• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Program Bank Wakaf Mikro Perlu Spesialisasi & Edukasi

Hari Rabu (14/3/2018) di Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara di Kabupaten Serang, Provinsi Banten, Presiden RI Joko Widodo meresmikan program Bank Wakaf Mikro. Hari Jumat (9/3/2018) di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, di Kedinding, Surabaya, Provinsi Jawa Timur, Presiden RI Joko Widodo meresmikan Bank Wakaf Mikro Al Fitrah Wava Mandiri. Hari Kamis siang (29/3/2018),  Presiden RI Joko Widodo bertemu dengan para pengelola dan nasabah Bank Wakaf Mikro di Istana Negara, Jakarta (Setkab RI, 9/3/2018; PresidenRI.go.id, 29/3/2018).

“Tadi saya telah melihat aktivitas Bank Wakaf Mikro. Saya bertemu dengan pengurus dan nasabah yang telah diberi pinjaman dari Bank Wakaf Mikro ini. Saya menangkap ada sebuah motivasi dan dorongan kuat dari ibu-ibu untuk menambah penghasilan keluarganya lewat Bank Wakaf Mikro,” papar Presiden RI Joko Widodo saat meresmikan program Bank Wakaf Mikro di Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara di Kabupaten Serang, Provinsi Banten, Rabu (14/3/2018) (PresidenRI.go.id, 14/3/2018).

Menurut Dr. Mustafa Edwin Nasution, dosen Ekonomi Syariah di Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Indonesia (FEB-UI), program Bank Wakaf Mikro sangat positif karena sistemnya dapat melayani sebagian besar jutaan usaha UMKM (Usaha Mikro Kecil & Menengah) dengan pusat pesantren hingga ke desa-desa di Negara RI.

“Kita lihat situasi sekarang ini, usaha itu banyak dilakukan oleh segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kebanyakan UMKM non-bankable. Artinya, mereka misalkan membutuhkan dana, tetapi  untuk bank, usahanya masih belum layak, tidak feasible, karena pendapatannya tidak rutin, dan jumlahnya tidak terlalu besar. Karena itu, mereka tidak tersentuh oleh sistem keuangan perbankan. Maka Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) yang dicetuskan oleh Presiden Joko Widodo dengan label Bank Wakaf Mikro, dapat melayani UMKM non-bankable ini. Ini positif, perlu didukung, walaupun masih kecil. Karena sistem keuangan ini bakal menyentuh sebagian besar jutaan usaha UMKM yang dipusatkan di pesantren,” papar Dr. Mustafa Edwin Nasution, alumnus S3 (Ph.D) Colorado University (Amerika Serikat), kepada Staging-Point.Com, Selasa (20/3/2018) di lantai 2, Gedung PascaSarjana FEB-UI, Depok (Jawa Barat).

Rapat Terbatas Pemerintah RI pada Rabu (25/1/2017) di Kantor Presiden RI, Jakarta, membahas terobosan Pemerintah, OJK (Otoritas Jasa Keuangan), dan Bank Indonesia (BI) untuk membuka akses modal bagi UMKM yang belum dilayani oleh aliran kredit perbankan di Negara RI. Sasarannya ialah mengatasi kemiskinan, menurunkan pengangguran, mempersempit ketimpangan sosial antar warga dan pemerataan ekonomi melalui lembaga keuangan syariah berdasarkan sistem wakaf (PresidenRI.go.id, 26/1/2017).

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengizinkan pendirian Lembaga Keuangan Mikro Syariah dengan nama Bank Wakaf Mikro untuk membiayai tanpa agunan usaha Rakyat melalui UMKM dengan nilai maksimal Rp 3 Juta dan biaya administrasi sebesar 3 persen. Hingga akhir Maret 2018, sudah berdiri 20 Bank Wakaf Mikro di sejumlah daerah Negara RI (PresidenRI.go.id, 29/3/2018).

“Bayangkan dengan bank biasa, bank konvensional, bunganya 12 persen, apalagi ke rentenir bunganya bahkan bisa sampai 60 persen. Inilah yang harus kita cegah, lingkungan ponpes bisa memberi manfaat ekonomi...Kami harapkan Bank Wakaf Mikro ada di seluruh pesantren di Republik ini. Hari ini di Banten, sebelumnya Jawa Timur, lalu sebelumnya lagi di Cirebon,” papar Presiden RI Joko Widodo saat meresmikan program Bank Wakaf Mikro di Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara di Kabupaten Serang, Provinsi Banten, Rabu (14/3/2018) (PresidenRI.go.id, 14/3/2018).

Bunga Bank Wakaf Mikro sebesar 3 persen, menurut Menurut Dr. Mustafa Edwin Nasution, sebetulnya bukan bunga, tetapi hanya merupakan biaya operasional dan biaya administrasi yang murah dan wajar. “Hitungan 3% itu bukan bunga istilahnya, tapi biaya operasional atau administrasi. Tidak dikenakan biaya lain-lain lagi. Seperti cetak buku, tentu perlu biaya, 3% per 12. Sangat murah dan wajar. Kalau bunga, nanti tidak wakaf lagi. Syukur-syukur kalau misalnya dipakai untuk kegiatan usaha daripada konsumtif. Jika usahanya berkembang, maka boleh saja sampaikan tanda terima-kasih. Bonus atau hadiah itu. Bahkan bisa saja nilainya lebih tinggi daripada bunga. Karena syukurnya itu. Itu Islami. Tapi tidak diminta,” ujar Dr. Mustafa Edwin Nasution, Pendiri & Anggota Dewan Pakar Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI), Ketua IAEI 2003-2007, 2007-2011. 

Dr. Mustafa Edwin Nasution juga menambahkan bahwa sistem keuangan perbankan konvensional berbeda dengan sistem keuangan bank wakaf. Karena  bank-bank didirikan sebagai perantara (intermediaries) dari pemilik dana surplus ke sektor atau orang yang membutuhkan dana dengan bunga untuk mencari untung atau laba.

“Bank wakaf  adalah donasi. Misalkan ada dana Rp 4-10 M; separuhnya dipinjamkan atau disalurkan kepada yang membutuhkan; separuhnya lagi didepositokan di bank syariah untuk membiayai operasi. Jadi, yang membutuhkan itu berbeda. Sedang di bank umum, ada unsur uang nitip dan mengambil untung. Bank Wakaf tidak mengambil untung. Ada orang yang memberi uang donasi, bukan mengambil untung, karena semua dana itu diwakafkan” papar Dr. Mustafa Edwin Nasution, Anggota Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syari’ah (MES).

Untuk mengembangkan Bank Wakaf Mikro sebagai model pembiayaan tanpa bunga atau hanya bunga 3%, mengatasi ketimpangan sosial dan mengatasi kemiskinan dan pengangguran di Negara RI, Dr. Mustafa Edwin Nasution, menyarankan perlunya edukasi dan sosialisasi Bank Wakaf Mikro. “Pengaruh sistem keuangan ini (LKMS) masih kecil dan masih baru. Peran Bank syariah baru berkisar 5-5,3% dalam sistem perekonomian nasional. Tantangannya ialah faktor modal, faktor skill, dan faktor dunianya lebih mahal. Solusi dan rekomendasinya, ada ada 3 hal yang perlu dipersiapkan yakni kelembagaan, sumber pendanaan atau donasinya dan user-nya harus dididik. Dari sini diharapkan Bank Wakaf dapat mulai berkembang,” papar Dr. Mustafa Edwin Nasution.

Dr. Mustafa Edwin Nasution menambahkan bahwa Bank Wakaf perlu disosialisasikan sebagai sumber pendanaan murah dengan spesialisasi dan sarana pendidikan. “Pertama, Bank Wakaf ini harus disosialisasikan sebagai model Bank Wakaf di dunia dan sumber pendanaan murah. Kedua, spesialisasi harus dikembangkan sendiri-sendiri. Bank Wakaf dapat meniru BRI yang melayani sampai ke pelosok-pelosok. Maka harus memahami karakteristik para nasabah di situ. Ketiga, umat perlu dididik. Jangan suka tipu sana-sini,” ujar Dr. Mustafa Edwin Nasution. 

Oleh : Eko Budi Raharta

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita