• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Eksistensi & Ekosistem Musik Nasional: Perkuat Musik Tradisi Indonesia

Tanggal 9 Maret 2013 di Jakarta, Presiden RI Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) No. 10 Tahun 2013 tentang Hari Musik Nasional.  Pada Hari Musik Nasional 9 Maret 2018, Presiden RI Joko Widodo menyampaikan harapan agar Musik Nasional meraih pengakuan internasional.

“Musik kita jaga keberadaannya. Semoga eksistensi musik nasional lebih diakui keberadaannya secara global... Semoga dengan diadakan Konferensi Musik Nasional, para insan musik Indonesia dapat membentuk ekosistem musik nasional yang akan menghilangkan segala hambatan karya cipta pemusik nasional dan lebih diakuinya eksistensi musik Indonesia,” papar Presiden RI Joko Widodo melalui akun Twitter-nya, Jumat (9/3/2018) (Setkab RI, 9/3/2018).

Pada Peringatan Hari Musik Nasional Tahun 2017 di Istana Negara (Jakarta), Kamis siang (9/3/2017), merilis keinginan Pemerintah agar Musik Indonesia mendominasi semua ruang dan kalangan di Negara RI sejak awal abad 21. “Bukan musik-musik dari Barat, bukan musik-musik dari negara yang lain. Inilah yang terus kita upayakan agar betul-betul menjadi tuan rumah yang mendominasi di negara sendiri, Indonesia,” papar Presiden RI Joko Widodo pada Pembukaan Musyawarah Nasional VII Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI) dan Peringatan Hari Musik Nasional Tahun 2017 di Istana Negara, Jakarta, Kamis siang (9/3) (Setkab RI, 2017).

Menurut Dr. A. Harsawibawa, dosen Sejarah Musik dan Musikologi di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), untuk menjaga keberadaan atau eksistensi dan membangun ekosistem Musik Nasional Indonesia, lebih dahulu perlu diperkuat musik tradisi suku-suku Bangsa Indonesia yang merawat sejarah dan karakter tradisi serta membangkitkan rasa nasionalisme. Karena Bangsa Indonesia memiliki keragaman musik, yang memiliki nilai-jual pada pasar global.

“Untuk menjaga keberadaan Musik Nasional di Negara RI dan meningkatkan prestasi Musik Nasional pada pasar dunia, terlebih dahulu, kita harus perkuat dan kembangkan musik tradisional kita, seperti musik Jawa, Bali, Batak, Sunda, Manado, Maluku dan lain-lain. Pihak luar negeri akan terpesona dan kagum, karena ternyata Musik Indonesia itu terdiri dari berbagai seni musik yang berbeda-beda. Misalnya, ketika Radio Australia memutar lagu keroncong Di Bawah Sinar Bulan Purnama, yang dikatakan asli Indonesia. Di situlah rasa nasionalisme kita tersentuh,” papar Dr. A. Harsawibawa, dosen pada  Fakultas Ilmu Budaya-Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, kepada Staging-Point.Com, Jumat (16/3/2018) di lantai 2, FIB-UI, Depok, Jawa Barat.

Ekosistem Musik Nasional, menurut Dr. A. Harsawibawa, perlu dibangun dari musik tradisional Bangsa Indonesia dan musik pop. “Jika kita melihat kemajuan industri musik Amerika Serikat selama ini, yang bangun ekosistem musik awalnya adalah pihak swasta. Negara baru menyusul, seperti merumuskan legislasi dan regulasinya, setelah ekosistem musik kuat. Maka swasta perlu bangkit duluan. Pilihan musiknya lebih ke arah musik pop dan musik tradisional. Baru dari situ, kita bisa bicara tentang nasionalisme,” papar Dr. A. Harsawibawa, alumnus S1 Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Untuk merawat keberadaan Musik Nasional, Dr. A. Harsawibawa menyarankan agar para pelaku industri musik, artis penyanyi, pencipta lagu, dan pemusik dari Negara RI, perlu memikirkan dan membangun ekosistem dan memperkuat keberadaan musik pop dan musik tradisional.

“Kondisi musik tradisional kita, menyedihkan. Pilihannya antara mati atau tidak mati. Ketika musik tradisional tidak mati, ada perubahan tangga nada. Musik tradisional pentatonis, lima nada;  musik Barat tujuh nada, diatonis. Misalnya, publik cuma mengetahui musik Angklung itu diatonis, padahal Angklung itu bukan diatonis. Musik Kolintang, tadinya jenis musik pentatonis, sekarang berubah menjadi musik diatonis. Bahkan populer itu identik dengan diatonis. Sedangkan musik tradisional kita, pentatonis. Apa ini penyesuaian selera zaman? Maka tiba saatnya, kita sebaiknya jangan hanya pikirkan musik popular nasional, tetapi juga musik tradisional Bangsa kita,” ungkap Dr. A. Harsawibawa, alumnus S2 dan S3 Filsafat UI.

Dr. A. Harsawibawa menyebut contoh musik tradisi Campur Sari dari Jawa. “Di Jawa ada musik jenis Campur Sari. Itu dari tradisi.  Musik tradisional seperti itu perlu dipikirkan. Baru kita pikirkan Hari Musik Nasional. Jadi, harus dipikirkan dan diperkuat lebih dahulu musik-musik tradisi Bangsa kita. Jika menurut Badan Bahasa tahun 2016, ada 646 bahasa pada 2.411 daerah Negara RI, maka mestinya ada 646 jenis musik tradisi di Negara kita. Di Palembang, Sumatera Selatan, ada gitar atau kecapi musik tradisional, juga ada di Kalimantan, Maluku, Timor, Rote, Papua, Serunai, Sumatera Barat, dan lain-lain,” papar Dr. A. Harsawibawa.

Ekosistem musik dapat dibangun, jika ada asosiasi pemusik dan dukungan dari swasta seperti para patron dan sponsor-sponsor konser dan musik, serta dukungan Pemerintah melalui perlindungan hukum atas hak cipta dan penegakan hukum terhadap setiap pelanggaran hak cipta. “Di negara-negara yang maju industri dan budaya musiknya seperti di Amerika Serikat, untuk menciptakan ekosistem musik yang bagus, hak cipta diakui dan dilindungi, pertama-tama dibentuk asosiasi pemusik terlebih dahulu,” ungkap Dr. A. Harsawibawa.

Di Amerika Serikat, industri musik maju, karena didukung oleh patron, sponsor dan asosiasi pemusik. “Di Amerika Serikat, ada grammy award musik. Ada asosiasi pemusik. Aturannya ketat. Pihak swasta menjadi sponsor dan patron industri musik. Asosiasi pemusik mewakili pemusik memperjuangkan hak ciptanya melalui pengadilan, jika hak ciptanya dilanggar. Meskipun ini hanya berlaku pada musik pop, bukan musik tradisional. Jika ada pelanggaran hak cipta musik (pop), asosiasi pemusik memperjuangkan haknya, bukan pemusiknya. Di Indonesia, hal ini belum ada. Akibatnya, ada hak-hak dasar pemusik, seperti hak cipta dan hak-hak turunannya, yang sulit dilindungi dan diperjuangkan,” papar Dr. A. Harsawibawa.

Sejak akhir abad 20, UU Hak Cipta Amerika Serikat sangat rinci menjabarkan pengakuan dan perlindungan hak cipta, antara lain berkaitan dengan program komputer, piranti lunak komputer atau karya digital, pembajakan dan pemalsuan hak cipta, audio-home (1992), pendaftaran hak cipta (1982), leasing karya cipta rekaman suara (1984), rental rekaman suara (1988), royalti (1990), remedi hak cipta (1990), durasi dan pembaruan hak cipta (1993), hukuman atas pelanggaran hak cipta (1992), hak pentas digital (1995), fair-use dan orisinalitas karya cipta, pemilik hak cipta, hak ekslusif, hak karya derivatif, dan lain-lain bidang industri entertainment. 

Oleh Eko Budi Raharta

Penerbit


Dollar AS vs Xi-Diplomacy

Perang dollar AS vs Xi-Diplomacy belum memicu ke arah resesi global (lihat grafik). Bagi Rakyat dan Pemerintah Negara RI, pilihannya ialah kemitraan atau kerjasama melahirkan tata tertib dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, keadilan serta ramah lingkungan. Ini amanat Pembukaan UUD 1945. Ini pula peluang dan tantangan bagi Negara RI yang kini menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB hingga tahun 2021. ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita