. Chryshnanda Dwilaksana, M.Si, Kaprodi S3 Ditprog Pasca Sarjana STIK Lemdikpol  2015-2016, sistem pendidikan di Negara RI selama ini masih bersifat general dan belum mendukung pelatihan keahlian berbasis bakat dan spesialisasi. “Sistem pendidikan di Negara RI masih bercorak umum dan belum mendukung spesialisasi. Misalnya, anak berbakat olahraga, berada satu kelas dengan siswa berbakat eksata, pertanian, nelayan, wirausaha, IT, dan lain-lain. Idealnya, pendidikan berbasis bakat alami. Ketika Presiden Joko Widodo mengarahkan strategi SDM berbasis pendidikan kejuruan, berarti arahnya ialah penguatan spesialisasi dan skill SDM melalui pendidikan formal dan pelatihan-pelatihan,” papar Dr. Chryshnanda Dwilaksana, M.Si, kepada Staging-Point.Com, Sabtu (10/2/2018) di Auditorium Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara (Jakarta).

Di sisi lain, daya-saing SDM, menurut Dr. Chryshnanda Dwilaksana, M.Si, tidak semata-mata diukur dari kinerja ekonominya, tetapi juga diukur dari tanggungjawab sosial-lingkungannya. “Pendidikan bukan semata-mata alat menghasilkan modal-modal ekonomi, tetapi juga proses pendidikan tanggungjawab sosial-lingkungan. Misalnya, pendidikan kejuruan mengajarkan nilai kemandirian ekonomi sejak dini. Namun, pendidikan kejuruan mesti disertai pengetahuan dan pelatihan tanggungjawab atas keberlanjutan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, peradaban, ekosistem komersial dan non-komersial,” papar Dr. Chryshnanda Dwilaksana, M.Si.

Tantangan utama pendidikan di Negara RI ialah pendidikan masih terfokus pada diri sendiri, dan belum mengarahkan peserta pendidikan untuk bertanggungjawab bagi keberlanjutan nilai-nilai masyarakat, nilai-nilai ekonomi, dan nilai-nilai lingkungan. Akibatnya, menurut Dr. Chryshnanda Dwilaksana, M.Si, ada warga masyarakat yang tidak peduli pada kesehatan dan pelestarian lingkungan hidup, melakukan praktek korupsi, merusak alam dan masyarakat.

“Pendidikan yang baik selalu linear dengan tanggung-jawab. Orang berpendidikan selalu bertanggungjawab  dan terpanggil untuk mengatasi masalah-masalah sosial dan lingkungan di sekitarnya. Orang berpendidikan tidak merusak orang lain dan lingkungannya. Ini pula kunci daya-saing SDM Negara RI kini dan ke depan,” ungkap Dr. Chryshnanda Dwilaksana, M.Si.

Dr. Chryshnanda Dwilaksana, M.Si. menambahkan bahwa pendidikan adalah proses panjang sejak dari kandungan ibu. “Anak-anak perlu dididik sejak dari kandungan ibu, misalnya melalui alunan musik, seperti musik klasik Mozart. Agar sejak dini, anak-anak mengetahui indah atau tidak indah, estetika; atau bedakan baik atau buruk ialah etika. Pendidikan mesti mengarahkan seseorang berpikir, berkata-kata dan bekerja yang bermanfaat atau bernilai bagi sesama dan alam lingkungannya. Bentuknya antara lain pendidikan tanggungjawab sosial-lingkungan untuk membentuk pola pikir dan kebiasaan bertanggungjawab terhadap diri sendiri, sesama, dan lingkungan,” ungkap Dr. Chryshnanda Dwilaksana, M.Si. 

Oleh Fens Alwino

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita