• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Revitalisasi DAS Citarum: Perlu Dibangun Eco-science-techno-park

Kamis (22/2/2018) di hulu Sungai Citarum, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung (Jawa Barat), Presiden RI Joko Widodo merilis arah program kebijakan Revitalisasi Aliran Sungai (DAS) Citarum. Revitalisasi DAS Citarum akan dijadikan contoh tata-kelola DAS-DAS lainnya di Negara RI (Setkab RI, 22/2/2018).

“Ini (Revitalisasi DAS Citarum, red) nantinya akan kita pakai untuk contoh bagi DAS-DAS yang lain yang menyangkut hajat hidup masyarakat banyak. Akan kita mulai penanganannya mulai dari hulu, tengah sampai dengan hilir...Kuncinya ada di integrasi semua kementerian, semua lembaga, pemerintah pusat, pemerintah daerah, provinsi, kabupaten, maupun kota. Semuanya kuncinya hanya di sini terintegrasi enggak ada yang lain,” papar Presiden RI Joko Widodo usai menanam pohon Manglid (Manglietia glauca) di Situ Cisanti, Desa Tarumajaya (Setkab RI, 16/1/2018).

Menurut Prof. Dr. Wahyoe Soepri Hantoro, ahli lingkungan Daerah Aliran Sungai (DAS) dari Puslit Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), ada tiga aspek penting program Revitalisasi DAS Citarum jika hendak dijadikan model tata-kelola DAS-DAS lainnya di Negara RI yaitu model partisipasi dan kemitraan masyarakat, sektor industri dan Pemerintah, serta integrasi pelaksanaan program kebijakannya dari tingkat Pusat hingga daerah; eco-science-techno-park; dan model penyimpanan air bersih.

“Model gerakan pemulihan dan merawat kelestarian ekosistem atau lingkungan sehat DAS Citarum yakni pertama, Gerakan tersebut seperti semangat, kebersamaan, koordinasi, teknologi, cara pengelolaan, tata ruang, dan lain-lain, menjadi model bagi daerah lain tingkat nasional dan internasional dalam mengelola DAS atau badan sungai utama di cekungan dataran tinggi dan sungai lain dengan sifat DAS khusus seperti Citarum; kedua, Eco-science-technopark sebagai pusat interaksi masyarakat dalam mengelola secara aman dan lestari DAS Citarum serta ruang komunikasi dan diseminasi model kepada masyarakat DAS lain; ketiga, Model penyimpanan air bersih di cekungan,” papar Prof. Dr. Wahyoe Soepri Hantoro kepada Staging-Point.Com melalui e-mail awal Maret 2018.

Masyarakat Situ Cisanti, Desa Tarumajaya, ikut menanam sekitar 1.000 pohon ekonomis dan pohon ekologis  seperti rasamala, puspa, mangled, damar, dan lain-lain, di hulu Citarum di Situ Cisanti, Desa Tarumajaya. Program Revitalisasi DAS Citarum sudah dimulai oleh Pemerintah dan masyarakat sejak 1 Februari 2018. Presiden RI Joko Widodo memperkirakan bahwa program penangggulangan pencemaran dan kerusakan DAS Citarum ini akan memakan waktu 7 (tujuh) tahun (Setkab RI, 22/2/2018).

Fokus Revitalisasi DAS Citarum, menurut Presiden RI Joko Widodo, ialah pemulihan dan perawatan nilai sejarah, manfaat bagi masyarakat, dan nilai lingkungan DAS Citarum. “Sungai Citarum merupakan sumber air minum bagi 27,5 juta penduduk di Jawa Barat dan DKI Jakarta, dan 80 persen air minum masyarakat Jakarta. Sungai Citarum merupakan sumber air lahan pertanian seluas 420 ribu ha di Jawa Barat dan sumber tenaga 3 Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yakni Saguling, Cirata, dan Jatiluhur,  menghasilkan 1.400 megawatt pasokan listrik,” papar Presiden RI Joko Widodo usai memimpin Rapat Terbatas Revitalisasi DAS Citarum di Graha Wiksa Praniti, Puslitbang Perumahan dan Pemukiman Kementerian PUPR, Bandung, Jawa Barat, Selasa malam (16/1) (Setkab RI, 16/1/2018).

