• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Empat Program Strategis Revitalisasi DAS Citarum

Selasa sore (16/1/2018) di Grha Wiksa Praniti, Puslitbang Perumahan dan Pemukiman Kementerian PUPR, Bandung (Jawa Barat), Presiden RI Joko Widodo memimpin Rapat Terbatas (Ratas) ke-14 tentang revitalisasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Ratas ke-14 Revitalisasi DAS Citarum itu dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menko Polhukam Wiranto, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menko PMK Puan Maharani, Menko Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan,  Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Menteri LHK Siti Nurbaya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto, Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, Jaksa Agung HM Prasetyo, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi  Tjahjanto, Kapolri Tito Karnavian, dan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan (Setkab RI, 16/1/2018).

“Dalam Rapat Terbatas sore hari ini, saya ingin penataan Sungai Citarum harus segera dilakukan dan jangan ditunda-tunda lagi! Dan ini nantinya akan kita pakai untuk contoh bagi DAS-DAS yang lain, yang menyangkut hajat hidup masyarakat banyak. Akan kita mulai penanganannya mulai dari hulu, tengah, sampai hilir. Di hulu isinya catchment area, harus dikerjakan. Yang di tengah, ada pabrik-pabrik yang kita tahu semuanya air limbahnya masuk ke Citarum, dan yang paling hilir tentu saja ini juga harus kita kerjakan,” papar Presiden RI Joko Widodo pada Rapat Terbatas Penataan DAS Citarum, Selasa 16 Januari 2018, di Grha Wiksa Praniti, Puslitbang Perumahan dan Permukiman, KemenPU-PR, Bandung, Jawa Barat (Setkab RI, 16/1/2018).

Menurut Prof. Dr. Henny Warsilah dari Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, tata-kelola DAS Citarum dapat dijadikan model revitalisasi DAS-DAS lain di Negara RI jika menerapkan prinsip-prinsip stakeholder inclusivity tata-kelola manajemen sungai atau air yang memadukan tiga nilai pokok yakni nilai sosial-budaya, nilai ekonomi, dan nilai atau manfaat lingkungan (triple bottom line). Karena partisipasi para pemangku kepentingan dalam proses perencanaan dan tata-kelola sangat vital bagi keberhasilan revitalisasi DAS Citarum yang sustainabel kini dan ke depan.

“Jika hendak dijadikan contoh tata-kelola DAS, revitalisasi DAS Citarum harus menerapkan prinsip-prinsip stakeholder inclusivity dalam tata-kelola sungai atau air yang memadukan tiga unsur nilai dan faktor pokok yakni nilai ekonomi, nilai lingkungan, dan nilai sosial budaya berdasarkan prinsip pembangunan berkelanjutan, sustainable development, pada zona DAS. Kini revitalisasi DAS Citarum melibatkan Pemerintah Pusat, Pemda, ratusan ribu warga, dan sekitar 7.000 personil TNI. Usai direvitalisasi, DAS Citarum dapat difungsikan sebagai zona wisata DAS, kuliner, ekonomi kreatif, produk budaya dan lain-lain yang ramah lingkungan,” papar Prof. Dr. Henny Warsilah kepada Staging-Point.Com, Rabu (7/3/2018) di Lantai 6, Gedung Widya Graha, LIPI (Jakarta).

Tim Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI dan Prof. Dr. Henny Warsilah melakukan pengamatan DAS Citarum sejak 1 Maret hingga 3 Maret 2018 dari Bandung, Cicalengka, Majalaya, Pacet, Situ Cisanti, Pengalengan, hingga Wayang Windu (panas bumi). Hasilnya, dari sisi risikonya, DAS Citarum adalah DAS terpanjang, terkotor dan bau di Jawa Barat yang selalu membawa bencana, seperti pencemaran sungai, dan mengancam kehidupan manusia.

“Air DAS Citarum sama sekali tidak bisa untuk minum karena airnya mengandung racun dari limbah bahan kimia industri tekstil, tambang emas, dan peternakan di wilayah hulu. Juga limbah rumah-tangga seperti plastik, air buangan, material kayu, limbah kimia bahan pupuk pestisida dari pertanian dan perkebunan. Yang paling terkena dampak adalah nelayan-nelayan di DKI Jakarta. Ikan-ikan mati di perairan Jakarta. Sedimen bertumpuk, tidak ada oksigen sehingga ikan-ikan mati,” papar Prof. Dr. Henny Warsilah.

Dari kondisi DAS Citarum saat ini, ada dua jenis ancaman kebencanaan. Yakni fenomena hunger land akibat ulah manusia, dan degradasi dan krisis ekosistem DAS Citarum. “Akibat ulah manusia muncul ancaman kebencanaan fenomena hunger land, yakni pembukaan tanah-tanah baru bagi pertanian dan perkebunan secara masif yang merusak ekologi DAS Citarum akibat peningkatan pupuk kimia, serta memicu pengambilan air tanah yang berlebih memicu bencana kekeringan seperti lonjakan penguapan air tanah,” ungkap Prof. Dr. Henny Warsilah.

Ancaman kebencanaan lain di DAS Citarum ialah degradasi dan krisis lingkungan hidup. “Saat ini, sungai DAS Citarum sangat dangkal akibat pembuangan limbah dari industri-indusri tekstil. Industri sarung dan kain-kain terdapat di hulu dan pinggiran DAS Citarum. Badan sungai mengecil dan air mudah meluap. Kota Bandung yang dulunya bebas banjir, sekarang menjadi rawan banjir. Terjadi urban heat dan hill heat, dari kota menuju pegunungan dan ke pedesaan. Karena udara kotor dan beban panas akibat industri menggunakan bahan bakar batu bara dan perpindahan industri (tenun) bedol desa ke poros utama penghubung Jawa Barat-Jawa Tengah,” papar Prof. Dr. Henny Warsilah.

Pertumbuhan industri sekitar DAS Citarum memicu migrasi penduduk. Migrasi penduduk ke Kotamadya Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Cicalengka, sulit dibendung. Karena pertumbuhan industri sepanjang poros jalan utama Jawa Barat-Jawa Tengah dan bedol industri tenun di Jawa Barat sekitar DAS Citarum, menarik para migran ke sektor industri. “Pertumbuhan industri ini memicu risiko kekeringan air dan panas bumi akibat lonjakan industri permukiman, perumahan, Sekolah, Rumah Sakit, Hotel, Pasar, Mall, Indomaret, Alfa Maret, dan bengkel yang banyak menyedot air tanah dan membuang limbah ke Citarum,” ungkap Prof. Dr. Henny Warsilah.

Solusi terhadap risiko ancaman bencana tersebut, menurut  Prof. Dr. Henny Warsilah, yaitu kebijakan tata-kelola kota dan industri yang ramah-lingkungan, sistem harvest air hujan, stop pengambilan air tanah bumi, dan stop alih-fungsi lahan secara besar-besaran. “Solusi risiko dan ancaman bencana DAS Citarum, yakni pertama, ada paksaan melalui kebijakan tata-kelola kota dan industri yang ramah lingkungan dan memindahkan industri keluar dari Cekungan Bandung (Kotamadya Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Cicalengka); kedua, pembuatan sistem harvest air hujan; ketiga, stop pengambilan air tanah bumi; dan keempat, stop alih-fungsi lahan secara besar-besaran,” ungkap Prof. Dr. Henny Warsilah.

Menurut Prof. Dr. Henny Warsilah, stop alih-fungsi lahan secara besar-besaran sangat penting. Karena ada indikasi perkebunan teh telah dibeli oleh pengusaha real-estate untuk dijadikan kawasan kota baru di pegunungan. “Ini akan berbahaya terhadap kondisi daya dukung lahan, krisis air, kekeringan dan peningkatan panas bumi. Ke depan, bencana ikutan seperti banjir dan longsor, dapat kian mengancam kehidupan masyarakat,” ungkap Prof. Dr. Henny Warsilah. 

Oleh Fens Alwino

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita