• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Tiga Skenario AIIB Masuk Asia Pasifik

Senin pagi (12/3/2018) di Istana Kepresidenan  Bogor (Jawa Barat), Presiden RI Joko Widodo menerima delegasi Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB). “Proyek MRT Jakarta diluncurkan saat saya menjadi Gubernur Jakarta. Saya juga memulai karier saya di bidang politik sebagai Wali Kota Solo. Jadi, saya sangat senang melihat jadwal Anda Minggu yang akan mengunjungi kedua tempat tersebut,” papar Presiden RI Joko Widodo kepada delegasi AIIB, Senin, 12 Maret 2018 di Istana Kepresidenan  Bogor (Jawa Barat) (PresidenRI.go.id, 12/3/2018; Setkab RI, 12/3/2018).

Menurut Ketua Delegasi AIIB, Christopher Legg, AIIB sedang mendanai tiga proyek infrastruktur di Negara RI dari total 20 proyek infrastruktur yang didanai oleh AIIB di berbagai negara selama kira-kira 2 (dua) tahun terakhir. Data Kementerian Keuangan (2018) menyebutkan bahwa AIIB mengucurkan pinjaman untuk pembangunan 12 proyek infrastruktur skala besar di Asia. Tiga di antaranya termasuk proyek infrastruktur di Negara RI yaitu Peningkatan Permukiman Kumuh Nasional (dana pinjaman dari AIIB sebesar  216,5 juta dolar AS), Proyek Dana Pembangunan Infrastruktur Daerah dan Proyek Perbaikan dan Keselamatan Operational Damage Tahap II (AN, 12/3/2018).

Menurut Nuzul Achjar, Ph.D, sejak berakhirnya Perang Dunia, beberapa lembaga dana dunia memang menyediakan pasokan dana di berbagai negara umumnya, namun dengan kepentingan tertentu seperti pasokan keahlian, teknologi, peralatan, bahan baku, hingga hegemoni pasar.

“Masa Perang Dunia II, di Eropa didirikan International Bank for Reconstruction and Development (IBRD) tahun 1944 dan berkantor di Washington, DC, Amerika Serikat (AS) untuk mendanai rekonstruksi Eropa pasca Perang Dunia II. AS ingin menguasai pasar, expertise, dan engineering zona Eropa. Bedanya dengan lembaga dana asal Jepang ialah suku bunganya sekian persen di bawah LIBOR (London Interbank Offered Rate), tetapi pasokan besinya dari Jepang. Dirut Asian Development Bank (ADB) yang berkantor pusat di Manila, Filipina, dan bergerak di bidang pasokan dana pinjaman sektor infrastruktur, selalu berasal dari Jepang. Sedangkan IDB (Islamic Development Bank) berasal dari Saudi Arabia. Jadi, lembaga dana tidak semata-mata menyediakan pinjaman uang,” papar Nuzul Achjar, Ph.D, alumnus S2 (thesis master) bidang geografi dan studi wilayah pada University of Illinois, UIUC (Amerika Serikat) kepada Staging-Point.com, Senin (19/3/2018) di lantai 2, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (FEB-UI), Depok, Jawa Barat.

Dalam kerangka strategi Jalur Sutera (Silk Road / yi dai yi lu) Tiongkok, menurut Nuzul Achjar, Ph.D, konsep, manajemen, kebijakan, dan pendanaan infrastruktur melalui AIIB tetap berasal dari Tiongkok. “Dalam konstelasi politik sekarang, Tiongkok ingin menguasai Asia. Selain financing, ahli dan bahan-bahan dari AIIB. Maka arahnya ialah hegemoni secara perlahan masuk dari Asia Pasifik, berawal dari Srilangka, Vietnam, Kamboja, kemudian Negara RI. Memang tidak disebut secara terang-terangan Tiongkok di sini. Tetapi, arahnya ialah penguasaan hegemoni ekonomi,” ujar Nuzul Achjar, Ph.D.

Nuzul Achjar, Ph.D, menambahkan ada 3 (tiga) skenario aliran pinjaman dana melalui AIIB yakni pinjaman komersial, pasokan ahli, atau hegemoni ekonomi-politik. “Dalam perdebatan tentang Silk Road, muncul 3 pandangan yaitu pertama, Tiongkok memiliki dana dan menyalurkan pinjaman komersial melalui bank AIIB; kedua, pasokan keahlian yang berisiko hegemoni politik; ketiga, hegemoni ekonomi-politik. AIIB bagian dari hal ini yakni Tiongkok ingin memperkuat hegemoni dengan memakai sarana fasilitas keuangan perbankan,” ungkap Nuzul Achjar, Ph.D.

Ketika menerima delegasi AIIB di Istana Kepresidenan Bogor, Senin (12/3/2018), Presiden RI Joko Widodo didampingi oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung. “Indonesia adalah salah satu negara pertama di dunia, yang mendukung sepenuhnya gagasan AIIB. Salah satu tindakan saya yang pertama saat menjadi Presiden Indonesia pada tahun 2014 adalah untuk menyatakan dukungan penuh dan niat serius untuk bergabung dengan AIIB,” ujar Presiden RI Joko Widodo saat menerima delegasi AIIB di Istana Kepresidenan  Bogor (Jawa Barat) (PresidenRI.go.id, 12/3/2018; Setkab RI, 12/3/2018). 

Oleh Eko Budi Raharta

Penerbit


Anticipatory Democracy & Pemilu Tahun 2019

Risiko bencana skala nasional dan global kini seakan tidak peduli dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok (Chris. Rugabuer/AP, 29/10/2018) dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post, saat penjualan senjata AS ke Arab Saudi senilai 110 miliar dollar AS yang mencipta 500.000 ribu lapangan kerja di AS (Reuters, 30/1/2018). Tragedi dan ancaman bencana alam seakan tidak peduli dengan pertumbuhan ekonomi RI kuartal ke-2 tahun 2018 mencapai 5,27% per tahun (Reuters, 6/8/2018) atau lonjakan ekspor minyak sawit dari Negara RI sebesar 4,25 juta ton pada September dari 4,01 juta ton pada Agustus 2018 (Bernadette Christina Munthe/Reuters 19/10.2018). Begitu pula inflasi Negara RI sekitar 2,88% pada Juni 2018 dan 3,23% pada Mei 2018 (Reuters, 29/6/2018) dan defisit perdagangan RI menurun karena ekspor bat ubara September 2018 (Reuters, 12/10/2018). ... Baca selanjutnya

img

Jurnal

Berita