Prof. Dr. Wahyoe Soepri Hantoro melihat bahwa Revitalisasi DAS Citarum dapat menghasilkan nilai dan manfaat bagi masyarakat, manfaat ekonomi dan lingkungan yang perlu dijadikan contoh oleh tata-kelola DAS-DAS lainnya di Negara RI.  “Manfaat bagi masyarakat yaitu memberi air untuk semua keperluan masyarakat pedesaan dan perkotaan, air baku rumah-tangga, sanitasi, sarana umum, dan lain-lain; manfaat ekonominya antara lain manfaat bagi industri, perdagangan, taman-wisata, dan transportasi sungai. Sedangkan manfaat lingkungan DAS Citarum yakni regulasi siklus dan neraca hidrologi seperti penahan banjir, resapan,aliran terbuka, dan lain-lain,  konservasi flora dan fauna badan air, kelembaban dan kesejukan atmosfer  seperti evaporasi, suhu, dan lain-lain, serta mengatur sedimentasi,,” papar Prof. Dr. Wahyoe Soepri Hantoro.

Di sisi lain, Prof. Dr. Wahyoe Soepri Hantoro melihat ada 9 (sembilan) tantangan dan kesulitan dalam Revitalisasi DAS Citarum, antara lain, (1) Terjadi penyempitan badan sungai, tidak mampu menampung dan mengalirkan air saat hujan lebat atau berlebih; (2) Sangat tercemar limbah domestik dan industri (padat dan cair); (3) Sedimentasi tinggi dari erosi dampak perambahan di lereng perbukitan; (4) Pemahaman, kepedulian dan kesadaran  yang rendah masyarakat dan pemangku kepentingan lain bahwa kegiatan serampangan merusak air dan badan air; (5) Diabaikan dan dilanggarnya peraturan tentang pengelolaan limbah dan sungai; (6) Perbedaan luah ekstrem antara musim kering dan hujan; (7) Rendahnya pemahaman hubungan sungai dan daerah penahan banjir, pelurusan dengan sudetan mengurangi volume lembah aliran sungai mengurangi kapasitas menerima aliran air; (8) Hilangnya situ dan danau di cekungan Bandung; dan (9) Rasio pemukiman dan tanah terbuka semakin berkurang.

Meski ada banyak tantangan dan kesulitan melaksanakan Revitalisasi DAS Citarum, namun ada sejumlah peluang yang dapat dikelola oleh para pemangku kepentingan. “Dalam upaya Revitalisasi DAS Citarum, ada keinginan (motivasi) untuk memulihkan kualitas sungai (air dan badan air); Data teknis dan model ideal sungai di suatu cekungan dataran tinggi telah tersedia (misalnya Proyek WJEMP Asian Development Bank tahun 2004-2005, dan lain-lain); Tenaga ahli dan biaya tersedia; Tenaga sukarela tersedia; dan kemitraan terbuka luas dalam dan luar negeri,” papar Prof. Dr. Wahyoe Soepri Hantoro.

Keberhasilan program Revitalisasi DAS Citarum, antara lain, sangat bergantung pada partisipasi masyarakat dan sektor industri. Untuk itu, Prof. Dr. Wahyoe Soepri Hantoro menyarankan bahwa pelaksanaan program Revitalisasi DAS Citarum harus terpadu, terukur, terarah, dan menyeluruh. “Perlu dibangun taman-taman di sekitar aliran sungai untuk menyadarkan masyarakat dan menjaga kebersihan dan keutuhan ekosistim lestari sungai. Misalnya, Eco-science-technopark dibangun sebagai kebun raya dengan fasilitas pelatihan, pendidikan, eksperimen-penelitian, rekreasi-hiburan, olahraga, pusat informasi, kerajinan dan pasar lingkungan. Institusi ini dapat dibangun dan dikelola bersama (yang melibatkan 4 helix yaitu pemerintah daerah, pengusaha, akademisi dan masyarakat).  Taman atau kebun ditamani flora dan fauna endemik terutama yang terancam punah. Data informasi konsep-teknis pengelolaan DAS terkendali dan aman lestari,” papar Prof. Dr. Wahyoe Soepri Hantoro.

Oleh Fens Alwino

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita